Identik Kehidupan Orang Aceh

in #aceh3 years ago (edited)

image

Benar atau tidak rumor bahwa kita sering mendengar dikebanyakan masyarakat aceh itu "Raya Haba" atau "Besar Ngomong" itu sudah di identik dengan kehidupan orang aceh. Sebelumnya saya sempat ragu dengan usikan tersebut, tapi ketika saya mencoba meneliti lebih jauh usikan tersebut memang ada benarnya juga. Orang "Raya Haba" itu biasanya sering meremehkan keberhasilan orang lain, dan ia juga selalu membanggakan dirinya di depan orang lain bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang terbaik dan selalu berhasil, yang namun keberhasilannya itu tanpa diiringi oleh bukti apapun.


Dalam masyarkat aceh orang "Raya Haba" atau "Besar Ngomong" itu sudah memiliki historinya masing-masing. Ini bisa dilihat pada sejumlah hadis maja yang diungkapkan oleh orang tua pada masa dahulu, misalnya "Cet Langet" atau "Cat Langit". Kata-kata ini diibaratkan untuk orang-orang yang kebanyakan berhayal atau Raya Haba. Biasanya orang "Raya Haba" itu ungkapan yang pernah dikemukakan dengan perbuatan yang dilakukannya selalu berbenturan.


Selain dari kata Cet Langet dalam masyarakat orang Aceh orang "Raya Haba" juga dikenal dengan istilah yakni, "Peugah haba lua nanggroe, taloe keuing ka taloe ngoem, (ngomong keluar negeri, tali pinggang terbuat dari ngoem/ sejenis rumput)". Fenomena "Raya Haba" ini sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat aceh, bahkan hingga sekarang fenomena itu masih ada.


Dua contoh hadis maja diatas adalah biasanya yang sering keluar dari mulut orang yang "Raya Haba" atau terlalu banyak berhayal. Bahkan fenomena ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat aceh, karena sudah menjadi turun temurun.

Muhammad Harun dalam bukunya mengatakan "bahwa orang yang besar cakap adalah orang yang suka bicara apa saja yang dikehendakinya meskipun orang yang di sekelilingnya tidak senang dengan pembicaraannya tetapi ia tetap saja meneruskan sampai kadang-kadang membuat orang bosan dan menghindarinya pada waktu yang lain, karena takut tersita waktu untuk mendengar ceritanya. Bahkan sering juga dikatakan dengan istilah "lage ureng peh toeng soeh" (seperti orang memukul tong kosong).

Mungkin akan lebih parah lagi kalau tradisi "Raya Haba" ini telah menyebar kedalam generasi muda aceh sekarang. Jika generasi "Raya Haba" tidak segera dimusnahkan, maka kedepannya aceh akan melahirkan sejumlah pemimpin-pemimpin yang "Raya Haba". Para pemimpin tersebut hanya bisa "Raya Haba" sedangkan program-program pembangunan tidak pernah terwujud, atau dalam istilah kata "Pajoeh Jaloe, Toeh Kapai".


Munkin untuk itu lebih bagusnya lagi untuk membangun aceh agar bisa lebih maju, maka mulai dari sekarang perlu dipersiapkan generasi-generasi yang memiliki tipikal yang memajukan daerah. Seperti pekerja keras, pemikir, kreatif, inovatif dan yang paling penting tidak "Raya Haba".