Saleum Teuka = Selamat Datang?
Akhir-akhir ini ada fenomena baru dalam masyarakat kita di Aceh. Ada keinginan sebagian orang untuk mengacehkan sejumlah padanan bahasa Indonesia. Terutama padanan-padanan yang pemakaiannya kerap dijumpai di tengah-tengah masyarakat. Tapi proses pengacehan itu agaknya dilakukan ‘serampangan’, sehingga hasilnya terasa sedikit menggelikan.
Barangkali di antara kita pernah melihat spanduk-spanduk penyambutan tamu yang tulisan di dalamnya dimulai dengan “Saleum Teuka”. Saya yakin padanan tersebut merupakan adopsi dari Selamat Datang. Secara morfologi, bisa jadi adopsi itu tepat, karena saleum = selamat, dan teuka = datang.
Akan tetapi, ketika beberapa kata bergabung untuk membentuk sebuah padanan kata, umumnya makna dasar kata-kata tersebut menjadi lepas. Jadi, untuk mengadopsi/menterjemahkan sebuah padanan kata, tidak boleh hanya mengacu pada makna dasar kata tersebut.
Sebut saja misalnya padanan how are you dalam bahasa Inggris. Jika mengacu pada makna dasar, mungkin harus kita terjemahkan sebagai bagaimana kamu. Tapi ketika diadopsi dalam sebuah padanan, maka how are you malah menjadi apa kabar dalam bahasa Indonesia.
“Dara baroe” dalam bahasa Aceh tidaklah kita terjemahkan sebagai gadis baru, tapi justru menjadi pengantin perempuan atau mempelai perempuan. Artinya, penerjemahan terhadap padanan kata (frasa), tidaklah selalu mengacu pada makna dasar kata-kata tersebut.
Ketika hari raya Idulfitri yang lalu, mata saya kerap menemukan spanduk ucapan selamat yang dimulai dengan “Saleum Uroe Raya”. Ini pasti merupakan adopsi dari padanan Selamat Hari Raya. Sama seperti proses adopsi Selamat Datang, sekilas memang terasa wajar-wajar saja, karena mungkin ‘pesan’ yang hendak disampaikan cukup sesuai dengan momen. Tapi coba telisik lebih dalam, maka akan terasa menggelikan. Bukan hanya nilai intrinsik bahasa menjadi hilang, tapi denyut emosi ketika kita mengucapkannya juga lenyap sama sekali. Datar. Hambar. Tidak ‘gurih’, seperti kuah kari tak ada santan-bawangnya.
Padanan Mohon Doa Restu juga hendak dicaplok secara mentah ke dalam bahasa Aceh. Tapi lagi-lagi, hasilnya menjadi tidak kena. Coba kalau Anda datang ke pesta kawin di gampong-gampong tertentu, mungkin Anda akan menemukan kata-kata begini “Kamoe Lakee Doa Seujahtra” atau “Kamoe Lakee Doa Seumpeuna” atau “Seuneumah Doa Seumpeuna”, yang tentu saja merupakan pengganti padanan Mohon Doa Restu.
Bagi kita orang Aceh, mungkin padanan-padanan ‘alien’ tersebut nyaman-nyaman saja. Tapi dari aspek kebahasaan jelas-jelas cukup menggelikan.
Seperti saya katakan tadi, proses adopsi sebuah padanan kata tidak boleh hanya mengacu pada makna dasar kata. Ketika sejumlah kata bergabung membentuk padanan, umumnya akan membentuk makna baru yang lebih terbuka. Pun setiap bahasa punya padanan tersendiri yang kadangkala sangat sulit untuk diterjemahkan atau diadopsi ke dalam bahasa lain. Sifatnya unik, spesifik, dan sangat khas. Biasanya mengacu pada dialek etnis, kultur budaya, dan rekam psikologis masyarakatnya. Sehingga ketika padanan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa lain, menjadi tidak nyambung, tidak berdenyut, rasa yang ada di dalamnya menjadi hilang.
Sebagai contoh misalnya padanan bahasa Aceh “dara sambinoe”, yang bisa saja kita terjemahkan menjadi gadis cantik. Tapi orang Aceh pasti merasakan ‘denyut’ berbeda ketika mengucap “dara sambinoe” dan mengucap gadis cantik. “Dara sambinoe” mengandung ritmik lokal yang sangat spesifik, sedangkan gadis cantik terasa datar-datar saja.
Boleh jadi Selamat Datang memang tak ada padanan yang tepat untuk kita adopsi ke dalam bahasa Aceh. Begitu juga Selamat Hari Raya dan Mohon Doa Restu. Barangkali saja padanan-padanan tersebut merupakan spesifik bahasa Indonesia. Meskipun demikian, bahasa Aceh tak perlu keblinger karena tak bisa mengadopsi padanan tersebut. Masih bisa menggali sendiri yang lebih spesifik dari akar kultural keacehan.
Bahasa Aceh cukup kaya padanan kata. Misalnya untuk Selamat Datang mungkin cukup sepadan dengan “Kruu...seumangat, Katrok Neulangkah” atau “Marhaban....”. Atau barangkali ada padanan lain yang lebih mengena dan berwarna. Mari kita selisik sama-sama. Setelah kita temukan, kita munculkan, lalu kita pakai sesering mungkin, agar akrab dengan keseharian masyarakat. Sehingga nantinya tak perlu lagi muncul padanan-padanan adopsi yang membuat kita harus senyum-senyum sendiri. Wallahu’alam ! ***
Your Post Has Been Featured on @Resteemable!
Feature any Steemit post using resteemit.com!
How It Works:
1. Take Any Steemit URL
2. Erase
https://3. Type
reGet Featured Instantly – Featured Posts are voted every 2.4hrs
Join the Curation Team Here