Makam Poe Teumeureuhom
7 hari bulan Ra’jab 913 Hijriah, kala itu rakyat Negeri Daya dirundung duka. Bagaimana tidak, seorang Raja Agung penguasa Negeri Daya, Sultan Alaidin Ri'ayat Syah wafat, meninggalkan rakyatnya di tengah kemakmuran dan kesejahteraan berkat perjuangan semasa hidupnya. Sultan Alaidin Ri'ayat Syah, atau yang dikenal juga dengan nama Poe Teumeureuhom punya jasa besar dalam sejarah kejayaan Negeri Daya, yaitu wilayah pesisir pantai barat di Lamno, Aceh Jaya. Poe Teumeureuhom hadir di tengah-tengah rakyat Negeri Daya yang pada masa itu sedang dijajah oleh kaum Portugis yang hendak menguasai rempah-rempah dan semua hasil kekayaan alam di Negeri Daya. Poe Teumeureuhom yang diutus oleh Sultan Inayat Syah, bersama 300 pasukannya beliau berhasil menumpas kekuatan kaum Portugis pada abad ke-XIV, seiring dengan keberhasilan itu berdirilah Kerajaan Negeri Daya, sebuah negeri makmur yang kuat akan ajaran Agama Islam di bawah kepemimpinan Poe Teumeureureuhom Daya.
Sejarah itu sudah lama berlalu, namun sampai saat ini jasa Poe Teumeureuhom terus dikenang oleh masyarakat setempat, setiap 10 Dzulhijjah atau di Hari Raya Qurban, warga Lamno, khususnya masyarakat wilayah pesisir pantai barat berbondong-bondong berziarah ke makam Sultan Alaidin Ri'ayat Syah. Setiap tibanya Hari Raya Haji, juga ada sebuah tradisi adat yang sampai saat ini masih dipegang teguh dan dijalankan oleh masyarakat setempat, yaitu tradisi 'Seumuleung', sebuah prosesi adat menyuapi keturunan terakhir Poe Teumereuhom dengan 'bue leukat' atau ketan dan sesajian-sesajian lainnya, yang dilaksanakan oleh ketua adat setempat, dan disaksikan oleh tamu-tamu agung mulai dari gubernur/wagub, bupati, Wali Nanggroe, para wakil rakyat, juga masyarakat setempat.
Turun-temurun, saban datangnya bulan Haji, selama 5-7 hari di Hari Raya Aidul Adha, bukit kecil Glé Kandang yang terletak di desa Glé Jong itu ramai dikunjungi oleh masyarakat Aceh yang datang dari berbagai daerah, untuk berziarah dan mengenang sosok 'Johan Pahlawan' Poe Teumeureuhom. Di bukit kecil Glé Kandang itu, bersemanyam jasad 'meutuah' Sang Penguasa Negeri Daya, Sultan Alaidin Ri'ayat Syah, Poe Teumereuhom Daya.
-Syahrial Mahyuddin (putra daerah Meureuhom Daya)
Jet cit temuleh droneh rial
Jeut chit bacut-bacut bang @denypratama bek hana sagai. Hehee
Bereh that kiraju
Ya bang, leubeh bereh lom menyoe bak uroe raya Haji neujak kunjong teumpat kamoe sigoe-goe @fauziulpa 😀
Good, tidak ad obat
Hehee, alias 'no medicine' 😀
Aceh lam seujarah