Setalam Cinta Sudah Tiada

in #aceh8 years ago (edited)

Rumah dua tingkat tempat aku tinggal satu jalan dengan rumah Bunda, Ibuku. Jaraknya hanya dipisahkan satu rumah tetangga, rumah Kak Gadih, salah satu tetangga terbaik yang aku miliki di kampung tentram itu. Meskipun sudah berbentuk jalan, masyarakat cenderung menyebutnya lorong, mereka menyebutnya Lorong Permata yang terletak di Desa Gampong Belakang, Meulaboh, Aceh Barat. Kalau anak-anak muda biasa menyingkat lorong tersebut dengan Loper. Istilah ini sering mereka gunakan untuk mengirimkan lagu lewat radio, Loper singkatan dari Lorong Permata. Rumah tempat aku tinggal, biasa disebut masyarakat dengan rumah Pak Camat, sebab aku sudah satu tahun menjadi Camat, terhitung 10 Januari 2004.

Sudah delapan tahun aku dan istri tinggal di rumah sederhana ini, rumah 5 X 23 meter berlantai dua, dibangun atas prakarsa Bundaku, namun dananya sebagian besar dariku. Lantai dua terbuat dari papan, namun dindingnya seluruhnya dari batu yang diplaster dengan semen. Aku tidak bisa bayangkan jika lantainya semen mungkin sebelum tsunami sudah sudah ambruk digoyang gempa. Namun lantai papan tersebut sangat menolong, rumah tetap tegar meskipun digoncang dengan gempa 9,2 SR.

Lokasi rumah ini sengaja dipilih Bunda agar aku dekat dengannya dan ia sangat berharap agar kami anak-anaknya bisa tinggal dekat dengannya, paling tidak satu kampung, untuk memudahkannya bersilaturahmi, namun karena tugas, abangku nomor satu tinggal di Banda Aceh dan yang ketiga di Jogyakarta. Pembangunan rumah itu dimulai hari perkawinanku saat pesta berlangsung, hari itu juga material berupa batu kali diangkut truk ke lokasi dimana rumah akan dibangun. Tanah lokasi rumah yang akan dibangun adalah pemberian Bunda kepadaku. Rumah itu selesai dua tahun kemudian, dari empat kamar hanya satu yang tidak bocor, selebihnya tempat air bersemayam saat hujan turun dari langit. Seperti biasa, setelah shalat subuh di meunasah1, Aku balik ke rumah untuk sekedar surfing internet dan membaca beberapa buku sekenanya dan karena hari itupun Minggu tidak masuk kantor.

Meunasah dan masjid sama-sama tempat beribadah bagi masyarakat Muslim, bedanya meunasah tidak menyelenggarakan Shalat Jumat, sedangkan masjid menyelenggarakan Shalat Jumat. Sebelum gempa dan tsunami 26 Desember 2004, penggunaan internet di Meulaboh sangat terbatas hanya dua puluh dua orang pelanggan Wasantara Net di Kantor Pos, namun pasca peristiwa tersebut, Badan PBB dan NGO telah memberi Suasana pasca subuh menjelang pagi memang sepi dan bencana biasanya datang tidak jauh atau sekitar waktu subuh. Kendatipun Syariat Islam telah diterapkan, namun jumlah orang shalat berjamaah sama saja sebelum Syariat Islam ditegakkan. Di meunasah, jamaah tidak banyak bertambah, tetap saja orang- orang yang sama yang jumlahnya sangat terbatas paling kalau Shalat Subuh, empat atau lima orang kecuali menjelang dan awal Ramadhan, jamaah sebagaimana daerah lain bertambah.

Kampung Belakang, itulah kampungku, terletak dibelakang Kota Meulaboh, karena disebut Kampung Belakang. Dulu Kampung Belakang gabungan dari beberapa kampung kecil sekitar tahun 60-an disatukan menjadi Kampung Belakang. Ada Kampung Para tempat aku tinggal, dulu bekas Kebun Karet, Kampung Mancang sebagai daerah penghasil buah Mancang, Kampung Jawa kemungkinan dibangun dan diduduki pertama oleh Orang Jawa, Kampung Masjid karena disitu terletak Masjid Nurul Huda, masjid besar di Kota Meulaboh kemudian berubah menjadi Masjid Kecamatan Johan Pahlawan, Masjid Kabupaten sudah dibangun baru di perbatasan Desa Seuneubok dan Drien Rampak.

