Hitam Itu Suci
(Sebuah Pembelaan Khusus Teruntuk Tu-ngang Iskandar dan Penolakan Keras atas Kesoktahuan Reza Mustafa)
Aku terpesona dengan karya Bung Tu-ngang Iskandar yang cuma sekali terjebak typo di kata ke-4 paragraf ke-11; kupikir penting menyatakan ini sebagai bukti bahwa aku benar menyimak dan mencermati karya beliau. Juga untuk memahami bahwa karyanya dibuat tanpa ketergesaan, penuh kematangan mental dan stabilitas temperamen; meski sesekali aku tepercik letup-letup-mesra amarahnya. Sebagai penghormatan kubaca tulisannya hingga tuntas, sekaligus memahami kesebalannya terhadap peminum kopi pahit nan kemaruk wal eksibisionis dalam senarai berjudul Surat untuk Peminum Kopi Pahit
Setelah kucermati, unsur sok pamer dan kemaruk menempati peringkat pertama penyebab kesebalannya. Selanjutnya, hal yang sungguh paling menyentuh batinku adalah perhatian beliau terhadap nasib petani gula. Menyusul perhatiannya terhadap nasib peminum kopi pahit yang akan lebih banyak mengkonsumsi antioksidan yang ia anggap membahayakan.
Coba bayangkan, wahai saudara-saudari sejagad… di tengah kesibukan dan waktunya yang berharga, Bung Tu-ngang Iskandar sempat meluangkan perhatian terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya. Bagiku, ini adalah sebuah sikap kenabian yang layak menjadi panutan. Mari kita ulangi bersama, Bung Tu-ngang Iskandar mengkhawatirkan mengenai sikap kemaruk wal eksibisionis para peminum kopi pahit, ancaman kesehatan para peminum kopi pahit, nasib petani tebu dan industri gula beserta setiap insan yang terlibat di dalamnya...
Kuharap, Bung Tu-ngang Iskandar dapat memahami tanggapanku ini sebagai dukungan terhadap misinya, sekaligus menambah amunisinya dalam menyerang dan/atau memprovokasi kaum peminum kopi pahit. Meski nukilan yang mengandung 658 kata tersebut membuka diri terhadap serangan balik, aku samasekali tak berupaya menyerang balik. Cuma Reza Mustafa yang sungguh sewenang berani menyalurkan kelancangan semacam itu. Kekeliruan Bung Reza Mustafa makin menjadi saat menyeret keterlibatan Anjing berkedok Almanak China. Sungguh menyebalkan! Tolong ingatkan jika aku melakukan serangan di luar kesadaran. Kemungkinan besar kesalahan terjadi karena kerusakan keyboard.
Sebelum kita melangkah lebih jauh (macam mau melamar anak orang aja...), ada baiknya menjelaskan latarbelakangku di dunia perkopian untuk menegaskan bahwa aku bukanlah insan yang kompeten soal rasa kopi. Semua yang kuceritakan tentang kopi semata berasal dari hasil obrolan dalam pergaulan dunia perkopian adanya. Sepanjang 2 tahun terakhir, aku mencari uang sebagai petani, pengolah dan pedagang bubuk kopi. Soal pemahaman terhadap rasa kopi, aku tak pernah berupaya belajar khusus. Namun, aku yakin saja, ketika kopi diperlakukan mesra, rasa yang hadir di tiap lidah akan menyajikan keintiman adanya.
Pendidikan formalku juga samasekali tak berkaitan dengan kopi maupun pertanian. Jadi, aku tak ‘kan menggunakan kompetensi khusus untuk mendukung Bung Tu-ngang Iskandar melaksanakan misinya.
Jika sekedar hendak memberi saran, mungkin kalimat, “Aku menganjurkan agar mengedepankan kata maklum ketika berhadapan dengan orang yang seperti itu” sudah cukup kusampaikan. Tapi jangan lupa, niatku adalah untuk memberi dukungan amunisi pada Bung Tu-ngang Iskandar. Meski aku mesti menyiapkan selembar-putih ketabahan jika dukungan ini tak diharapkannya.
