Asmara Buta dan Saya yang Bercita-cita Menjadi PenulissteemCreated with Sketch.

in Indonesia2 months ago (edited)

IMG_20210331_225456.jpg
Saya jarang menulis tentang perjalanan saya merintis karier sebagai penulis. Kali ini, saya akan membagikan beberapa catatan mengapa akhirnya saya tertarik menjadi penulis. Apa saja yang saya lakukan untuk mewujudkan cita-cita sebagai penulis, serta kendala apa yang saya hadapi. Saya tidak yakin, catatan ini menarik dibaca. Tapi, anggap saja ini sebagai arsip yang akan berguna di kemudian hari.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama tahun 1994-95, saya begitu bersemangat belajar menulis. Saya tidak ingat pasti apa yang membuat saya kemudian tertarik dengan dunia tulis-menulis. Namun, saya tahu satu hal, bahwa saat itu minat membaca saya sedang bagus-bagusnya. Ini terjadi secara tidak sengaja. Sebuah stensilan “Asmara Buta” lusuh yang beredar secara diam-diam di kalangan teman-teman sekolah, sampai ke tangan saya. Stensilan yang berisi cerita dewasa itu, saya habiskan dalam beberapa jam saja. Ini tentu sebuah prestasi menakjubkan bagi orang yang tidak menyukai bacaan.

Pengalaman tersebut menjadi titik awal yang membuat saya menyukai aktivitas membaca. Jika saya tahu nama penulis stensilan “Asmara Buta” itu, saya pasti akan berterima kasih kepadanya. Soalnya, dia sudah berhasil menghipnotis saya untuk membaca. Sampai hari ini saya terus mencari siapa gerangan penulis cerita dewasa itu, apakah dia Enny Arrow, si penulis cerita dewasa tahun 80-an? Sebuah pertanyaan yang belum saya temukan hingga hari ini.

Tapi, itu semua tidak penting. Sejak membaca “Asmara Buta”, hari-hari saya lebih sering saya habiskan untuk membaca, apa saja. Beberapa tulisan di Majalah TEMPO, seperti catatan pinggir Goenawan Muhammad, menjadi santapan sehari-hari. Cerita-cerita di Majalah Anita Cemerlang, menggoda saya untuk mulai menulis cerita. Alhasil, buku catatan sekolah milik saya segera berubah menjadi buku cerita pendek. Sayangnya, saat itu saya tidak memiliki keberanian untuk mengirimkan ke media/majalah.


Sepanjang tahun 1989-1998, Aceh terjebak dalam perang rahasia. Pemerintah Indonesia memberlakukan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh untuk menumpas gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saat itu, beberapa pemuda Aceh yang dikirim untuk mengikuti latihan militer di Libya, pulang ke Aceh. Selain menggelar ceramah tentang Aceh Merdeka, mereka juga mulai menyerang pos polisi dan militer.

Akibatnya, pemerintah pusat mengirim tentara ke Aceh, utamanya dari pasukan elit Kopassus. Suasana Aceh berubah jadi mencekam. Jam malam mulai diberlakukan. Beberapa anggota masyarakat yang dicurigai sebagai anggota GAM diculik dan dibunuh. Tidak semua korban adalah anggota GAM. Banyak anggota masyarakat yang tidak tahu apa-apa juga ikut jadi korban selama operasi militer digelar.

Hal ini terkuak setelah reformasi 1998. Selama DOM diberlakukan, ternyata, banyak anggota masyarakat menjadi korban: dibunuh, diculik, dan disiksa. Tempat penyiksaan menyebar hampir di seluruh Aceh, seperti Rumoh Gudong di Pidie, Rancong di Lhokseumawe, Cot Panglima di Bireuen dan banyak lagi. Hampir setiap hari muncul berita orang hilang dan korban meninggal di media.

Apa yang terjadi tersebut menggugah saya menulis cerita pendek atau surat pembaca di koran. Kisah berlatar konflik menjadi tema sentral cerita-cerita pendek yang saya tulis. Dengan mesin tik pinjaman, saya mulai menulis cerita pendek. Cerita ini kemudian saya kirimkan ke koran Waspada Medan. Saya ingat ada beberapa cerita saya yang dimuat oleh koran terbesar di Pulau Sumatera itu, seperti Potret Tua, Parjo dan Kamp Konsentrasi?. Saya juga menulis puisi yang juga dimuat di koran tersebut setiap hari minggu.

Saat itu saya sama sekali tidak memikirkan soal honor tulisan. Cerita pendek saya masuk koran saja sudah membuat saya. Bayangkan, saat tulisan saya tersebut dimuat di koran, saya masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas.