Pagi tidak berubah, tetap datang dari sebelah timur. Demikian pula dengan Bunda, kebiasaannya sejak Aku tinggal di rumah itu tidak berubah, setiap pagi, kalau tidak beliau, sepupuku yang tinggal bersama beliau mengantar lauk pauk dalam satu talam untuk sarapan pagi Aku dan istri. Akan pengaruh besar dalam penggunaan media ini di Aceh, ini salah satu pengaruh positif bencana bagi masyarakat Aceh. Banyak manuskrip Aceh lama yang mengatakan bahwa kebanyakan bencana terjadi di waktu subuh dan pagi hari, saat kelalaian menyelimuti manusia. Istriku juga masak, tapi itu adalah kebiasaan Bunda, masak pagi hari dan sedikit Bunda sisihkan untukku sebagai bentuk kasih sayangnya kepada aku dan istri.

Pada Sabtu itu, 25 Desember 2004, Bunda datang bukan hanya dengan setalam kawan nasi sebagai tanda kasih kepadaku, tetapi ada map pula dikepitan tangannya di bawah talam. Setelah memberikan makanan kepada istriku, ia duduk mengajakku bicara tentang rencananya membagi sepetak tanah di Ujung Kalak, desa tetangga. Dalam pembicaraan itu, Bunda berkeinginan untuk membagi sepetak tanah kepada kami bersaudara tetapi tidak diberikan atas nama kami anak-anak lelakinya, tetapi kepada masing-masing istri. Sedangkan anak perempuan tetap diberikan atas nama mereka. Kami mempunyai enam bersaudara, anak pertama sampai keempat adalah laki-laki, Aku anak keempat, sementara anak kelima dan keenam perempuan. Semua kami telah berkeluarga, kecuali yang paling kecil. Bunda minta kepadaku untuk mengurus proses pengalihan tanah tersebut dengan sistem hibah, ia menyuruh aku karena aku Camat Johan Pahlawan yang juga merangkap Pejabat Pembuat akta Tanah yang tentunya mengerti masalah ini.

Dalam percakapan itu, aku bertanya kepada Bunda, “Mengapa tidak diberi atas nama kami saja yang laki-laki, mengapa hari nama istri kami, karena itu sudah administrasinya,” kataku kepada Bunda. Bunda hanya mengatakan “Bunda senang memberikan kepada menantu perempuan. Bunda suka dengan mereka”. Biasanya kata suka dalam bahasa Indonesia menandakan segalanya, cinta, senang dan menyenangkan. Aku juga heran, mengapa pagi itu, ia begitu berkeinginan sangat untuk memberikan tanah tersebut, apalagi dari mulutnya keluar kata-kata, “Bunda ingin semuanya berjalan baik sepeninggal Bunda,” ujarnya.

Kedatangannya dengan membawa masalah yang tidak lazim, tidak membuat aku berpikir apa-apa, sebagai seorang yang religius pantas beliau ingin menyelesaikan segala sesuatu sebelum menuju ke rahmatullah. Ternyata pembicaraan itu adalah yang terindah dan sekaligus terakhir dan berlangsung di ruang keluarga rumahku, dimana Bunda duduk diatas sebuah kursi dan aku duduk di lantai atas tikar rotan. Itulah kawan nasi dalam talam terakhir rupanya, tidak pernah ada lagi, tiada lagi talam cinta itu, pergi bersama tsunami dan dibawa Bunda ke alam sana menemui Rabnya.

Aku sangat merindukan pemandangan saat Bunda dengan akrab membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya, duduk di rumah tetangga di belakang rumah untuk menikmati makan pagi sambil bercerita, sebuah pemandangan persahabatan dan keikhlasan dalam bertetangga, tapi itu sudah pergi seiring surutnya tsunami yang naik ke darat dan kembali pergi entah ke mana bersama sama ibu-ibu lain yang tak pernah kami temui lagi. Bunda adalah sosok ibu yang terindah yang aku miliki, ia lahir dari enam bersaudara, namun keluarganya terbiasa hidup ramai dengan anggota saudara yang datang dari jauh seperti Aceh Selatan, Pulau Simeulue, Pulau Banyak.