Sungguh, kalimat “Semoga kurator kopi ikut campur dalam persoalan yang sebenarnya gak masalah ini” menjadi bagian yang membuatku tergoda untuk memberi dukungan. Aku langsung teringat Kapten Jack Sparrow dengan ungkapannya yang sungguh mempesona, “Masalah bukanlah masalah. Hal yang menjadi masalah adalah sikapmu terhadap masalah”. Persoalannya, aku bukanlah kurator kopi. Jadi, aku tak menolak jika tanggapanku ini tergolong sebagai tindakan lancang adanya. Secara lancang pula, aku mencoba menyimpulkan bahwa sesungguhnya hal yang diangkat oleh Bung Tu-ngang Iskandar bisa saja tidak menjadi masalah, melainkan sikapnya terhadap masalah.
Reputasi sebagai peminum kopi bermula dengan mendalami perjamuan kopi Solong, Atlanta dan Cekwan ketimbang kopi (yang disebut oleh Bung Tu-ngang Iskandar) pahit. Bermodal provokasi Abang Letting, aku meninggalkan mata kuliah Sosiologi asuhan Pak Taqwaddin dan Pak Saifuddin Bantasyam; para pengasuh matakuliah yang saat itu tak terlalu open dengan daftar hadir. Solonglah yang mulanya menjadi pergaulanku dengan perjamuan kopi ala warung.
Baiklah… kita masuk ke ruang pirsa. Sebagai insan yang lebih banyak bergaul dengan cairan, Bung Tu-ngang Iskandar terganggu dengan desibelitas suara pemesan kopi pahit yang mengganggu indera rungu. Anehnya, kekayaan pengalaman dan pergaulannya terhadap rasa dan cairan tak mampu menghadirkan kemaklumannya terhadap para pecinta –atau katakanlah pelagak– kopi pahit. Ini halimun penting yang mesti tersingkap sorot mentari. Fakta ini menguatkan dugaanku bahwa Bung Tu-ngang Iskandar terganggu dengan desibelitas, soal SPL (Sound Pressure Level) semata. Hal yang mendidihkan aliran darahnya.
Nah… yang masih menjadi misteri bagiku adalah, macam mana Bung Tu-ngang tahu maksud dan tujuan “… biar kalian dianggap keren oleh kami para pecinta manis asam asin ini kan?”
Mungkinkah anggapan itu hadir karena suasana hatinya tengah berada dalam kondisi tertentu? Fakta ini bertentangan dengan sebiji typo dalam karyanya. Sungguh, aku tak berani memperkirakan jawabannya. Masih juga aku bingung dengan pernyataan “…sok menjadi pecandu kopi tulen dan supaya dianggap anak muda yang paling pap sekerbau jagad”. Mungkin 2 tahun menjalani hidup dengan interaksi yang minim dengan siaran televisi membuat aku alpa memperbarui standard keren yang tengah berlangsung di luar sana.
Hasrat “…kupasoe glah-glah kupi lam abah keuh!” kupandang sebagai bagian dari hak berekspresi dengan segala konsekuensi yang terkandung di dalamnya.
Aku berharap Bung Tu-ngang Iskandar dapat memberi pemahaman; bagaimana menerjemahkan pilihan meminum kopi pahit sebagai memilih hidup pahit? Lantas, bagaimana pula mengartikan “Hidup kita memang sudah pahit pap, untuk apa dipahit-pahitkan lagi, itu akan menambah penderitaan kita dan orang lain”? Maksudku, bagaimana kepahitan hidup kita akibat memilih kopi pahit dapat menyebabkan pahit pada hidup orang lain?
Kebingunganku masih bertambah dengan kesimpulan perlunya metode ruqiah untuk menyembuhkan kegilaan. Setelah berupaya mengurai, aku menemukan jenjang tahapan logika Bung Tu-ngang Iskandar sebagai berikut:
a. Meminum kopi pahit adalah kegilaan atau dapat menyebabkan gila;
b. Peminum kopi pahit adalah orang gila;
c. Orang yang gila akibat minum kopi pahit perlu disembuhkan; dan
d. Metode penyembuhan yang dianggap tepat menyembuhkan kegilaan akibat minum kopi pahit adalah ruqiah.
Namun, kebingunganku masih kalah oleh rasa kagum oleh sarannya untuk bercermin di tai kerbau. Meski aku bingung, tai kerbau jenis apa yang layak dijadikan cermin; Kerbau Toraja, kerbau yang kerap kulihat atau mungkin kerbau jagat? Atau mungkin tai tiap kerbau (atau tiap tai kerbau) dapat dijadikan sarana becermin?
