Gila! Lebih Murah Sekolah Di Luar Negeri Daripada Di Negeri Sendiri!

in education •  last year  (edited)

Rasanya sakit kepala memikirkan sistem pendidikan di Indonesia pada saat ini. Bukan hanya soal mahalnya, tetapi juga soal kualitas terutama apa yang diajarkan. Anak-anak Indonesia dibuat menjadi sangat lemah untuk bisa menganalisa apalagi untuk menjadi kreatif dan memiliki kepribadian yang kuat. Enah apa ini karena unsur kesengajaan atau bukan, tetapi yang pasti ini sudah sangat merusak. Kalau sampai tidak tahu, rasanya kebangetan, studi banding ke luar negeri sudah sering dilakukan, masa tidak paham juga, ya?!

IMG_20180428_174240.jpg
Masa muda di Boston, Amerika

Putra sulung saya, @maranarayan, baru saja menyelesaikan ujian SMA-nya. Sudah sejak dia masih kecil, saya memang bercita-cita untuk mengirimkan dia sekolah di luar negeri, dan dia sendiri pun sudah terus menyiapkan dirinya untuk kuliah di Jerman. Dia memang ingin sekali sekolah di Jerman sesuai dengan minatnya, mesin otomotif agar kelak bisa membuat mobil yang 100% buatan Indonesia. Tentunya pasti dipikir akan sangat mahal ya biaya sekolah ke luar negeri, padahal kalau pernah menikmati sekolah di luar negeri, pasti akan tertawa sendiri. Dulu iya, barangkali mahal,kalau sekarang, malah lebih mahal sekolah di Indonesia, deh!

Contohnya kawan saya, anaknya baru saja mendapatkan undangan masuk sekolah kedokteran di Universitas Indonesia, pastinya dia sangat senang kegirangan. Namun kemudian menjadi pusing sendiri ketika mengetahui biaya yang harus dibayarkan di muka, yaitu sebesar Rp.150 juta untuk masuk kuliah kedokteran. Itu belum termasuk uang semesteran dan lain-lain sampai selesai. Setelah dihitung-hitung, untuk anaknya sampai selesai sekolah kedokteran, dia harus menyiapkan antara 450-500 juta. Sakit kepala langsung! Maklum kawan saya ini dan istrinya adalah pegawai swasta yang walaupun dalam sebulan berpenghasilan mencapai Rp.25 juta tetapi untuk hidup di Jakarta dengan 3 orang anak, itu sudah sulit untuk bisa berlebihan. Mana harus bayar cicilan rumah dan kendaraan pula, haduh stress deh!

Saya pun bertanya-tanya dengan kawan-kawan lain yang anaknya sudah kuliah baik di swasta maupun negeri, mereka harus mengeluarkan uang minimum 6 juta per semester, sementara rata-rata berkisar 10 -20 juta per semester. Itu belum biaya masuk ke kampus yang harus dibayar di awal, yang minta ampun deh mahalnya, memang ada yang sekitar 15 juta tapi bukan sekolah favorit. Kebanyakan kawan-kawan yang anaknya sekolah di sekolah favorit, harus mengeluarkan uang sekitar 30-75 juta untuk masuk saja. Jika ditambah lagi dengan uang kos dan pengeluaran per bulan, anggap saja 4 tahun selesai, maka harus punya uang paling tidak 200 juta untuk bisa menyekolahkan anak di kampus-kampus terbaik.

Saya pun mengajak anak saya untuk membandingkan beberapa sekolah baik di Indonesia maupun di luar negeri, sekaligus untuk tahu berapa sih, sebenarnya biaya yang diperlukan untuk anak saya sekolah di sana. Kebetulan ada kawan yang lulusan dari sana dan bekerja di Habibie Center serta membuka tempat untuk membantu anak-anak Indonesia yang mau pergi sekolah ke Jerman, Perancis, dan Turki, namanya Exzellenz Institute di kota Depok, Di tempat ini anak bisa mendapatkan bimbingan intensif selama 6 bulan dan terus dibimbing sampai ke Jerman, serta terus juga dipantau perkembangannya. Di tempat ini ada banyak sekali pencerahan yang sangat berguna, kalau mau tanya-tanya ke sana saja!