Dulu ketika gadisnya, aku pernah melihat foto Bunda yang langsing dengan baju sari India, memang bukan sari asli, hanya kain batik panjang yang digunakan sebagai pengganti sari, namun tetap gaya India, ia kelihatan cantik dengan badan yang ramping, kening diberikan tanda, rambut dijalin dengan hiasan bunga, foto hitam putih itu hanya tinggal bayangan, sudah hilang terbawa tsunami dan sekarang foto itu jadi bayangan yang masih tersisa. Bunda dan Abak, panggilan ayahku memang punya hobby ke bioskop, rupanya kebiasaan ini adalah hobby mereka berdua sejak belum menikah, Bunda sering bersama kawan-kawannya menikmati film bioskop yang didominasi film India, demikian juga dengan ayahku suka pergi ke bioskop bersama kawan lajangnya. Ketika keduanya bersatu, kebiasaan itu terus berlanjut.

Ada beberapa biokop tapi yang Aku kenal adalah Nasional atau Megaria, kadang sudah tiga jam penonton menunggu film diputar, terkadang penonton harus kecewa karena film yang dibawa dari Banda Aceh hari itu tersangkut di Suak Seumaseh atau daerah perjalanan lain karena banjir dan transportasi masih menggunakan rakit sehingga tidak bisa diseberangkan, baru pada tahun 1989 Aceh Barat bebas rakit, kalau tidak paling sedikit ada tujuh rakit yang harus dilewati. Hal ini terjadi kembali setelah gempa dan tsunami, namun pada tahun 2010 jalan yang hancur tersebut selesai dibangun kembali dari dana US AID.

Di Meulaboh pada masa jayanya bioskop, kalau film India yang diputar, hampir-hampir gedung bioskop itu seperti pasar malam, begitu antusiasnya masyarakat, terutama dari desa nelayan ingin menyaksikan film India itu. Dalam bioskop mereka bertepuk tangan dan bersorak sorai kalau “anak muda” atau bintang utama dapat melumpuhkan bandit seperti yang dilakukan Amitabachan saat menghajar Anjab Khan dalam film Sholay misalnya. Asap rokok dan seleweran burung-burung hujan dalam bisokopitu ikut meramaikan suasana, dengan bau kencing penonton yang malas ke toilet, padahal toilet terletak di bagian depan yang juga menyebarkan bau pesing.

Dulu di Meulaboh film-film India adalah tontonan yang menarik, Rasi Kapoor, Hemamalini dan juga film-film Indonesia dan Malaysia dengan bintang P Ramle seperti Madu Tiga adalah film favorit orang kampungku, di situlah Bunda dan Abah meluangkan waktu setiap ada film baru. Sedangkan Abak berasal dari desa tetangga tempat kami tinggal, beliau berkeluarga dengan Bunda berumur tiga puluhan dan lebih muda Bundaku sepuluh tahun. Bunda adalah wanita yang telaten dan tabah dalam merawat suami. Abak telah terkena diabetas sejak tahun 1967 atau berusia tiga puluh empat tahun, Abak meninggal 1993 karena penyakit itu, selama masa menderita diabet Bunda setia selalu merawat Abak.

Bunda pernah bercerita kepadaku bahwa keluarganya jika sudah jam enam sore, dapur sudah ditutup, tidak ada lagi makan malam, makan malam harus dilakukan sebelum jam enam.Namun sejak Abak menjadi anggota rumah tangga keluarga Bundaku, Abak hampir setiap malam menyuruh Bunda masak seperti masak untuk makan pagi dan siang.
Jadi Abak sering makan malam sebelum tidur, mungkin itu yang menyebabkan diabet kata Bunda kepadaku. “Karenanya, jaga kesehatan, jangan makan malam sebelum tidur.”ujar Bunda. Namun kini keduanya telah tiada, hanya kenangan yang kutulis ini, kadang dan mungkin tidak berguna bagi pembaca.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.086
BTC 59294.44
ETH 1583.77
USDT 1.00
SBD 0.37