Nah… sikap yang paling kukagumi dalam senarainya adalah kepedulian terhadap petani tebu dan peternak sapi perah yang bercokol di paragraf ke-6. Sepengetahuanku, gula pasir hasil rafinasi menjadi pencetus diabetes yang menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Sebaiknya alasan ini dihilangkan karena bisa saja orang menuduh begini, “Tu-ngang Iskandar adalah antek-antek dokter spesialis diabetes karena menyarankan orang tetap mengkonsumsi gula pasir”. Sah-Sah saja adanya jika ada yang berprasangka demikian. Mana bisa kita hambat pikiran orang. Namun… percayalah, aku tak begitu.
Jadi begini, Bung… perkembangan konsumsi kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit juga diikuti dengan peningkatan konsumsi gula aren yang menurut beberapa dokter lebih baik bagi tubuh ketimbang gula pasir. Bagaimana dengan peternak sapi perah? Jangan khawatir, susu yang dikonsumsi di warung kopi kebanyakan adalah susu kental manis. Faktanya, susu kental manis lebih banyak berisi essense atau sirop berasa susu ketimbang susu murni. Para peternak sapi peras juga memiliki ruang dalam pasar kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu. Pembuatan latte, cappuccino dan galao menggunakan susu murni.
Soal strategi pedagang yang menyarankan kopi tanpa gula sebagai upaya meraup untung lebih juga masih layak kita diskusikan. Sudah menjadi hak seseorang yang berdagang untuk menerapkan strategi mencari laba besar. Namun, faktanya, kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu, harganya lebih mahal ketimbang kopi saring karena bubuknya cuma dipakai sekali saja. Bandingkan dengan kopi saring. Uraian ini turut menjawab prasangka “…bukankah di mana-mana kopi minus gula itu lebih mahal daripada kopi pakai gula” di paragraph ke-7. Lagipula, isi kantong dan rekening orang sukar diduga. Mungkin ‘mahal’ yang tergolong kata sifat itu bermakna subjektif. Mahal bagiku, belum tentu mahal bagi orang lain.
Sayangnya, arah gugatan terhadap tuduhan guna-guna penjual kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu, belum bisa terwujud karena bernasib sama dengan sikap masyarakat terhadap kaum LGBT; KUHP belum mengaturnya. :P
Tolonglah… wajarkan saja mimik peminum kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu, sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Meski reaksi yang timbul mengekspresikan kealmarhuman sekalipun. Kupikir, ekspresi itu baru bisa kita jadikan masalah sosial jika sudah menimbulkan efek mengalmarhumkan orang lain. Kalau macam itu ceritanya, aku bersedia berdiri di garda terdepan bersama Bung Tu-ngang Iskandar untuk melawan mereka.
Jadi tak perlu menganggap tindak penyajian kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu dalam menu café atau warkop sebagai kekerasan. Apalagi sampai melibatkan lembu segala. Kasihan lembunya. Penghujung nasib hewan ruminansia itu sebagai objek sembelihan saja sudah cukup berat. Apalagi jika ditambahi tugas memijak paras peminum kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu.
Sepengetahuanku, rasa kopi tidaklah pahit. Sebab, setiap sruputan berisi beragam rasa. Tiap sruputan kopi adalah akumulasi dari 36 rasa dan 78 aroma (CMIIW).
(Gambar: Jentera Rasa Kopi)
Sumber
Rasa kopi dapat dianalogikan seperti cakram warna atau spektrum warna yang pernah kutemui di ruang praktikum fisika. Saat diputar, cakram berwarna-warni itu berubah menjadi putih. Jadi, kopi terkesan berasa pahit karena ia adalah akumulasi rasa dan aroma sebagaimana putih mewujudkan akumulasi warna.
(Gambar: Jentera Warna)
Sumber
Kebingunganku selanjutnya berkait dengan kesan anggapan negatif Bung Tu-ngang Iskandar terhadap antioksidan. Setahuku, antioksidan adalah vitamin, mineral, atau sejenis nutrisi yang berperan dalam menjaga dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat radikal bebas. Keburukan kopi justru hadir ketika kopi disangrai terlalu hangus; hal yang terjadi pada tiap kopi saring.
FYI, penyangraian kopi bukanlah penghangusan kopi, melainkan pemasakan kopi menuju titik kematangan tertentu. Proses sangrai yang lebay akan menguapkan nutrisi dalam kopi berubah menjadi zat arang (karbon) yang tersohor sebagai karsinogen (pencetus kanker). Jika ada pecandu kopi yang terserang kanker, kemungkinan dalam hidupnya ia giat mengkonsumsi kopi yang disangrai hingga hangus.