Sumber: http://exzellenz-institut.com/

Nah berhubung anak saya ini merasa tidak bakal betah tinggal di asrama dan apalagi harus intesnsif setiap hari, karena dia memang anak spesial, maka saya pun mencari alternatif lain. Lagipula dia masih menunggu ujian masuk perguruan tinggi negeri. Jadilah saya pun mengajaknya ke Goethe Institute di Bandung, tempat belajar bahasa Jerman. Untuk kursus bahasa Jerman sendiri biasanya per paket selama 3 bulan antara 2-5 juta sampai 8 juta rupiah, tergantung seberapa intensif. Khusus untuk bahasa Jerman, memang ada kewajiban bisa sampai pada level min. B1, sebelum kemudian bisa mendaftarkan diri masuk ke college di sana. Bedanya kalau pergi sendiri, maka semua harus dipersiapkan sendiri, sedangkan kalau mau benar-benar dipersiapkan oleh lembaga seperti Excellenz Institute, itu lebih mudah. Saya tergantung anak saya saja maunya bagaimana.

Anak saya memang tidak bisa lansung masuk ke kampus, harus mengulang dulu kelas 3 SMA untuk penyesuaian, namun biayanya rata-rata hanya berkisar 8-20 juta saja sampai lulus S1 loh! Biaya hidup mungkin sedikit lebih besar, sekitar 5 juta per bulan, tetapi setiap siswa internasional bisa bekerja sampai 20 jam per minggu, dan ini cukup banget buat biaya hidup, malah lebih! Apalagi kalau kerja selama 3 bulan pada saat liburan, wah ini bisa dapat uang cukup untuk setahun. Jadi intinya, saya tidak perlu pusing dengan biaya hidupnya, cukup memberi bekal di awal saja. Saya juga dulu kuliah di luar negeri kerja, kok!

Pemerintah Jerman memang memberikan fasilitas yang sangat besar untuk menunjang pendidikan di negaranya. Sebagai negara yang menduduki ranking ke 4 dunia dengan jumlah penduduk hanya 81,8 juta jiwa, dan anggaran pendidikan sebesar 76.283.000.000 Euro (2006) belum termasuk anggaran penelitian sebesar 10,4 juta Euro, tentunya ini bisa membuat sekolah menjadi sangat murah, boleh dibilang gratis. Dulu memang gratis sih, tapi sekarang untuk mahasiswa internasional dikenakan sedikit biaya saja, per semester sekitar 2 juta Rupiah saja, itu pun sudah di kampus yang bergengsi banget. Gilingan padi! Sirik banget, bandingkan dengan negara kita! Malu sendiri lihatnya!


Sumber: Goethe Institute Bandung https://www.goethe.de/ins/id/en/sta/ban/ver.cfm?

Yang beratnya memang harus ada uang jaminan sekitar 8500 Euro yang ditaruh di bank sebagai jaminan sekolah di sana, dan ini yang biasanya membuat banyak orang tua keblinger. Jaminan sebesar kurang lebih 140 juta rupiah ini, sebenarnya nanti bisa diambil oleh anak setiap bulan, namun dibatasi jumlahnya agar tidak cepat habis, dan bisa ditarik kembali pada saat selesai sekolah. Jumlah ini malah lebih murah bila dibandingkan dengan harus bayar uang masuk sekolah kedokteran di sini yah, soalnya nggak bisa ditarik lagi juga, deh! Nah, karena saya juga punya wallet di Steemit ini, saya jadi mendapatkan kemudahan loh! Saya bisa menggunakan Steem/SBD sebagai jaminan untuk saya sekolah di sana. Mereka sudah mulai menerima pembayaran dan jaminan menggunakan uang crypto, asyik kan?!

