The blockchain was upgraded earlier today. You may experience trouble posting and transacting while the new bandwidth system stabilizes. Read more here.

About My Another School #1: Siswa Yang Memilih Keluar

in garudakita •  20 days ago

Aku tak tahu cara mendidik anak, tapi mau menceritakan saja bagaimana kejadiannya dan mengungkapkan bagaimana pendapatku tentang kejadian ini dari sisiku sebagai seorang pendidik yang islami.

Sekolah kami baru saja tidak menaikkan kelas seorang siswa. Biar mudah kita sebut saja namanya Diyus. Dia adalah anak ke 6 dari 3 bersaudara, Heh? Pokoknya anak bapak yang datang ke sekolah meminta anaknya naik kelas tadi ada banyak.



Sebab tidak naik kelasnya Diyus ini karena dia tidak datang 70% selama semester lalu, malas melandanya dan merupakan penyakit akut yang menempel padanya. Setelah penelitian beribu tahun sejak profesor dari zaman purba, malas belum ditemukan obatnya.

Telisik punya telisik, malasnya Diyus adalah karena kurangnya perhatian dari papanya. Sang Papa dengan wajah mirip Singham, adalah penduduk ber-KTP Riau. Sedangkan juga ibu juga disana mereka bersua, bekerja sedangkan anaknya disini.

Memang saya belum menikah dan belum punya anak. Tapi menurut penelitian dan pengalaman selama hidup, anak itu apalagi usia sekolah, sangat membutuhkan kasih sayang orangtuanya. Dari kecil yang diperlukan anak-anak adalah waktu yang dihabiskan bersama orangtua. Jauh dengan orang tua dari kecil, menyebabkan anak-anak kurang cinta pada orangtuanya.
Orangtuaku tak sanggup mengaturku, aku tak mau ngaji dan suka keluar tanpa izin. Makanya aku di penjara di pesatren selama 6 tahun, sejak usia SMP dan SMU, karena pesantren dan temannya banyak yang sholeh, aku sedikit terselamatkan masa sekolahku.



Sekarang sudah zaman edan –padahal lagu jaman edan sudah ada dari dulu, muda-mudi di kafe-kafe masih usia sekolah sudah berlama-lama disana, dan main game juga parahnya sambil teriak kata-kata kotor. Sudah menjadi fenomena juga di usia inilah parah bocah ini mengenal rokok, bahkan ada narkoba yang dicicipkan pada remaja sekarang ini, sebagai prospek peningkatan penjualan barang haram ini kedepannya. Tanpa kontrol dari orangtua, siapa lagi yang peduli sama generasi penerus bangsa ini?
Diyus harus pergi dari sekolah hari ini. Akibat tidak ada kasih sayang “bonyoknya.” Sekolah ini memecat siswa, sebagaimana siswa juga pernah dipecat sebelumnya. Padahal sekolah ini menurut saya adalah sekolah yang paling mudah, tidak perlu pandai dan kreatif sekali, tinggal ikuti pelajarannya, ikuti segala peraturan, maka kamu akan lulus dengan mudah.

Padahal di Eropa tak boleh mentidaknaikkelaskan siswa, siswa yang kurang pandai, atau kurang akhlaknya harus di didik dengan cara yang beda. Tak bisa cara ini, harus cara itu pokonya dia bodoh salah gurunya, dan tak boleh dikeluarkan dari sekolah, ya tapi... tak tahu juga, kalau berat kali pelanggaran, ya di keluarkan juga. Sungguh paragraf yang tak konsisten!



Selain yang keluar ini, ada siswa baru cewek yang masuk ke sekolah ini. Namanya Icha kalau tak salah. Dia masuk ke sekolah ini pas saya tanya apa alasannya, orang lain menjawab “di sekolah lamanya boleh nyontek pak! Makanya dia gak pandai-pandai, jadi dia sekolah di sini, di sini yang menyontek akan dikeluarkan” katanya bersemangat.

Tugas guru dan dosen berbeda. Guru harus mendidik, menjadi suri tauladan dan memperhatikan akhlak siswa dan menegurnya kalau dia terduga beberapa kali tak masuk kelas. Dosen, kalau mahasiswanya tak masuk, ya terserah dia, gak lulus. Tapi dunia perguruan –bukan pilihan kata yang tepat- harus mengapdate tingkah laku anak pertigabulan. Kalau anak menurun minat belajarnya, harus menghadap konselor, dan ditanyakan kenapa dan akan diambil tindakan apa.

Di akhir tulisan ini, ustaz menghimbau pada jamaah sekalian, jagalah anak anda, sebelum di jaga anak orang. Yang berharga bagi si anak adalah waktu dengan orangtuanya, bukanlah uang –tapi uang berharga juga sih- Rasullullah tak pernah lupa berdiri dan mengecup kening Fatimah saat bertemu Fatimah, beliau memperlakukan Fatimah layaknya Princess. Dengan kasih sayang yang cukup, maka anak akan berakhlak baik dan patuh.

Dari Kuala Ceurape, Riazul Iqbal Melaporkan!





Posted from my blog with SteemPress : https://riodejaksiuroe.knpipidie.or.id/about-my-another-school-1-siswa-yang-memilih-keluar/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!