Mad Banu (Part IV)

in #cerbung3 years ago

5k.jpg
(Sumber gambar: google.com)

Syukurlah. Sekarang, setelah sekian lama berlarut-larut dalam soalan Banu, kematian dan warisannya. Anak-anak TPQ sudah mulai dikembalikan ke balai pengajian lagi, dengan perombakan kurikulum, yaitu setiap malam sabtu anak-anak itu disuruh simulasi shalat jenazah. Dugaanku, itu adalah terjemahan riil dari keluh kesah Mad Banu, waktu mendapati Banu diikit di bawah pohon itu.

Awal-awal kurikulum itu diterapkan, ada cerita agak menarik. Setahuku begini ceritanya:

Pada suatu malam, (malam sabtu) Anak-anak TPQ sudah berdatangan ke balai pengajian. Biasalah, anak-anak, sembari menunggu guru, mereka bermain. Ada yang kerjar-kejaran, ada yang bakar-bakaran, eh, bakar-bakar sampah, maksudnya. Ada yang memainkan senter, mengadu paling terang cahayanya.

Yang bergulat, ya ada. Yang mengoda murid putri, ya ada. Yang diam, sebagian. Yang ingusan, lumayan. Yang terlanjur kreatif, ya ada. Misalnya inilah, mewarnai alat tunjuk dengan asap lampu minyak. (perlu diingat kembali, masa itu listrik di kampung itu belum stabil. Ada, sih ada. Masuk, sih masuk. Kata orang, ‘ tapi, yaa, begitulah’)

Melihat ramai, dan wajah-wajah ceria kanak-kanak diterpa redup cahaya lampu minyak, Mad Banu tersenyum, dari kejauhan. Sejuk, ujarnya. Sudah berapa bulan pengajian TPQ, singkatnya, kita sebut dilibur paksakan. Ternyata, anak-anak kecil itu, meski lebih suka TPQ libur, tapi kalau benar-benar keseringan libur mereka muak. Itu terbaca dari wajah mereka, kata Mad Banu, pada dirinya dan kesendiriannya.

***

Mad Banu teringat masa kecilnya. Dia juga pernah menjadi kanak-kanak, tidaklah seberapa nakal, tapi nakal juga. Baik, juga tidak terlalu. Sebagaimana kanak-kanaklah. Mad Banu, kecilnya adalah anak yang aktif, begitulah kira-kira. Kita bilang tidak tahu malu, bukan itu. Bagaimana ya? Ya, begitulah! Ini saya ringkas saja.

“Banu!”
“Iya, guru”
“Coba kamu praktik shalat jenazah”

Mad Banu melirik kiri-kanan, menggaruk kepala, mencari mangsa, “Bagaimana ini, aku tidak tahu.” Begitulah kira-kira dalam benaknya. Tapi ia tetap bangkit dari duduknya.

“Guru, kalau shalat jenazahkan ada jenazahnya?”
“Benar. Baiklah. Kamu!” Guru menunjuk seorang murid.

Agak lama si murid berfikir. “dari pada disuruh jadi imam, aku tidak tahu bacaanya.” Dalam empat takbir itu apa saja yang harus dibaca dia tidak tahu. Begitulah kesimpulan yang ia temukan. “Iya, guru” Jawabnya.

“Guru, ini mayit tidakkah kita matikan dulu” Kata Mad Banu pada sang guru. Mad Banu yang agak nakal, omongannya juga nakal, dia memang suka bercanda. Sontak saja, ucapan Banu itu disambut tawa murid-murid yang lain. “Mandikan, kafani, lalu shalatkan, guru” Mad Banu ngenyel, ia berniat mengulur-ngulur waktu.

“Lalu dikuburkan juga, begitu maksudmu, Banu?” Jawab mayit percontohan itu. “Aiisss.. Mau berkudis cacar mulutmu, Banu” lanjutnya dengan suara pelan, agak bersik ditelinga Banu. Banu menahan tawanya.

Si murid sudah siap-siap berbaring. Mad Banu berdiri, setelah melihat kiri-kanan, ia mengangkat takbir. Lalu ia diam dengan mulut komat-kamit. Padahal Mad Banu masih mencari-cari apa yang harus ia baca. Ia sedikit melirik ke arah guru. Belum sempat guru mengingatkan, agar dibesarkan suaranya supaya murid-murid yang lain juga mendengar, tiba-tiba Mad Banu rukuk. Aiih, melompatlah si mayit tadi. Spontan.

“Aii. Banu. Shalat jenazah tidak ada rukuknya” Bentak si murid dan atau si mayit. Semua murid tertawa terkekeh-kekeh. Beberapa guru ada yang tertawa lepas, spontan, ada pula yang mencoba menahan tawanya.

Mengenang kejadian itu Mad Banu teresenyum-senyum sendiri. Lalu dilihatnya lagi kanak-kanak yang ada di TPQ itu, seolah dialah yang berkejar-kejaran di sana, dialah yang memain-mainkan cahaya senter itu, dialah semua kelakuan anak-anak yang polos, lugu itu. []

Catatan akhir:
Rencana saya, cerita Mad Banu ini akan saya lanjutkan menjadi semacam cerita Mad Banu Under Cover-lah, nantikan saja ceritanya. Selamat beranu ria para pembaca, para cinta. Emmuuah. Cikuikkuik. Berrrr.

Dengan penuh cinta-cinta penuh

Yi Lawe

Yogkarta, Mei 2018.