Nah, yang paling menariknya nih, ketika sudah lulus sekolah dan balik ke Indonesia, masih ada lagi tunjangan per bulan yang diberikan selama 2 tahun, sebagai bantuan selama anak saya nanti mencari kerja atau mau membuka usaha baru. Kalaupun dia memang butuh uang untuk membeli peralatan seperti bengkel/pabrik mobil seperti yang dinginkannya, maka dia bisa mengambil jatah sebesar 10 ribu Euro sebagai bantuan untuk membeli peralatan. Enak banget, yah! Catatannya hanya satu, tidak boleh kembali ke Jerman untuk bekerja, kalau pun sekolah ya nggak boleh sambil kerja lagi. Saya pikir tidak masalah, karena dia akan kembali untuk membangun negaranya. Semoga demikian! Hahaha....

Saya tidak berkata bahwa sekolah di luar negeri itu lebih baik, karena memang harus hati-hati memilih sekolah. Sama saja sebetulnya dengan di Indonesia, sebaiknya memilih sekolah yang bermutu dan berkualitas, dan berhubung sudah ke luar negeri, ya jangan tanggunglah! Ngapain hanya sekedar kuliah di luar negeri di sekolah abal-abal, rugi sendiri! Buang duit dan waktu itu namanya! Banyak kok lulusan luar negeri yang hanya asal dari luar negeri, tapi kosong isinya.

Sekolah bukan buat kerja pula, ini menurut pendapat saya pribadi, sekolah itu untuk belajar menganalisa dan memiliki cara berpikir yang lebih kritis, dapat menemukan masalah dan merunutnya dengan lebih teratur agar dapat mencari solusi. Selain itu, kuliah juga waktunya untuk mendapatkan pengalaman dan relasi, karena ini sangat penting untuk ke depannya. Kalau hanya untuk kerja, nggak usah sekolah juga nggak apa-apa, banyak orang bisa kerja tanpa sekolah pun. Kalau juga hanya untuk cari uang, buat apa juga, sekolah itu justru untuk mendidik kita menjadi tahu tujuan kita ke depan, yang tentunya uang itu tidak seharusnya menjadi tujuan. Kalau uang untuk memenuhi kebutuhan hidup oke, tapi payah banget kalau uang dijadikan tujuan hidup, bagaimana mau sukses?!

Kelebihan sekolah di luar negeri, menurut saya pribadi juga, yang kebetulan pernah mengenyam pendidikan di berbagai negara, adalah kita mendapatkan kesempatan belajar dengan baik dan benar. Kalau di Indonesia, satu semester bisa ambil kuliah 5-7 mata kuliah itu biasa, cobain saja di luar negeri, 3 mata kuliah saja gempor! Apalagi jika benar-benar sekolah di tempat yang berkualitas dan bermutu, yang namanya baca dan menulis itu kewajiban yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak memiliki wawasan luas, sama artinya bunuh diri, dan tidak ada sangkut pautnya dengan koneksi, mau anak pejabat pun kalau malas sekolah dan tidak mau belajar, jangan harap bisa mendapatkan nilai baik dan lulus. Lagipula fasilitas praktek dan penelitiannya sangat menunjang, sehingga kita bisa melakukan banyak sekali eksperimen dan mendapatkan banyak pengalaman tanpa harus takut karena tidak mampu memiliki biaya. Semua disediakan dengan mudahnya dengan gratis, belum lagi buku di perpustakan yang sangat lengkap. Hedeh, di sini perpustakaan kampus sangat menyedihkan!

Belum lagi soal relasi, jujur saja saya mendapatkan banyak relasi yang terbina dari masa sekolah kebanyakan adalah ketika di luar negeri, terutama hubungan dengan orang luar. Ada banyak kawan sekolah yang sekarang menjadi diplomat dan pejabat tinggi di negara masing-masing, dan juga jadi pengusaha yang sukses. Enak kan, punya banyak teman di mana-mana. Inilah yang membuat saya mendukung anak saya sekolah di luar negeri, apalagi mengingat situasi pendidikan di negeri kita sedang sangat buruk. Saya tidak mau merusak anak saya karena masa depan itu harus lebih baik, dan saya selalu berdoa agar dia menjadi anak yang benar berguna bagi bangsa dan negaranya kelak. Semoga saja dikabulkan dan diridhoi Allah, ya!