Mungkin para peminum kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu tengah ‘berhijrah’ dari kopi sesat menuju kopi yang tepat. Mungkin saja, bukan?! Sebab, matang dan hangus sungguh berbeda.
Khusus untuk saran mencampur kopi dengan kaus kaki, aku tak sanggup mengikutinya. Sepertinya butuh jenjang kesadaran tingkat tinggi untuk menempuhnya. Maafkan aku karena belum mampu mengikuti saran berharga itu saat ini. “Entah esok hari… entah lusa nanti… entah…”
Satu lagi, aku suka penggunaan kata ‘species dan spesies’ untuk menjelaskan kopi dan peminumnya. Sebuah kenakalan berbahasa yang indah. Namun, aku sedikit bingung dengan istilah ‘sapi peras’ –meski paham dengan maksudnya. Soalnya, sesuatu yang diperas biasanya menjadi kusut (kain cucian), berkerut (kain cucian) atau meninggalkan ampas (tebu dan kelapa parut). Sementara kata ‘perah’ –setahuku– selalu dipadankan dengan hewan yang susunya dikonsumsi manusia. Tak ada pengerutan, pengusutan dan penyusutan puting susu si hewan usai tindakan perah diterapkan. Mohon petunjuk.
Nah… di paragraf ke-12, Bung Tu-ngang menuliskan pepatah “Dimanapun bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Pepatah yang sungguh indah karena berarti tiap orang mesti menyesuaikan nilai yang dianut dengan tempat ia hidup. Persis dengan kemampuan manusia beradaptasi dalam kelindan jentera sejarah bumi. Apakah lantas pepatah ini bisa diartikan sebagai kewajiban meminum kopi bergula? Atau, apakah pepatah ini bisa diartikan kemustian meninggalkan selera pribadi yang tak menimbulkan kerugian bagi orang lain?
Seorang kawan yang mendalami ilmu kopi pernah menyatakan bahwa kopi adalah tanaman higroskopis; menyerap rasa dan aroma di sekitar tempat tumbuhnya. Mungkin itu sebabnya, para peminum kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu, memilih kopi tanpa gula pasir, untuk mengalami keragaman rasa.
Selain itu kopi juga memiliki kemampuan meredam aroma. Itu sebabnya, bubuk kopi (baru atau sisa seduhan) efektif melenyapkan aroma sepatu yang kerap mendekati bau tai kucing.
Saat ini, aku masih suka menyesap nikmat kopi saring bergula pasir dan juga kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu. Kupikir sudah cukup bumi dipilah menjadi negara, manusia dipilah menjadi ras dan suku, ketuhanan dipilah menjadi agama dan agama dipilah menjadi kotak mazhab. Biarlah keberkopian tiap insan bergantung pada papila dan daya-biaya masing-masing. Sebab, pengkotakan bumi, manusia, ketuhanan dan agama telah terlalu banyak menumpahkan darah. Jangan sampai segmentasi selera kopi menambahkan warna merah dalam bingkai lukisan peradaban.
Hingga detik ini, sebelum ada tanggapan resmi dari Bung Tung-ang Iskandar, aku masih tetap beranggapan bahwa sesungguhnya persoalan desibelitas para pemesan kopi (yang menurut Bung Tu-ngan Iskandar) pahit itulah yang sejatinya membidani lahirnya kesal tersebut.
Adaptasi kopi dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya telah terwujud dalam kopi (yang menurut Bung Tu-ngang Iskandar) pahit itu. Sebuah kebun kopi yang ditumbuhi pohon Nangka akan menghadirkan aroma Nangka, kebun kopi yang ditumbuhi pohon Terong Belanda, kopi yang dihasilkan akan ‘memutar rekaman’ rasa dan aroma buah tersebut di rongga mulut dan hidung; syaratnya, jangan campur kopi dengan apapun selain air penyeduh.
Jika seluruh proses terselenggara tepat, tiap bintil pupila akan bersenggama dengan 36 rasa dan 78 aroma yang telanjang-pasrah-mengangkang pada tiap sruputan. Seingatku, Bang Djawon pernah berkata, “Cara menikmati sesuatu akan menentukan rasa yang akan kita peroleh”. Tampaknya, frasa “cara menikmati” menegaskan beban tanggungjawab kepada subjek, Sang Peminum.
