Berburu Babi Hutan
Jumlah yang sedikit dimaksudkan untuk tetap menjaga keheningan, agar babi hutan tidak menyadari kedatangan para pemburu. Setiap tim berpencar menyisir titik-titik keberadaan jejak. Hutan tropis nan lembab menjadi habitat alami babi hutan bersarang.
Karakter pepohonan khas hutan, dan lebatnya alang-alang, menjadi surga bagi mereka bersembunyi. Masyarakat suku Koroai Batu meyakini, hutan merupakan tempat tinggal roh leluhur yang turut menjaga seluruh tumbuhan dan hewan. Menjaga kelestariannya tentu berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Waktu berburu biasanya dilakukan siang hari menjelang sore. Mereka meyakini bahwa hutan diwaktu seperti itu belum terlalu liar pergerakannya. Hal ini mengacu pada sifat babi hutan yang nokturnal. Hewan babi hutan memang aktif mencari sumber makanan di malam hari. Saat ada tanda-tanda gerakan dari babi hutan, saat seperti ini dibutuhkan langkah yang sangat hati-hati penuh perhitungan, agar babi tak menyadari kehadiran pemburu. Ketika satu anak panah telah mengenai tubuh babi hutan, yang lain harus bergegas menutup akses babi hutan untuk kabur.
Aduhh, nah ini untuk masyarakat disini adalah berkah. Karena dari tadi memang nyari babi hutan itu berburu susah sekali, tapi sekali dapat ya ini adalah berkahnya mereka
Tarian penyambutan mengiringi kedatangan pemburu. Inilah suka cita yang dibalut dalam bentuk syukur. Gelar tarian yang dipersembahkan untuk penguasa alam leluhur mereka. Nah, babi hasil buruan akan dibakar dan dimakan bersama-sama.
Salam kompak selalu.
By @midiagam