Yah, ini sekedar tulisan yang semoga dibaca oleh pemerintah terutama mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan. Kita sebaiknya malu hati karena merasa sudah sangat baik terhadap masa depan, tetapi ternyata di luar sana ada yang lebih baik lagi di dalam membantu anak-anak ini untuk memiliki masa depan lebih baik. Tak heran bila mereka menjadi negara yang maju karena pendidikan itu sangat dinomorsatukan dan anak benar diberikan kebebasan untuk berpikir dan belajar, bukan dimatikan pola pikir dan cara berpikirnya dengan dipaksa dan dijubeli hal-hal yang tidak perlu dan belum waktunya. Kasihan, bagaimana bisa bersaing dengan negara lain bila terus demikian? Bagaimana pula mereka bisa memiliki kepribadian yang kuat dan mandiri bila tidak pernah diberikan kesempatan menjadi diri mereka sendiri yang mampu untuk kreatif dan mandiri.

Semoga berguna dan bermanfaat.

Bandung, 28 April 2018

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Benar. Dimulai dari TK saja sudah mahal sekali, Mbak untuk sekolah di negeri sendiri. Baru saja mengalami hal pahit mengenai biaya pendidikan dan sekolah bagus. Karena istimewa, kemarin kami berencana memasukkan sulung kami di sebuah sekolah yang sejauh kami survey, cocok dengan anak kami. Sudah melengkapi berkas, ternyata kami telat melunasi uang pendaftaran yang sebenarnya agak mahal bagi kami, tapi memang lebih bagus dari sekolah lain yang kami survey. Karena terlambat, langsung dinaikkan cadangam lain. Kami berusaha nego dengan pihak sekolah tapi tak berhasil. Ya sudah. Si Sulung sempat kecewa dan tidak mau ke sekolah formal. Tabah aja, HS-pun tak apa rasanya Aini siap, tapi akhirnya nemu sekolah lain yang menerima. Alhamdulillah, tapi memang terasa, mencari sekolah bagus namun terjangkau amat sangat langka. Membaca tulisan ini merasa tercerahkan sekali, Mbak.

Kalau begitu akan atur strategi lain nanti untuk pendidikan anak. Tak ada salahnya mempersiapkan ia sekolah ke luar. 👍👍👍

Cari yang ke Perancis karena di sana boleh yang dari home schooling. Nabung mbak di Steemit, buat jaminan sekolahnya!

Duuuuh, berbinarrrr. Baru kepikiran gegara baca ini.

Mudah-mudahan dengan berjalannya waktu kualitas akan meningkat,apalagi harga sudah mulai naik pasti steemian akan berusaha untuk baik, tolong saudari @mariska.lubis jangan gundah dulu karena semua sedang berusaha untuk memperbaiki agar lebih baik kedepannya nanti.

wah bukan soal harga steem naik atau tidak, ini soal bagaimana mengatasi masalah pendidikan oleh pemerintah yang memang sudah sejak lama tidak pernah diperhatikan dengan serius. Soal gundah, itu dirasakan oleh banyak orang dan solusi harus upaya terus diberikan untuk membantu, termasuk mencari alternatif sekolah ke luar negeri dengan biaya yang lebih murah.

Jujur saya juga merasa sangat berat menyekolahkan anak dengan usng semester 7-8 juta. Belum lagi untuk kos dll yang jika dihitung pertahunnya mencapai 30 an juta.

yah memang sangat berat, dan parahnya anak-anak juga sulit untuk mandiri karena lapangan kerja sangat kurang sekali.

Gilaaaa tulisannya bagus beneeer ini, jelas banget penjelasannya teh. Temen saya anak kedokteran juga dulu uang masuknya segitu juga, padahal negeri, akhirnya dia nggak ambil karena nggak sanggup..

