Cerpen: Setelah Kepulangan

in cerpen •  2 months ago

Ketika membersihkan beberapa file lama di laptop, aku menemukan beberapa cerita pendek (Cerpen) lama yang belum terpublikasi tentang perang dan konflik Aceh. Inilah salah satunya, selamat membaca dan berikan komentar Anda.

Setelah Kepulangan
Oleh: Iskandar Norman

Setelah kepulangan ibunya sepuluh tahun lalu, Basyah dan Busra belum bisa berdamai. Adik dan abang itu masih dalam prasangka bahwa peluru dari salah satunyalah yang menewaskan ibu mereka.

Mereka terus larut dalam duga dan dendam. Hati pemanggul senjata itu belum bisa didamaikan. Reintegrasi dan rekonsiliasi belum berarti apa-apa. Riswan satu-satunya saksi kunci di malam pemberondongan itu juga tak bisa berbuat banyak. Ia nyaris pingsan di ruang tamu rumah panggu itu. Di hadapannya kedua keponakannya itu saling membidik dengan senapan terkokang. Puncaknya ketika rentetan tembakan dari luar menembus dinding-dinding papan rumah itu.

ilustrasi_google.jpg
Ilustrasi Sumber

Sebagai tentara, malam itu Basyah ingin menjemput adiknya agar menyerahkan diri, setelah seorang mata-mata mengabari bahwa Busra ada di rumah. Tapi sebagai kombatan yang fanatik, Busra lebih memilih ditembak abangnya dari pada mengangkat tangan.
“Ibu tidak ingin salah satu dari kalian meniggal karena peluru saudaranya,” pesan Cut Dafarisyah malam itu.

Sebagai warakawuri, Cut Dafarisyah paham benar tentang bahaya perang. Mendiang suaminya, Sabri, merupakan tentara aktif dan pentolan pemberontakan Darul Islam. Namun ketika perjanjian Ikrar Lamteh berhasil menghadirkan damai, Sabri diterima kembali dalam kesatuannya sebagai tentara, pangkatnya juga dinaikkan.

Tapi rekonsiliasi masa Darul Islam dengan sekarang jauh beda. Kombatan menjadi satu kelompok sendiri tanpa bisa sepenuhnya berintegrasi, sementara tentara juga selalu menaruh curiga pada kelompok itu, apalagi setelah persoalan lambang daerah dan bendera mengemuka.

Setelah kepulangan Cut Dafarisyah itu, kedua anaknya masih belum juga bisa berjabat tangan. Riswan masih menyimpan kliping koran yang memberitakan pemberondongan malam ini. Ia membingkai dan menggantungnya di dinding papan rumahnya.

Penembakan itu menjadi head line di beberapa koran dengan judul berwarna merah darah “Seorang Warakawuri Tewas Tertembak Peluru Nyasar”. Meski tak percaya dengan berita itu, Riswan tetap menyimpannya sebagai sejarah bagi keluarga mereka.
“Berita itu sangat tidak memihak korban. Koran telah jadi corong militer,” katanya suatu ketika kepada kepala desa.

Orang kampung mereka tahu bahwa Riswan ada di rumah Cut Dafarisyah di malam pemberondongan itu. Ia saksi kunci, tapi ia menolak untuk berbicara kepada siapapun. Ia tak ingin menambah masalah. Yang diupayakannya hanya satu; mendamaikan hati dua keponakannya.

Pada 17 Agustus kemarin, Basyah bersama anggota Koramil membagi-bagikan bendera merah putih untuk warga. Satu rumah satu bendera. Jadilah lorong-lorong kampung itu semarak dengan merah putih. Dua hari sebelumnya Busra juga melakukan hal yang sama, ia membagi-bagikan bendera bulan bintang milik gerakannya. Mereka mengibarkan bendera itu tepat pada 15 Agustus sebagai hari perdamaian ditandatangani.

Persoalan bendera ini semakin membuat jurang yang terjal antara Basyah dan Busra. Mereka seakan berada di dua tebing terjal yang tak terjembatani. Ideologi telah mengalahkan silaturrahmi. Celakanya lagi pemilu legislatif semakin menambah lebar jurang itu. Mereka berada pada pilihan-pilihan yang bersebrangan.

