Article
Apresiasi kepada Penyair Dunia Maya
Muklis Puna
Semalam penulis terlibat diskusi panjang bersama penyair maya tentang nasib pembelajaran sastra pada tingkat sekolah. Semua penyair yang singgah diberanda saya punya perhatian serius terhadap pergulatan sastra di sekolah. Mereka hadir dengan berbagai alasan dan teori dengan latar belakang yang berbeda. Penulis merasa takjub dan kagum ternyata penyair maya lebih serius dalm mengamati sastra kita selama ini.Walaupun diantara mereka hanya berkenalan lewat akun fb, akan tetapi ketika wilayah sensitif disentuh ( sastra dan masalahnya) mereka seperti disetrum arus listrik bertegangan tinggi. Ada banyak alasan dan spekulan yang meluncur lewat ujung jari secara gesit dengan berbagai pengalaman dan referensi yang dimiliki.Dalam kekalutan penulis membatin, seandainya para penyair.maya yang rela.mengaplikasikan ilmunya tanpa pamrih seperti ini dengan cara digandeng oleh leader leader yang bersentuhan langsung dengan pemdidikan sastra kita .... Wahh luar biasa

Pertanyaan nya mengapa mereka tidak dijadikan model dalm pembelajaran sastra. Tokoh kita WS Rendra telah meletakkan pondasi pembangunan sastra pada tingkat sekolah dan universitas hampir di seluruh Indonesia. Beliau.begerilya menyebarkan virus virus sastra dalm dunia pendidikan kita.Amatan penulis dari diskusi panjang diberanda penulis ternyata sastra dan apresiasi nya lebih eksis di dunia maya. Hanya saja mereka tidak mendapat tempat dalm dunia nyata. Bahkan mereka cenderung dicap abal abal dan odong odong. Miris.... Ketika sumberdaya manusia di bidang sastra tidak dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan. Mereka tidak hanya berceloteh panjang lho.. Hampir semua punya karya dalm bentuk buku baik puisi cerpen maupun puisi.Ah...apa mau dikata konspirasi kepentingan dalam sastra kita sudah menggerogoti nilai nilai normatif dalm pembangunan bangsa. Sahabat penyair dunia maya tetap semangat !
Buktikan dengan kinerja bahwa kita mampu walupun tanpa bayaran... Bukankah sebuah keikhlasan akan menghasilkan sebuah kemenagan.. Hanya satu kalimat yang membuat kita semangat proses tak pernah mengkhianati hasil.
Suatu saat akan indah pada waktunya...
Salam sastra,...
Bagus sekali ....kata demi kata yang menjadi sebuah kalimat dan akhirnya menjadi sebuah cerita, lanjut pak @mukhlispuna
Terimakasih bu
Luar biasa bang @mukhlispuna, nyan cheetah cukop gawat jinoe, sepertinya ada yang mengendalikannya secara bebas. Sastra memang lebih eksis di dunia maya selama ini, pemerintah lebih memfokuskan hal lain yang kadang tidak bermanfaat bagi siswa dan pelajar. Semoga kedepan pihak yang berwenang lebih jeli kepada penggiat sastra di indonesia.
Betul bang padahal itu akun saya.juga.. Memang dunia sastra masih dalam mencari jati diri. Apalgi setelah kemunculan puisi tusuk konde karya sukmawati
hehehe.. tusuk kondel membuat sastra melayu kita menjadi ujian masa depan.....
Setuju semoga ke depan lebih banyak muncul pujangga yang mampu mesyiarkan agama lewat sastra
Alah. Oma Rahma kan mengeluarkan isi hatinya, perasaannya, sikapnya. Intinya, dia mau bilang, "Imanku secuil, atau malah ngga ada." Haha. Tenang aja. Menurutku, seharusnya kita malah mendoakan dia, agar dibuka pintu hatinya, bukan malah ikut-ikutan sakit kepala. Lha dia mau bilang tusuk konde lebih bagus dari jilbab, apa lantas muslimah-muslimah Indonesia semuanya otomatis menanggalkan jilbab dan negara mengharamkan jilbab? Apa karena Oma Rahma bilang kidung ibu lebih merdu dari azan (mungkin saja dia memang sering mendengar azan dari TOA cempreng), terus azan jadi hilang dari lingkungan kita? Enggak, kan? Oma Rahma dengan puisinya, kita dengan langgam kita, karena puisi dan langgam itu menjelaskan diri kita masing-masing. Haha.
Salam Konde, Pak MP.
Jangan Serius Kali.
Sobat AP puisi saya tulis sebagai puisi tandingan. Jamgan dipikir kita orang islam boleh dilecehkan begitu saja tanpa ada perlawanan ...semoga bermanfaat kapan