Hehehe semoga berguna dan bermanfaat ya... memang sangat menyedihkan, sementara sekolah kedokteran di Jerman sampai lulus paling banyak hanya 30 juta saja. ;)

salam hangat selalu Akak Mariska.

sama-sama, salam hangat juga yah..

Pendidikan di negeri kita ini lebih banyak berorentasi kepada proyek alias komersialis alias proyek pendidikan untuk meraup keuntungan tanpa memikirkan mutu pendidikan itu sendiri, memang sangat miris dan memilukan.. bahkan memalukan mbak @mariska.lubis .

Ya memang ketika pendidikan itu dibuat menjadi sebuah industri, maka yang akan dihasilkan juga produk hasil pendidikan yang seperti pabrik, robot saja. Ini yang tidak disadari juga oleh masyarakat.

Kita memang jauh tertinggal di bidang pendidikan, tiap daerah kualitas pendidikan berbeda-beda, terutama daerah luar jawa.

nggak juga, daerah di pulau jawa pun sangat memprihatikan kualitasnya, Bandung yang dianggap sebagai kota pendidikan pun memiliki masalah besar dalam hal pendidikan.

Postingan yang sangat bermanfaat mbak.

amin, terima kasih.

Jadi punya niat sekolahkan anak saya di tempat terbaik nih Teh @mariska.lubis. Supaya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari saya...haha

harus dong, kita sebagai orang tua harus bisa membantu memberikan yang terbaik bagi anak... mereka adalah masa depan dan harapan bangsa negara...

Itulah ka @mariska. Knpa kbodohan semakin meluas d indonesia salah satunya karna terbentur biaya yg tidak terjangkau, (salam kenal ka @mariska pemula dari ksi-tw)

ya memang sangat menyedihkan ya... salam kenal juga ya... segera balik ya ke Indonesia!

Pendidikan sudah menjadi lahan bisnis. Sebenarnya tidak mengapa bila pemerintah mengatur dan mengawasinya dengan benar dan ketat.

Bisnis pendidikan di negeri kita sudah seperti pengusaha2 AS menguasai saham klub2 di Liga Inggris. Mereka murni bisnis, gak mau tau prestasi klub yang penting pendapatan klubnya berkembang terus.

Jadi jangan heran bila di tempat kita terutama Aceh sempat booming Kampus Ruko. Bangunan ruko yang sebenarnya untuk tempat usaha dikasih IMB untuk buka kampus. Pening kita!

Yuuup. Bener bangeet ini. Pendidikan jadi lahan bisnis yang basah. Kalau sudah naik akreditasi, promosi sudah berjalan lancar, peserta didik membludak, tahun depan dijamin SPP dan uang pendaftaran dinaikkan.

Ini tidak hanya terjadi di Aceh dan wilayah Indonesia lainnya loh, karena permintaan untuk mengejar pendidikan sekedar dapat ijazah untuk kerja, di luar negeri sudah lama banyak kampus-kampus seperti itu... contohnya saja Golden Gate University yang begitu terkenalnya di Indonesia, padahal itu bukan sekolah, cuma ruko yang ijazahnya juga bisa dibeli!

Realita yang membuat negara ini selalu tertinggal jauh dalam keadilan bagi warga negara untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak dan hak dasar bagi stiap warga negara #miris

Ini fakta yang menyedihkan tetapi harus kita hadapi bersama.

Ya.. Beberapa teman yang sedang sekolah di luwr negeri juga berkata demikian. Di beberapa negara di luar negeri Sekolah memang lebih murah dibandingkan di dalam negeri. Apalagi di India. Salam Mbak @mariska.lubis.. :)

hehehe ke Eropa sajalah, nanggung kalau ke India... pulang dari Eropa juga jadi banyak relasi dan bantuannya lagi, sehingga kalau dipikir-pikir, modal sekolah itu malah sudah balik dan malah lebih dapatnya...

