Malam Pertama Kehilangan PermatasteemCreated with Sketch.

in #esai3 years ago (edited)

42934a-600x600.jpg
(Sumber gambar: google.com)

Sebagai penulis, terkadang saya diminta untuk bertanggung jawab dengan tulisan saya. Idih, permintaan macam apa ini? Eh, tapi itu memang penting, kata orang biar tidak asal nulis. Aiss, tapi begini, bertanggung jawab bagi saya adalah sebuah alasan untuk mencipta. Oke, jadi sedari awal saya perkirakan ini cerita fiktif, atau jika untuk menjadi fiktif saja tidak memenuhi syarat, maka apapun penyebutannya. Nyaan ban, itulah dia.

Saya coba membuat nama tokoh. Sebutlah namanya Anu, seorang yang boleh kau bayangkan sebagai lelaki, yang singkatnya adalah menjadi tipe lelaki yang kau idam-idamkan. Anu juga boleh cantik, terserah kaulah mengimajikannya seperti apa, menurut standar cantik yang kau perkirakanlah. Lalu kau bertanya, apakah dia laki-laki atau perempuan? Kau simpan sajalah pertanyaan semacam itu. Dugudugudu

Singkat cerita, seorang Anu bertemu dengan Una. Una dan Anu adalah dua tokoh yang aku akui merupakan tokoh yang gagal aku gambarkan, maka keduanya aku kembalikan padamu, cintaquh. Karena kau adalah pembaca. Emmuah. Aku hanya tidak ingin membatasi visual-lavisualasualvisu yang tumbuh dalam kepalamu, xyntax error-ku. Itu lho maksudku.

Apakah kau sudah membayangkan kedua tokoh tadi? Ya, kutunggu. Bayangkanlah! Oke, kalau sudah, maka kau boleh lanjutkan bacaanmu, zabulazaku.

Pada suatu hari, boleh juga malam. Entah nanti, entah memang sudah kau lalui. Kau boleh memilih, atau mengusulkan hari yang lain, malam yang lain, atau semacam senja dengan segala warna yang kau sukai, subuh dengan sebongkah sejuk yang kau rindui, terserah padamu, canduku.

Kau boleh membuat latar tempat, waktu sesukamu. Aku kan tidak bisa menebak, kalau-kalau kau suka membuat hari yang penuh alasan, semisal hari yang bertepatan dengan ulang tahun kucingmu, atau ulang tahun semutmu, jagungmu, hari patah hati pengeran cancingmu, dan/atau hari anumu, googletranslate-ku.

Biar kau tidak gagal paham, atau aku yang gagal menulis, maka aku rasa kau perlu tahu tentang ini. “Anu” bagiku adalah kata yang abstrak. “Anu” adalah sesuatu yang ada dalam kepalamu, maka itulah “anu” bagimu.

Bisa jadi begini, dalam sebuah perbicangan yang hangatlah misalnya, lengkap dengan setting tempat yang mesra, sepaket cahaya lilin di dalam gelas, aroma mawar, bangku kayu yang klasik, suhu yang hangat, tidak terlalu ramai, suara yang pelan, saling bertatapan, saling mencuri senyum. Aih, kapan itu bisa kudapatakan ya? Aku jadi ingin cepat nikah. Duh. Eh. Oke, oke.

Aku lanjutkan ceritanya, singkat cerita, dalam perbicangan yang semakin mesra itu aku menyebut “anumu sungguh besar” pada saat itu, “anu” yang kita pahami akan berbeda, dan bisa pula sama. Padahal yang aku maksud adalah cintamu sungguh besar, tapi karena gagap, aku tidak bisa berkata-kata lagi, bahkan menyebut “cinta” saja aku lupa, entah apa penyebabnya keluarlah kata “anu” itu. Nah, itulah jangan main-main dengan kemesraan kalau belum sanggup. Kalau sudah satu rumah, wah lain cerita itu. Segala anuku adalah anumu juga, itu prinsipnya. (Catat itu, para steemian yang kucingtai dengan sepenuh bulu kucingku)

Maka, singkatnya “anu” adalah sebuah kata yang kau susupi makna sesuai apa yang kau fikirkan. Aku tidak berharap kau berfikir bahwa “anu” adalah “anu kita itu”. Kau mengerti kan? Jika kau tertawa, jelas sudah anu yang kita maksud sama. Toss dulu dah. Cluup, eh, suara toss gimana ya? Plakk. Ya, begitulah.

Jadi ciritanya begini, morotolo-ku. Pada siang yang terik. Anu ditemui Una. Una bertanya “Kau masih ingat, ketika kau diminta untuk membayar pajak?” Lalu Anu bingung, “Untuk apa kau membayar pajak?” singkatnya begitulah pertanyaan balik Anu pada Una. Pertanyaan itu mirip dnegan pertanyaan kekasih Anu bertanya pada Anu, tetang mengapa Anu harus mencintainya.

Aku katakan padamu, kata Una. Sekarang duduklah baik-baik, seruputlah segala ampas kopimu, lanjut Una. Oke?, tanyanya.

“Adalah sebuah harapan besar, dengan membayar pajak malam pertaminamu, eh maksudku malam pertamamu adalah timbunan cinta, pusat dari segala mimpi, sumbu dari sekarung cumbu, candu dari seribu iris canda, nyata dari segala cita-cita bercinta kau wujudkan tanpa keresahan, kegundahan, ketakutan. Nyan, itu lho” Kata Una pada Anu dengan sepenuh jiwa ucapan itu dikeluarkannya. Anu bingung. Apa pula maksudnya ini?, kira-kira begitulah pertanyaan Anu dalam kepalanya.

Melihat perwajahan Anu yang bingung, maka timbullah semacam inisatif dari lubuk terdalam Una untuk menjelaskan lebih lanjut. “Oke. Kau memang agak sulit, maka saya ringkas saja” Kata Una pada Anu.

Sambil mengambil nafas yang paling dalam, secamam pernafasan inti atom, untuk memberitakan padamu, sahurindomi-ku. Bahwa itulah pernafasan paling dalam. Una menjelaskan “... singkatnya, dengan membayar pajak kau telah membayar semacam jaminan keamanan untuk suksesi malam pertamamu. Kau tidak perlu resah, kalau-kalau ada yang mencoba menyusup ke rumahmu, lalu mengambil alat-alat dapur dari kado pernikahanmu itu. Singkatnya kau membayar negara untuk mengamanankan malam pertamamu” Una melepas segala pernafasan yang ia tahan untuk mengucapkan kalimat yang agak panjang itu. Fuuhhhh, tuuutt. Atas bawah membalas, menerobos pertahanan. Dih, idido.

Anu terdiam, ia berfikir keras, sekeras kelapa yang telah dicor dengan baja. Keras. Begitu maksudnya.

“Tapi kenyataannya kan tidak begitu?” Anu bertanya, semacam membantah tesis Una. “Oke, kau boleh mengajukan pertanyaan itu, sebagaimana pertanyaanku selama ini. Mengapa keamanan masih menjadi masalah besar? Padahal kita sudah membayar pajak. Lalapolala laa poo laa laa poo laala” Kata Una pada Anu dan pada dirinya sendiri. Sesal Una yang kehilangan permatanya di malam pertamanya. Sudah.

Tamat cerita.

Termenunglah kau dihantui ketidak nyambungan, nasibungkusrokokku.

Nb: Cerita ini adalah fiktif belaka, eh. Tutt, tutt, tutt. Emuuah. Jangan lupa anu, para cintaku yang menunggu resmi tentu hanya satu. Eh.