Siapa Bilang di Aceh Tidak Ada Bioskop? [Jelajah Silampung]

in film •  16 days ago

image

Tempat Hiburan di Aceh

Berbicara tentang hiburan di Aceh maka harus siap dengan pro dan kontra. Pemberitaan bahwa di Aceh kurang hiburan selalu saja bergulir. Buat saya pribadi yang notabene sebagai warga pendatang, memang mengakui bahwa tempat hiburan di Aceh tidak komplit beraneka ragam layaknya kota besar lainnya. Tapi tentu saja hal tersebut bukanlah ukuran kebahagiaan atau kemajuan suatu kota.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan adanya "penyeragaman kota", yang jika kita ke suatu kota intinya sama saja, sebutlah adanya Mall, Bioskop, Karaoke, Fast Food, Food Court dan sebagainya. Alangkah tidak serunya jika kita ke kota Surabaya, Solo, Makassar, Medan, Banjarmasin yang kita temui adalah KFC, karaoke di Inul Viesta, lalu Hypermart, Indomart, Alfamart dan sebagainya. Selain usahawan lokal bakal tergerus, pertukaran uang pun larinya lebih banyak ke luar daerah.

Saya sendiri merasa tidak kekurangan hiburan di Aceh. Pantai banyak berjejer, gunung pun demikian. Kedai serba ada milik lokal atau toko-toko pakaian lokal pun cukup. Jika lapar, kuliner lokal banyak tersedia. Lalu kemana kalau hang out? Wahhh tentu kedai kopi yang tersebar di setiap sudut Banda Aceh sudah sangatlah cukup.

Lalu bioskop? Mall yang besar? Saya sendiri nonton bioskop jika ke Medan. Sebagian kawan-kawan saya jika pergi ke Kuala Lumpur. Atau tinggal download or nonton di android. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan.

Jujur ya, sejak tinggal di Aceh saya tidak update film-film terbaru. Hobi saya nonton bioskop mau tak mau tergantikan dengan hiburan lain. Tapi bukan berarti tinggal di Aceh tidak pernah nonton ya. Setidaknya saya pernah 6 kali nonton film "ala bioskop" di Aceh. Yang pertama kali nonton film Ketika Mas Gagah Pergi di Gedung PMI Sultan Selim II, Film Indie lokal di Aula RRI Aceh, Film indie lokal di Balai Wali Kota, Film Night Bus di Taman Budaya, Film layar tancap kampung Nusa, film Aisyah, biarkan kami bersaudara, dan yang terakhir tadi malam nonton film 22 menit di Garuda Theatre. Seru juga loh ternyata. Lalu gimana sih perkembangan perbioskopan di Aceh? Berikut ulasan saya dari berbagai referensi.

Kisah Bioskop di Aceh

Menurut referensi tentang sejarah perbioskopan di Aceh, di sebutkan bahwa di tahun 1930 saja Aceh sudah punya bioskop. Wah, masa itu belum merdeka ya. Tersebutlah di Banda Aceh ada Deli Bioskop dan Rek Bioskop. Kedua bioskop inilah konon menjadi perintis adanya bioskop di Banda Aceh. Selanjutnya bermunculan bioskop di kota Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Langsa dan Sabang.

image

Source : Tiket Garuda Theatre tahun 1971

image

Tampilan tiket nonton bareng film 22 menit di Garuda theatre tadi malam 30/09/2018.

Perbioskopan di Aceh terus berjalan hingga di tahun 2002-2003 tak lagi berjalan karena konflik, ditambah lagi DOM diberlakukan di Aceh. Di tahun 2004 Tsunami melanda Aceh. Sebagian Bioskop luluh lantak. Sejak itu di Aceh tak ada lagi Bioskop.

Bioskop Garuda

Era 1960-1990 perfilman cukup marak. Tersebutlah bioskop-bioskop di Banda Aceh, yaitu Bioskop Merpati, Gajah Teatre, Bioskop Elang, Sinar Indah, Jelita, Pas 21. Semua adalah bioskop lokal.

Bioskop yang cukup bersejarah adalah Bioskop Garuda (1948). Bioskop ini tak lain adalah bioskop Deli yang berganti nama. Di bioskop Garuda ini, pada tanggal 16 Juni 1947, president RI Soekarno pernah berpidato memberi semangat kebangsaan kepada rakyat Aceh.

image

Source : Tampilan Gedung Bioskop Garida tempo dulu

image

Tampilan Bioskop Garuda sekarang, yang sudah di ubah menjadi gedung IT.

Dan malam tadi di bioskop Garuda inilah saya menonton film yang berjudul 22 menit.

Beginilah kondisi terupdate perbioskopan di Aceh. Upaya menghidupkan lagi nonton bioskop dengan menjadikan Aula, Gedung serbaguna bahlan halaman luas untuk tempat menonton. Tentu saja tidak setiap kali ada. Hanya film-film tertentu dan tentu saja penonton di pisah antara lelaki dan perempuan.

image

Wacana adanya bioskop di Aceh masih menuai pro dan kontra. Sampai kapan seperti ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Referensi : Hostoria Id

"Lasaklah ... Sebanyak, Sebisa dan Sejauh Mungkin, Karena Hidup Bukan Diam di Satu Tempat"

image

Kaki Lasak : The Story, Travel, Photo & Food




Follow Me :
Steemit @kakilasak
Facebook Husaini Sani
Instagram kaki lasak ucok silampung
Whatsapp +6282166076131

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Saya baru tahu jika bioskop di aceh sudah ada sejak tahun 1930. wahhh itu sebelum kemerdekaan kita. saya pikir di aceh tidak pernah ada bioskop. Terima kasih informasi ini bg. salam bg, saya dari lhokseumawe.

·

Hehe saya juga cari literasinya hehe

Hallo @kakilasak

Wow, ternyata bioskop di aceh masih ada. Dengan lahirnya ide kreatif dari teman-teman semua. Semoga kedepan lebih banyak lagi bioskop di kampung untuk menayangkan karya terbaik para seniman indonesia tentunya

eSteem Curators

Do not forget to [vote a witness] @good-karma in order to continue to maintain the steem ecosystem

We do hope that this apps helps you to easily post your content on your steemit page, commenting or replying on articles or any other activities related to steemit.

Please join us here at the eSteem University, Esteemian discussion forums on how to create good content.
eSteem Discord Server: https://discord.gg/tKqTs7E
Go to the channel: #esteem-university

·

Amin. Terimkasih :)

·
·

sama-sama bang. hehe

Hello @kakilasak, thank you for sharing this creative work! We just stopped by to say that you've been upvoted by the @creativecrypto magazine. The Creative Crypto is all about art on the blockchain and learning from creatives like you. Looking forward to crossing paths again soon. Steem on!