Ngantar dan Nemanin Ratu ke Ciseeng, Bogor

in Indonesia2 months ago (edited)


image.png
Ada yang sangat serius membaca papan informasi tentang Bocca Tranvertine di Taman Sayaga, Ciseeng, Bogor. Setelah ngomel-ngomel sendiri, berhenti karena puas melakukan eksplorasi.


Saleum Steemians Indonesia

Kamis Pagi, 10 Juni 2021, setelah diskusi panjang selama dua hari tentang jadi tidaknya berangkat melakukan penjelajahan demi sebuah postingan untuk kontes yang hendak diikutinya, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat pagi menuju Ciseeng, Kabupaten Bogor, yang jaraknya hanya satu jam perjalanan naik motor dari kediaman kami di Pamulang, Tangsel. Sebelumnya, sudah membekali diri dengan sejumlah bacaan tentang lokasi tujuan disertai beberapa ingatan dari cerita tetangga yang sering ke sana dengan keluarganya. Kalau bukan karena mengantar Sang Ratu, saya mungkin tidak akan pernah pergi ke sana sendirian juga.


Melewati Pasar Parung yang pagi ini tidak terlalu padat, laju sepeda motor dengan kecepatan 20-40km/jam membelah parung menuju Jalan Raya Ciseeng dan nyaris 2 kilometer melenceng dari tujuan karena tidak langsung menggunakan Google Map. Ada banyak sekali kolam pemandian air panas di Ciseeng ini, entah bagaimana ceritanya Cici menentukan bahwa kami akan menuju Taman Sanita di Desa Bojong Indah. Dengan bantuan Google Map pula, beberapa menit kemudian kami tiba di tujuan. Hanya saja, saat melihat lokasi, Cici jadi ragu karena tidak melihat Danau pemandian yang luas seperti di foto-foto dalam artikel, hahahaha. Akhirnya setelah membuang ragu, kami dituntun untuk parkir motor di tempat pertama yang kami temui di sebelah kiri jalan masuk. Bayar parkir 2 Steem (10ribu), meski mau ngomel, cici tetap mengeluarkan isi dompetnya.

Berbeda dengan kebiasaannya yang lebih suka bertanya dahulu baru melakukan penjelajahan, kali ini dia langsung masuk saja tanpa periksa dan membayar tiket masuk sebesar 3 steem (15ribu)/kepala. Bisa jadi karena tempat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dia jadi penasaran seperti apa pengelolaannya.


Di Pintu Gerbang masuk ke Taman Wisata Gunung Panjang Tumaritis, kita akan bertemu petugas yang siap membasahi tangan anda dengan hand sanitizer yang tidak wangi. Kita akan disambut oleh Kolam berisi ikan yang dikenal sebagai tempat orang merendam kakinya dan membiarkan ikan-ikan menggelitiki sampai puas. Jangan salah! meskipun di tiketnya tertulis All in, untuk merendam kaki di kolam ikan itu, anda harus bayar 15ribu/jam. Bayarnya di Warung dekat pintu masuk yang juga menyediakan serbuk belerang untuk anda gunakan saat mandi atau bawa pulang (per-bungkus 5 ribu).
Kalau berjalan lurus, kita disambut puluhan anak tangga menuju kolam pemandian.

Jalan saja terus, kami disambut saung dan seorang petugas yang siap merobek tiket masuk anda. jalan terus dan disinilah dimulai omelan Sang Ratu, hahahaha.


20130108_175949.jpg
sepertinya kolam ini baru ada, setelah lokasi ini dijadikan Bumdes, lokasinya paling bawah. Dari Artikel yang terbit 2 tahun lalu, sebelum pandemi Covid-19, baru ada 2 kolam saja.

Saat dia mencelupkan jari ke dalam kolam yang keruh itu, rasanya dingin. Ketika dia tanya kenapa airnya ngga bau belerang, saya tidak tahu mau jawab apa. Ada 3 tingkatan kolam, yang pertama sedang ada 2 laki-laki mandi beserta anaknya sambil ditungguin beberapa ibu-ibu. Cici tidak berani ambil gambar dan tidak berani pula mencelupkan tangannya. Sepertinya cuma kolam itu yang airnya hangat. Kolam kedua dibuat tepat dibawah gundukan batu kapur/gamping yang fotonya banyak kita temui dalam artikel tentang tempat ini.


saya tidak memasukkan foto kolam kedua karena sudah dipakai Cici dalam postingannya tentang Bocca Travertine dan saya terlambat mengeluarkan HP, karena menunggu perintah dari Sang Ratu, hanya boleh digunakan apabila salah satu dari Hp ditangannya habis baterai, hehehehehe. ini adalah informasi yang ditempel pada dinding kamar-kamar sebelum kolam pertama, ini merupakan kamar mandi pribadi, itu tarifnya. Karena cici tidak berniat menjajal kondisinya, jadi kami tidak tahu seperti apa isi ruangan itu.



