You are viewing a single comment's thread from:

RE: Mengabaikan

in Freewriters2 years ago

Beda orang, beda selera itu jawaban dari pernyataan saya bahwa tulisan yang bagus itu akan mencari Kuratornya sendiri.

Beberapa SEC dan kontes berusaha untuk mengembangkan Q & A dengan mengutamakan pengalaman penulis terhadap topik kontes. Namun bagi saya tetap susah untuk memisahkan pengalaman berdasarkan google dengan pengalaman pribadi.

Terkait dengan para komentator yang mengikuti kontes anda, beberapa dari mereka memiliki kesamaan pendapat dengan saya. Tema kontes harus dipaksa untuk berpikir kreatif, independen tanpa batas. Walaupun keterlibatan peserta akan lebih sedikit.

Terkait dengan serigala itu juga menjadi fokus saya, bagaimana saya harus menanamkan pelajaran penting itu bagi keluarga dan siswa saya. Terutama kepada siswa yang sangat "tiktokers".

Selain itu saya juga mengkampanyekan kepada siswa untuk berani berbeda pendapat, termasuk dengan guru sekalipun. Sehingga pikiran itu akan terasah dengan pikiran yang berbeda.

Sort:  
 2 years ago 

Lucu. Anda berbicara tentang TikTok dan bagi kami drama linguistik dimulai ketika bahasa Amerika mulai digunakan dan kemudian bahasa SMS. Tidak ada kata normal yang ditulis lagi. Saya terus dengan patuh menuliskan setiap kata.

Apa yang saya rindukan dari sekolah-sekolah saat ini (selama 40 tahun terakhir) adalah pemiskinan bahasa. Hampir tidak ada lagi anak yang mengetahui peribahasa dan ucapan. Kata-kata Belanda untuk kata bahasa Inggris juga tidak mereka gunakan dan jika dikaitkan dengan bahasa Inggris, kata tersebut sangat buruk dan kata tersebut bahkan tidak dikenali. Pendidikan menurun dengan cepat. Kami sekarang memiliki 5 sistem sehingga setiap orang idiot dapat lulus meskipun dia tidak mengetahui alfabet dan tidak dapat mengeja atau membaca dengan benar. Menariknya, figur seperti ini masih berhasil. Pihak sekolah ingin menghilangkannya. Kini kemiskinan bahasa semakin parah karena para guru, yang tidak berpendidikan tinggi, merasa kesulitan untuk mengajar membaca dan menulis kepada semua orang asing.
Saya ingin tahu negara mana di dunia yang akan mengubah bahasanya untuk saya sehingga saya memiliki waktu yang lebih mudah. Meskipun... tidak memahami apa pun dan tidak harus berkomunikasi sangatlah mudah dan Google masih ada. Siapa yang butuh sekolah setelah 2 tahun "membaca dan menulis"?

Saya rasa akan sulit membujuk mereka yang tidak mau belajar seni menulis. Meskipun buku harian adalah milikku yang bagus dan banyak yang bahkan tidak memiliki banyak teks. Beberapa gambar dan beberapa slogan longgar dan ada seri buku terlaris lainnya.

Kalau soal lomba, memang akan sulit mencari peserta yang kreatif dan bisa melakukan sesuatu dengan satu kata. Saya telah memperhatikan hal itu sekarang. Sudah menjadi kebiasaan untuk bekerja melalui aturan Steemit (siapa pun itu) dan saya telah memperhatikan kebingungan selama berbulan-bulan ketika seseorang bertanya kepada saya mengapa saya menulis sesuatu yang berbeda atau bahkan membatalkannya dan mengatakan bahwa saya melakukannya dengan salah. Salah? Itu mengingatkan saya pada esai yang sangat membosankan di sekolah dasar. Saya sangat membencinya dan tidak bisa menuliskan surat itu di atas kertas. Buku harianku juga tetap kosong.

Mungkin lebih baik mulai menggambar dulu, kata-katanya mungkin muncul nanti atau tidak. Tidak masalah jika semuanya kreatif.

