Menggunjingkan Rihôn Bersama Diyus Hanafi dan Dian Guci

in Indonesia2 months ago

Rihon bedah.jpeg

Kadang-kadang, kita hanya perlu alasan untuk bertemu.

Alih-alih memilih kata "bedah buku", kami di Perempuan Peduli Leuser justru memilih kata "bergunjing" untuk alasan ini. Istilah bedah buku terlalu formal, dan di acara formal orang-orang lebih suka membicarakan yang formal-formal pula: tak berani mengkritik berlebihan, takut sang empunya buku merajuk, eh, padahal yang dibedah kan bukunya, bukan penulisnya?

Kata gunjingan barangkali akan terdengar tidak nyaman atau berkonotasi negatif bagi sebagian orang, tetapi saat bergunjing orang cenderung akan mengulik habis sisi negatifnya. Ibarat istilah anak-anak gaul sekarang, sejatinya hatermu adalah lovermu. Dan ketika yang dikulik itu adalah sebuah buku--yang notabenenya adalah sebuah benda tak berperasaan--itu akan sangat baik untuk memperbaiki karya-karya di masa mendatang. Semoga pula, adiknya Rihon yang sedang saya kandung sekarang cepat lahir.

Terima kasih untuk Kak Dian Guci dan Bang Diyus Hanafi yang telah bersedia menjadi penggunjing. Saya tak berani membayangkan akan seperti apa pedasnya mulut mereka nanti. Dan untuk Hayatullah Pasee yang sudah mendesai dengan sangat manis, saya selalu suka dengan desai-desainnya.

Yang ingin mendaftar bisa mengontak Yell Saints, tetapi ini hanya terbatas untuk 15 orang saja. Menggunjing kalau sudah kelewat ramai tak akan maksimal. Itu sebabnya kami membatasi demi suatu alasan untuk si virus bermahkota yang belum juga beranjak dari negeri tercinta.

Terima kasih untuk Koordinator PPL Ayu Ulya yang telah mengizinkan kami bergunjing dengan gembira.[]