Hahaha.. Iyaa Mbak. Saya cobaa.. Yang penting mbak tetap dukung yess 😁😁😁

Betul sekali mba @mariska.lubis temen saya juga merasakan hal yang sama, dia mengatakan sekolah di luar negri seperti india lebih murah dibanding di negeri sendiri, miris melihat pendidikan negeri ini, ada uang bisa masuk ke kampus favorit tak ada uang iya kampus biasa2 saja atau bahkan ada juga yang kuliah sambil bekerja untuk mencukupi biaya kuliah per semesternya, belum lagi biaya kosan dan makannya hehe salam, selamat beristirahat

Anak di luar negeri Barat sana kalau sudah umur 18 tahun keluar dari rumah dan cari biaya hidup sendiri, itu buat saya nggak masalah dan malah bagus belajar mandiri. Anak saya pun harus bekerja untuk mendapatkan uang sakunya sendiri dan menabung untuk membeli keinginannya, saya hanya support yang dia butuhkan saja. Masalahnya di luar negeri kesempatan untuk kerja magang pun banyak, baik di kampus maupun di tempat lain, sehingga mereka mampu membiayai kuliah dan hidup mereka juga, kalau di sini, ampun deh!

  ·  last year (edited)

Itulah, kalau kita membahas dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, terkadang membuat orang tua, sampai mengurut dada, saking mahalnya uang muka, untuk pendaftaran, banyak murid yang cerdas harus terhambat cita-citanya, karena masalah itu tadi, memang nasib pendidikan saat ini amatlah miris.

makanya ajak aja orang tua dan anak masuk Steemit supaya bia menabung untuk biaya sekolah yang tinggi.... ;)

Ide yang bagus itu mbak, nanti saya ajak keluarga sekalian deh 😃

Fenomena pendidikan di Indonesia, mahalnya biaya pendidikan kadang tidak sebanding dengan (kualitas) lulusan yang dihasilkan.

selama pendidikan itu dijadikan lahan untuk mencari uang alias dikomersialkan, maka yang akan didapat adalah kehancuran. sekolah mahal belum tentu berkualitas, kok.

Setuju kak. Dan itu secara otomatis jadi tugas kita bersama, karena negara ini sudah sedemkian (bobrok) adanya. Hmm...

seperti hantaman yang keras di kepala saya mbak @mariska.lubis
karena saya salah seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan dengan segala carut-marutnya sekarang ini, tapi karena seorang yang kecil dan tidak memiliki andil apa-apa membuat hanya dapat menggeram di dalam hati saja, dan terkadang juga terpaksa mengikuti sistem yang belum jelas manfaatnya.

ya saya dapat mengerti, memang tidak mudah bila sudah masuk ke dalam lingkaran, kita jadi terikat dengan aturan yang belum tentu sesuai dengan hati kecil kita ya... makanya saya tidak mau menjadi pegawai negeri wkwkwk...

Hahaha..keren mbak @mariska.lubis

Ini benar2 bermsnfaat, bu.
Sangat bermanfaat.
Terimakasih.

sama-sama...

Tidak kebayang dah uang segitu mbak. Ya, semoga dengan biaya yang sebegitu besar dalam pendidikan, mereka tak mencari ide bagaima cepat balik modal disaat mereka jadi pejabat dll.

itulah yang biasanya terjadi, sehingga kemudian kita jadi terbelit dalam lingkaran industri yang membuat semuanya dinilai oleh uang semata... bahaya!

  ·  last year (edited)
Sebuah pengalaman yg berharga dgn sebuah analisi yg tajam? Dlu org malaysia belajar ke-Indonesia skrg senaliknya kak. Lalu ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini masih prioritaa atau hanya formalitas saja. Mari tanyakan pada rumput yg bergoyang.

yah kitanya yang harus bisa lebih cerdas, jangan sampai terbawa arus yang menghancurkan.

Tidak hanya lebih murah saja bunda @mariska. lubis
Tetapi pontensi dan mutual pendidikannya lebih terjamin.

Ya demikianlah adanya, sedih ya!

postingan kebenaran Teh @mariska.lubis
pendidikan di Indonesia seperti alakadarnya
kalau mau yang bagus harus mengeluarkan kocek besar
cucu saya juga mau masuk SD saja harus ada uang 20jt
belum perbulannya

hadeuuuh

sekolah negeri aja juga banyak banget pengeluarannya, sungguh aneh memang... saya tidak paham bagaimana cara kerja pemerintah soal pendidikan ini...