Kelemahan siswa terhadap literasi itu bermula dari pemahaman kosa kata. Bahkan arti kata cukai saja mereka tak paham walapun mereka berada di jurusan akuntansi. Itu yang saya jumpai hari ini, sangat menyedihkan. Belum lagi keterampilan bertanya yang sangat rendah. Semua pertanyaan yang mereka buat sama persis seperti yang ada di buku pelajaran.

Apalagi kata yang berasal dari serapan bahasa Belanda, mungkin dianggap itu bahasa daerah. Saya percaya jawaban nya ada pada membaca, masalahnya Pustaka juga sepi dari pengunjung, kapan siswa tersebut punya minat membaca seperti generasi masa lalu?

 2 years ago 

Bukankah sekolah mewajibkan membaca? Di sekolah dasar, tingkat membaca dan pendidikan yang lebih tinggi adalah membaca buku, jatah buku dan pemahaman membaca juga dikerjakan. Itu adalah komponen ujian akhir, namun angka buta huruf terus meningkat. Membaca surat juga sulit. Mungkin pemuda yang bodoh cocok untuk masa depan? Bodoh bisa dibodohi dengan apa saja.

Bukan tidak bisa membaca tapi minat baca buku, koran dan majalah yang sangat kurang.

 2 years ago 

Kebetulan saya suka menonton serial-serial di Netflix. Dan saya temukan dalam serial-serial yang berlatar belakang sekolah menengah, siswa-siswa diharuskan membaca novel-novel tertentu yang menjadi bagian dari kurikulum dan mempengaruhi nilai mereka. Novel-novel tersebut mungkin terlihat seperti tidak mendidik tetapi saya yakin itu menanamkan nilai-nilai yang baik kepada para pembaca terutama siswa, khususnya dalam hal meningkatkan kecerdasan mereka. Sewaktu di SMP dulu, perpustakaan kami juga diisi oleh banyak novel terutama novel-novel dari penulis dalam negeri dari angkatan baru dan lama, tapi yang lebih populer tentu saja yang beredar di kalangan siswa dan tidak ada di perpustakaan.

"Pertanyaan yang mereka bikin persis seperti di buku." Itu mungkin karena mereka membaca bukan untuk mengerti. Karena hanya orang-orang yang mengertilah yang akan datang dengan lebih banyak pertanyaan dibandingkan orang-orang yang tidak mengerti apalagi yang masa bodoh. Bisa saja karena bersekolah adalah kewajiban dan bukan kebutuhan.

Fiksi sangat membantu kreativitas dan meningkatkan imajinasi siswa. Hanya masalahnya berapa banyak siswa yang baca buku fiksi di pustaka dan jam berkunjung ke pustaka sekolah juga terbatas karena diisi jam pembelajaran.

Sebenarnya pustaka sangat mungkin sebagai fasilitas belajar, hanya saja sekolah belum mengoptimalkan itu dan para guru juga belum mendorong hal tersebut.

 2 years ago 

Mungkin di sana letak perbedaannya, dalam sistem pendidikan barat (setidaknya apa yang bisa saya tangkap dari serial-serial yang saya tonton), membaca dan menyimpulkan fiksi (terpilih dan ditentukan oleh sekolah) masuk ke dalam kurikulum.

Saya tertarik dengan salah satu komentar @wakeupkitty.pal tadi, "Mungkinkah karena anak-anak yang bodoh berguna bagi masa depan? Orang-orang bodoh mudah dikendalikan." Saya sudah lama menyimpan kecurigaan semacam ini, bahwa -disengaja atau tidak- kebodohan memang dilestarikan secara sistematis justru melalui lembaga pendidikan, salah satunya dengan memberikan peserta didik begitu banyak beban yang sebenarnya justru tidak perlu, sehingga energi tersedot ke sana dan kreatifitas menjadi mati, dan mereka akhirnya hanya menjadi robot-robot yang seragam yang kalau disuruh bikin pertanyaan, ya tinggal contek pertanyaan di buku.