Jadi, jangan-jangan… pahit kopi bukanlah tanggungjawab Sang Kopi, melainkan kegagalan peminum memahami ragam rasa yang hadir dalam tiap sruputan.
@bookrak ngen @kitablempap tengah dilanda rindu...
Hoe ka presiden lempap. Sep mangat bak ta rasa... 😂😂😂😂
Hahahahahaha...
Saleum meuturi.
Saya kira inilah tulisan yang paling serius dalam menanggapi tulisan saya yang bernada provokatif itu. Membaca tulisan ini, saya seperti berada dalam dunia percintaan yang meulempap, dimana saya seperti merasakan dicium dan tamparan dalam satu waktu sekaligus. Ini sebuah kenikmatan luar biasa yang diberikan bung @sangdiyus. Terimakasih yang sebenar dan sebesar-besarnya bung. Salam cinta selalu. @bookrak ho, tulong baca tulisan penutup nyoe, anggap sebagai ngen rah abah bagi tanyoe...hhhhhh
ketika literasi berbalas literasi maka perang yang menggunakan nuklir tak ada arti, aku menikmati kekacauan ini, kalian hebat, salam kenal bg Tu-Ngang Iskandar alias @kitablempap.
Ketika literasi berbalas literasi, nuklir menjelma menjadi anu yang dikelir...
:P
Salam kenal dan salam Cinta kembali. Warga Bivak Emperom memang paling bisssaaa kalau urusan merangkai rindu menjadi Terduga Perseteruan. Tetaplah pap dalam panduan @kitablempap...
Apa lagi yang perlu tanggapi, sekira ulasannya @sangdiyus sebernas begini? Tu-ngang Iskandar dengan @kitablempap nya memang lempap, dan tanggapanku yang pula sudah ditanggapi balik hanya berniat untuk memancing ke-lempap-annya yang lain, tahu-tahu sudah lebih dulu dibikin lempap dalam artikel ini. Pun Tu-ngang, aku yakin, malam ini hingga sepekan nanti terus merasa seperti tengah dicium sekaligus ditampar setelah membaca ulasan di atas--aduh--apakah ia akan terlibat dalam ngiang-ngiang sadomasokis pikiran? Mari kita tunggu jawab, di tulisan-tulisannya selanjutnya. Terlebih, tanggap menanggapi dalam bentuk literasi begini, di steemit ini, kupikir inilah yang kita harapkan bersama.
Benarkah bisa-rindu meninggalkan bilur nyeri begitu lama? :P
Padahal aku membelai mengapa engkau terjemahkan sebagai tamparan. Hahahahahaha...
Ternyata asyik sangat bisa berdiskusi macam begini. Cup... cup... ah... mwah... mwah... mwah...
ini yang aku kira keren, salam kenal bg Reza Mustafa @bookrak.
sepertinya kali ini postingan bang @sangdiyus yang terkena hack oleh tangan tangan yang tak tangung-tanggung menjawab (Halaaah, apalah ini). karena bisa jadi ada pihak pihak yang tak ingin per-seru-an ini segera berakhir hanya karena @sangdiyus menuliskan artikel ini.
Ini murni kesalahan keyboard, Zar...
Campurlah kopi dengan Bandrek, mudah2han komplit rasanya @sangdiyus
Tawaran menarik lainnya. Kukira mau bilang campur kopi dengan jus caterpillar, Wak...
Seep bereeeh memang bg @sangdiyus selalu mampu menghipnotis
Tatap mataku...
Mantap that cara temuleh dron bang, ro darah lam hidong ate ta baca, (manisan) memang lon hana that mengerti dalam hal menulis tp akai ngon utak metettet wate di cerna.paru-paru me keboh keboh lage sabon rah baje,hai abeh rukok gudang sira mirah sebungkoh. Karna memang asyik that wate ta baca.salem rakan semoga kebaikan selalu bak jaroe tanyoe.
Nyoe teungoh meureunoe chit, Ngon... Manisan atawa mimisan, Ngon? :D
Aamien... Semoga Po Teu Allah nepeu makbul do'a droneuh, Ngon.
Pembelaan tingkat dewa. Bergetar lutut dewa atas alpa tahu bahwa akan ada tulisan pembelaan yang sederas erupsi ini.
Bang Mayor memang paling bisssaaa...
Terimakasih sudah singgah ke lapak emperan toko ini.