Busra pernah berkata pada Riswan, pamannya.
“Aku berada diantara tiga pilihan. Tuhan mencambukku agar sadar bahwa yang terbaik tidak pernah hadir bersamaan. Namun aku masih terpanggang di tiga ideologi kontra. Tak memilih salah satunya aku akan dicela pendosa,” katanya.
“Pilihanmu hanya satu yang terbaik, berjabat tanganlah dengan abangmu. Konflik telah berakhir, mengapa kalian belum juga mendamaikan hati kalian masing-masing?” tanya Riswan.
“Tapi dia yang telah menembak ibu,” potong Busra.
“Bukan... kalian memang telah menjadi penyebab kematiannya, tapi dia tewas bukan dari peluru kalian.” Riswan mencoba meyakinkan keponakannya. Tiba-tiba hening, tak ada lagi percakapan diantara mereka.

ilustrasi-haluan.jpg
Ilustrasi Sumber

Bayangan tragedi sepuluh tahun lalu itu kembali bergelantung di benak Riswan. Di depan matanya Cut Daparisyah rebah bersimbah darah di atas sajadah. Di subuh beku itu, Busra secara sembunyi-sembunyi bisa pulang ke rumah, meski harus melalui beberapa pos tentara. Namun, Basyah tahu bahwa adiknya yang pemberontak itu baru pulang, ia sudah lama menempatkan mata-mata di sekitar rumahnya.

Ketika keduanya berjumpa di ruang tamu rumah panggung itu. Mereka saling mengokang senjata. Cut Daparisyah sangat ketakutan melihat keduanya menodongkan senjatanya. Lebih ketakutan lagi Riswan, ia terpojok di sudut dinding.
“Menyerahlan Busra,” kata Basyah sambil mendekatkan mocong senjata laras panjangnya ke dada adiknya itu.
“Aku sudah dibaiat untuk tidak mengangkat tangan. Pantang menyerah bagiku, perjuangan ini belum selesai,” balas Busra.
“Aku tak main-main, aku akan menembakmu,” tegas Basyah.

Cut Daparisyah menangis melihat itu, Riswan gemetaran.
“Kalau memang abang bukan anak ayah, silahkan tembak ketika saya turun dari rumah ini. Tapi saya yakin abang tak berani, sebagaimana saya tak berani menembak abang. Saya masih memegang sumpah bahwa salah satu diantara kita tak boleh mati karena peluru saudaranya sendiri,” jawab Basyah sambil menurunkan laras senjata yang sedari tadi diarahkan ke kepala abangnya itu.

Ketegangan itu baru reda ketika sayup-sayup terdengar azan subuh dari menara mesjid di tengah kampung.
“Jangan lagi bergaduh. Shalatlah kalian, biar pamanmu jadi iman. Saya akan berjaga-jaga. Bawa ke sini senjata kalian!” pinta Cut Daparisyah.

Ketegasan seorang ibu bisa meluluhkan kerasnya hati kedua anak itu. Basyah dan Busra shalat subuh berjamaan diimami oleh pamannya. Sementara Cut Daparisyah berdiri di samping jendela mengamati ke luar rumah. Tapi tak ada yang nampak, semua masih gelap. Tangan perempuan paruh baya itu masih memegang dua senjata laras panjang.

Usai shalat, Cut Daparisyah mengembalikan senjata anak-anaknya itu.
“Pergilah kalian, kepulangan kalian berdua ke rumah ini sudah cukup mengoba kerinduanku. Ingat, saya tidak mau mendengar salah satu dari kalian mati karena peluru saudaranya sendiri.”

Kedua adik abang itu tertunduk di depan ibunya. Kharisma Cut Daparisyah mampu mendamaikan hati anaknya, meski hanya untuk sesaat itu saja. Ia kemudian mengambil sajadah dan mukena untuk shalat subuh. Ia menghambakan diri pada Tuhan, mengetuk pintu langit, mengharap anaknya tidak terus berada dalam konflik.

Ketika Cut Daparisyah masih larut dalam bait-bait doanya, tiba-tiba pintu rumah itu diketuk dari luar. Busra segera meloncat lewat jendela, melarikan diri dalam keremangan subuh. Rentetan tembakan kemudian terdengar. Peluru dari segala arah menembus dinding papan rumah itu. Cut Daparisyah rebah bersimbah darah di atas sajadahnya, dua peluru menembus dadanya.

Mengengan peristiwa itu, Riswan seakan kembali kepada kecamuk batin yang terdalam. Seandainya kakaknya itu masih ada, mungkin Basyah dan Busra tak akan terus berada dalam dendam.