Saya tidak bilang bahwa hal tersebut dilakukan oleh pendidik semisalnya Pak Guru @fadthalib. Saya justru melihat Pak Guru @fadthalib memiliki semangat yang sangat berbeda. Saya melihat bahwa Pak Guru fadthalib menyadari ada masalah itu. Tapi tetap Pak Guru dan para guru lain yang memiliki idealisme serupa, juga -maaf- hanya lah instrumen di dalam sebuah sistem pendidikan yang sangat besar, di mana masalah sangat mungkin bermula dari mana saja. Dan saya juga menyimpan keyakinan mendalam, bahwa Pak Guru fadthalib akan melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk sedikit mengobati masalah ini. Doa saya Anda mendapat kekuatan dan ketetapan hati yang luar biasa.

Saya bahkan melihat keanehan dimulai dari kewajiban memakai baju yang sama, seakan setiap peserta didik harus menjadi pribadi-pribadi yang seragam, yang keseragamannya ditentukan oleh sistem pendidikan itu sendiri, mereka tidak boleh lagi menjadi diri mereka dan menunjukkannya. "Perbedaan adalah terlarang".

Beberapa tahun lalu saya pernah baca artikel, di Israel, peserta didik didorong untuk bisa menghasilkan duit dengan kreatifitasnya. Jadi dalam suatu periode pendidikan tertentu mereka harus membuat laporan tentang usaha mereka dan berapa yang berhasil mereka kumpulkan. Mereka bisa jadi pelukis dan menjual lukisan jika mereka belajar seni lukis, misalnya. Atau jika mereka mempelajari komputer mereka bisa menciptakan aplikasi komputer sederhana semisal Elon Musk yang sudah berhasil menjual game pertamanya dan menjadi kaya sejak masih bocah. Mereka bisa berkelompok. Ini bukan sekedar mendapatkan nilai baik dan uang, tetapi juga banyakj aspek: kemampuan berorganisasi, kemampuan melakukan perencanaan dan mengeksekusinya, kreatifitas berbisnis, merencanakan pengeluaran dan pendapatan, dan sebagainya. Bagaimana ini bisa dilakukan? Ya jika saja beban yang tidak perlu tadi dihapus sehingga mereka punya waktu untuk hal-hal semacam ini.

Contoh lain, saya pernah baca artikel juga, bahwa di Finlandia, sekolah cuma 3 jam dan tanpa PR, dan menjadi salah satu negara dengan mutu siswa terbaik. Artikel menarik: https://bangka.tribunnews.com/2017/06/15/di-negara-ini-waktu-belajar-hanya-3-jam-tak-ada-pr-dan-ujian-tapi-terbaik-di-dunia?page=all

Sebenarnya di SMK juga seperti itu konsepnya karena salah satu tujuan utamanya adalah wirausaha, bukan melanjutkan kuliah. Kesuksesan SMK itu dilihat dari serapan alumni di dunia kerja. Hanya saja pengelolaan SMK yang belum banyak inovasi. Pemerintah pusat sudah banyak memberikan bantuan peralatan yang harganya sampai ratusan juta.

Namun itu semua belum bisa membuat siswa SMK mempunyai penghasilan selama dia sekolah. Finlandia itu menjadi no. 1 dibidang pendidikan selain faktor beban tugas dan mata pelajaran yang sedikit juga karena rasio guru dan murid itu 1:12. Sehingga sang guru paham betul karakter dan kompetensi siswa nya.

 2 years ago 

Mungkin pemuda yang bodoh cocok untuk masa depan? Bodoh bisa dibodohi dengan apa saja.

You are rebellious cat. But I love the way you are. I am a MOuSE but I bet we can walk side by side.

Are you a rebellious mouse or an easy one to catch? I do believe we can walk together. Don't worry I won't eat you.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.074
BTC 63428.74
ETH 1670.39
USDT 1.00
SBD 0.41