Saya sangat setuju dengan postingan anda memang benertu apa yanga anda kata kan @mariska.lubis

semoga berguna dan bermanfaat...

ini informasi yang baru saya ketahui bahwa sekolah di luar lebih murah dari pada sekolah dalam negri kita sendiri, alangkah tidak salahnya bagi mahasiswa kita untuk mencoba belajar ke negeri yang lain, selain dari ilmu yang mareka dapat juga pengalamanlah yang paling penting.
sukses terus @mariskalubis

ya, lagipula untuk memperluas wawasan dan mendapatkan lebih banyak lagi relasi yang sangat berguna di kemudian hari...

Kedepan harus di plening lebin murah kk ya oky..

hehehe ya pilihlah pejabat yang benar pro rakyat dan tahu cara mengelola negara...

Tulisan teteh jadi membuka mata saya. Kirain sekolah di luar negeri itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan sekolah di Indonesia. Sharing seperti ini sangat membantu siapa saja orang yang punya cita-cita mmenyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Saya merasa cukup beruntung anak pertama dan kedua bisa bersekolah di kampus negeri. Untuk tidak masuk di jurusan kedokteran yang biayanya bikin sakit kepala.

Thanks ya teh Mariska atas sharing-nya yang mencerahkan .

Walaupun di kampus negeri, sebenarnya tetap jauh lebih mahal dibandingkan sekolah di Jerman, Perancis, dan Turki.... dan memang itu banyak tidak dipahami oleh orang tua, karena itulah saya mencoba membagikannya lewat tulisan ini kang... semoga berguna dan bermanfaat.

Tentu sangat bermanfaat sekali tetehku @mariska.lubis. Tulisan yang berbau luar bolehlah sering di share ya Teh, soalnya masih banyak yang kurang paham, termasuk saya.

Testimoni yang bagus dari @mariska.lubis untuk memotivasi

kaum terpelajar agar mau rame-rame sekolah ke luar negeri. Salahsatu alasan selama ini adalah ga ada uang. Nah, dengan testimoni ini anggarapan tidak ada uang sudah terbantahkan.

Tinggal menyakinkan para ibu agar mau melepaskan anaknya ke luar negeri. Karena alasan kedua, kangen kalo anak jauh. Padahal ongkos pesawat skrg lebih mahal ke papua, misalnya daripada kita bepergian ke korea hehe

Repotnya begitu juga bang, orang tua banyak yang "nggak tega" atau "nggak mau" melepaskan anaknya, dan itu penghambat terbesar kemajuan anak, orang tua seperti itu adalah orang tua yang egois, dan menurut saya harus bertanya pada diri sendiri lagi, benar sayang anak atau hanya memikirkan diri sendiri?!

Susah mengubah mindset kk, kalau di luar negeri lebih baik. Tatapi kenyataan lah yang berbicara..

Memang itu juga kendala, orang pengen banget berubah dan mendapatkan kehidupan lebih baik, tetapi untuk mengubah pola pikir diri sendiri pun nggak mau...

Mantap mba @mariksa.lubis . Analisanya tepat. Memang perlu diskus serius soal pendiika di Indonesia. Outputnya tidak sejala denga inputnya 😈😈

malah sepertinya saat ini sudah sangat mengkhawatirkan dan merusak masa depan... entah sengaja atau memang nggak tahu tapi sudah keterlaluan.

Masuk TK aja di Indonesia harus rogoh kantong dalam-dalam. :-D
Tp ngomong-ngomong...ini serius nih Wallet Steemit bisa dipake buat jaminan finansial?
Kedutaan Jerman mau terima itu, ataukah mesti di tukar Euro dulu masukin Deutsche Bank?
Sejauh ini yang kutau kan mesti buka Sperrkonto di DB sama satu bank lagi lupa aku namanya.
Kalau bener mau terima, bagus dong...