Saat duduk di bangku kuliah tahun 2000, saya sudah mulai berani menulis artikel serius bertema perdamaian, dan mengirimkan ke koran. Saya ingat, saat masih duduk di bangku sekolah, saya pernah bercita-cita menjadi penulis opini di koran Serambi Indonesia. Dan, impian tersebut menjadi kenyataan. Semester dua kuliah, tulisan saya untuk pertama kalinya dimuat di rubrik opini Serambi Indonesia, sebuah koran terbesar di Aceh. Judulnya Puasa dari Nafsu Jahat. Saat itu, untuk satu tulisan yang dimuat, penulis akan mendapatkan honor sebesar Rp50 ribu. Jumlah tersebut cukup untuk mentraktir kawan-kawan makan bakso.

Setelah tulisan tersebut muncul di koran, saya semakin rajin menulis. Ada hal-hal yang membuat saya bangga, misalnya, tulisan yang saya tulis bersanding dengan tulisan para dosen bergelar Doktor. Saat itu (tahun 2000-2002), tidak banyak mahasiswa yang mampu menembus ketatnya seleksi redaktur rubrik opini. Saya beruntung menjadi satu dari sedikit mahasiswa yang tulisannya dimuat di koran.

Selama kuliah, saya juga aktif sebagai seorang aktivis. Hal ini mendorong saya untuk lebih peka dengan penderitaan masyarakat. Ini pula yang membuat saya semakin produktif menulis, untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.


Pada Mei 2003, pemerintah pusat memberlakukan Darurat Militer (DM) di seluruh Aceh. Ini buntut dari kegagalan Tokyo Meeting antara pemerintah dan GAM. Upaya-upaya perdamaian mulai tertutup, dan militer sudah bersiap-siap menggempur GAM. Para aktivis yang selama ini bersimpati pada perjuangan GAM tidak luput dari incaran aparat keamanan. Beberapa aktivis ditangkap, dibunuh dan diburu.

Kondisi yang tidak menentu ini memaksa saya untuk meninggalkan Aceh pada awal Juli 2003. Saya terpaksa keluar Aceh setelah menjadi target operasi dan permohonan pembuatan KTP Merah Putih saya ditolak. Sebagai informasi, ketika DM diberlakukan, penguasa darurat militer daerah (PDMD) memberlakukan kebijakan KTP Merah Putih untuk masyarakat Aceh. KTP Merah Putih ini dimaksudkan untuk memisahkan masyarakat dengan GAM. Saya keluar dari Aceh dua hari sebelum kebijakan ini diberlakukan secara resmi.

Di Jakarta, saya mulai kembali belajar menulis, misalnya dengan mengikuti pelatihan menulis. Minat membaca saya juga mulai meningkat. Apalagi, selama di Jakarta, tempat kos saya berdekatan dengan kos teman yang juga seorang penulis. Setiap hari saya bermain ke kosnya dan membaca buku koleksinya. Saya juga mulai mencoba-coba menulis untuk koran nasional seperti Kompas dan Koran Tempo. Namun, saat itu belum ada tulisan saya yang dimuat.

Selama di Jakarta pula, saya mulai berkenalan dengan platform blogging Multiply (kini sudah tutup). Saya mencoba membuat blog di platform tersebut dan mulai rajin memposting tulisan. Multiply menjadi medium bagi saya untuk berlatih menulis dan belajar hal-hal baru seperti blogging. Soalnya, ketika itu Google mengakuisisi Blogger, layanan blog gratis. Dan, saya pun ikut-ikutan membuat blog di platform baru ini.

Selain menulis di blog, saya juga mulai mengirim tulisan ke acehkita.com, sebuah media online yang dibangun oleh sejumlah jurnalis untuk menyuarakan apa yang sedang terjadi di Aceh. Di media online ini saya banyak menulis tulisan bertema perdamaian. Itu menjadi salah satu cara bagi saya untuk mendorong penyelesaian Aceh secara damai. Rupanya, untuk setipa tulisan yang dimuat ada honornya. Saya ingat, honor untuk satu tulisan yang dimuat sebesar Rp250 ribu. Ini honor yang lumayan besar saat itu (tahun 2003-2004). [Mungkin bakal ada sambungannya]

Sort:  

Selamat menjalan Saum Ramadhan. Semoga di bulan penuh berkah ini kita mendapatkan pahala yang melimpah.

Selamat menjalankan ibadah puasa juga untuk pak Satria.

Patah tiang gon di-upvote.

Hanlot kupiah

Asli, @akbarrafs
Bang taufik tanyo memang top. Hana daya le geu komen. Kabeh batre.

Suah pajoh kanji Rumbi

Ku kalon ata droe divote meunan cit. Nyoe ka semangat teuh lom haha...