Memintanya berdiri diam saat difoto selama beberapa detik itu sungguh bukan pekerjaan mudah, karena dia masih ngomel terus, hahahaha. Cuma ada satu cara, mengajaknya menjelajah ke tempat-tempat yang lebih tinggi dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Maka kami pun meninggalkan kolam kembali ke jalan utama dalam Taman Wisata itu. Di Sebelah kanan setelah keluar dari barisan kamar mandi air panas itu, ada bukit gamping yang telah diberi undakan-undakan untuk menaikinya. Di situlah, dia mengambil foto saya memandang alam semesta yang indah ini. Belakangan saya baru tahu kalau Taman Wisata ini pernah dijadikan lokasi Syuting Film Panji Tengkorak dan Saras 08. Persisnya saya tidak tahu karena tidak pernah nonton, hahaha.

Setelah mengambil beberapa foto lagi, lalu turun dari bukit, kami duduk sejenak dan mengeluarkan botol minum yang dibawa cici dalam ranselnya. Saya tidak mengambil ransel dari punggungnya, karena itu salah satu cara untuk menahan omelannya juga. Awalnya dia ingin merasakan sensasi gelitikan ikan, tapi ketika harus membayar 15 ribu lagi, dia urungkan niatnya dan mengajak saya menjelajah lokasi lain yang berada di seberang Taman Wisata Gunung Panjang Tumaritis, yang kelihatan lebih keren karena memang dikelola oleh swasta/pribadi, Taman Sayaga. Alhamdulillah, meski harus membayar 15 ribu/ kepala untuk masuk saja, kali ini Cici kelihatan lebih optimis.


Jelas sekali karena lokasinya lebih rapi, banyak objek foto dan hanya kami berdua pengunjung pada pagi itu. Apalagi ketika kami melihat gundukan putih dari kejauhan. Kali ini, Cici berhenti hampir di setiap tempat. Mulai dari Taman bermain anak yang menyediakan permainan, Bombom car, Kereta Api dan Helikopter. Musti ambil foto karena mau dipamerkan kepada para keponakan yang sudah lama tidak dibawa ke Taman Bermain selama pandemi. ini adalah tipe tempat yang sangat disukai Cici. Ada banyak bunga yang bisa dipotret, ada banyak undakan dan jalan setapak yang bersih, ada banyak pohon-pohon besar dengan segala keunikannya dan lokasi yang tinggi untuk mengintip Taman Sanita yang sejak awal jadi incarannya. Syukurlah, setelah menjelajah hampir semua tempat kecuali kolam mandi air panas yang berada dalam bangunan-bangunan yang mengelilingi Bocca Travertine, bila bukan karena cuaca panas jelang pukul 11 siang itu, mungkin Saya akan menyerah mengikuti energinya yang meledak-ledak saking senangnya.

image.png
Tirta Sanita yang hendak dijajal sejak berangkat tadi, tampak dari salah satu bukit batu yang dulunya adalah travertine di bagian belakang Bocca Travertine utama. Tampaknya, keseluruhan 3 Taman Wisata ini awalnya adalah kepemilikan Tirta Sanita, hingga akhirnya dikelola terpisah. Oh iya, di Ujung Jalan dimana ketiga tempat ini berada ada lapangan tembak milik Zeni Tempur (lupa ngecek kesatuan mana). Tirta Sanita punya danau buatan yang dipenuhi teratai dan ada banyak permainan outbond juga penginapan murah seharga 150 ribu/malam. Kata Cici, suatu saat nanti kami akan ke sana khusus untuk bermalam dan menjajal semua kamar mandi air panas!


Kalau jalan sama Sang Ratu dan dia mulai mengeluarkan "Jeeh... Jeeeehh...Jeeeeeh!" diawal kalimatnya, maka bersiaplah kehilangan mood, hahahaha. Saya balas dengan melewatkan kesempatan mengunjungi Pasar Ikan Hias Parung yang terkenal itu. Lain kali saja kalau dia sudah bisa berhenti bilang "jeh..jeh..jeh"...

Terima Kasih sudah singgah, Sampai lain kali!

50% payout postingan ini untuk @steem.amal dan setelah ngambil begitu banyak foto, cici malah ikut kontes dengan postingan tentang Pamulang dan syukurnya dia menang juara 1

Sort:  

Lain kali saja kalau dia sudah bisa berhenti bilang "jeh..jeh..jeh"...

hehehehe, yang benar saja cint? ke Pasar Ikan Hiasnya nanti saja kalau ada kontes lagi, kita ke Cigamea dulu kaaannn... udah lama ngga lihat curug.

iyaa dah, tapi jangan begadang melulu, kan Jerman belum main.

siaap boss!