Tak mudah untuk meluluhkan hati Busra. Ketika masih dalam gerakan perlawanan terhadap negara, ia kombatan yang paling militan. Ia telah disumpahkan dengan baiat batin di bawah naungan firman Illahi. Semerah darah, semerah itu pula pengorbanan yang telah dilakukannya untuk menggapai kemerdekaan yang diyakininya.

ilustrasi-britishcouncil.org_.jpg
Ilustrasi sumber

Banyak darah yang sudah tumpah. Setelah bersebrangan dengan abangya yang tentara, ia seakan jadi sebatang kara. Meski kini pemerintah dengan gerilayawan telah berdamai, tapi Busra masih dipandang berbahaya. Bahaya karena ia berjalan sendiri dengan sisa-sia bait batinnya.
“Saya bersumpah tidak akan memusuhi kawan Wali dan tidak akan berkawan dengan musuh Wali,” itu salah satu isi baiat itu.

Tapi kini musuh dan kawan Wali itu telah menyatu dalam damai. Kemana ia harus membawa sumpah itu. Mereka yang dulu berada di shaff depan pembaiatan, kini sibuk terantuk politik tanpa simpul. Kemarin dan hari ini telah berlalu sebagai saksi, bahwa ideologi dari baiat merah itu belum kendur. Dibutuhkan karisma banyak ibu untuk mendamaikan hati anak-anaknya yang bersebrangan dalam ediologinya.

Dulu nyalak senjata membuat luka, kini pisau politik bermuka dua mengiris jiwa. Kedua adik abang itu terpedaya tanpa daya. Bagaimana korban perang kini disodorkan pada pilihan bahwa mereka harus mendukung sekelompok orang di partai. Partai orang-orang yang pernah meruah darah merah mengental. Bagi Riswan, antara pusat dan daerah sama saja, sibuk dalam politik tak bersimpul, abai pada rekonsiliasi dan reintegrasi korban perang.

Riswan satu-satunya orang yang masih bisa menjembatani antara Basyah dan Busra. Namun dari serangkaian upaya mendamaikan hati keponakannya itu, ia tidak pernah berhasil mendudukkan mereka dalam satu meja. Ia hanya berjalan sendiri menjumpai salah satu dari mereka secara bergiliran. Ia telah menjadi kurir untuk perdamaian yang sesungguhnya.

Seisi kampung mengetahui hal itu. Malah ada yang menyarankan agar Riswan berhenti saja. Semua akan sia-sia karena kedua keponakannya itu sudah sangat jauh berbeda pandangan.
“Mereka masih menghargai saya sebagai pamannya. Dan karena itu pula saya akan terus berusaha,” katanya ketika ditanya penduduk desa.

Suatu senja, Riswan berdiri di depan rumah panggung milik mendiang Cut Daparisyah. Setelah kematiannya rumah itu sudah tak terurus. Dinding-dinding rumah itu masih seperti dulu, hanya saja lebih kusam. Puluhan lubang bekas hantaman peluru masih terlihat, seolah menjadi prasasti kematian kakaknya. Tak ada lagi yang mengurus rumah itu. Basyah dan Busra yang mejadi pewaris yang sah telah memilih jalan sendiri-sendiri.

Riswan meneteskan air mata di depan rumah itu. Pikirannya menerawang, ia menjadi lelaki renta yang sangat emosional. Senja terlihat merah saga di ufuk barat. Riswan menapak pelan pulang ke rumahnya yang hanya dipisahkan oleh dua petak kebun dari rumah itu. Malam itu ia tidur lelap dan tak pernah bangun lagi.

Entah siapa yang mengabari, berita kepulangan Riswan itu sampai kepada Basyah dan Busra. Musibah itu menjadi satu-satunya momentum orang-orang melihat Busra dan Basyah berada pada waktu dan tempat yang sama, meski adik abang itu sangat jarang berbicara. Mereka belum bisa memecahkan kebekuan hati yang sudah lama dilanda konflik.

Tanpa bicara, Basyah dan Busra mengangkat peti jenazah pamannya. Mereka berjalan di sisi kepala mayat, memangul bagian depan keranda. Empat pemuda lainnya memangul bagian tengah dan belakang. Mereka berdua juga yang turun ke liang lahat menguburkan pamannya dengan bongkahan-bongkahan tanah.

Tempat pemakaman benar-benar hening, Basyah dan Busra tak banyak bicara. Lebih hening lagi para pengantar jenazah yang melihat kedua pria tangguh itu menyeka air mata masing-masing sambil terus menguburkan paman mereka.[]

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!