Irreversibel (Bagian 3)
Hujan lebat dan SD Montessori tempatku bersekolah sudah mulai sepi, bukan hanya hujan dan petir yang menyambar-nyambar menyeramkan tapi juga udara dingin membuatku gigil, semakin mengerikan saat sosok itu hadir.
Seorang pria dewasa yang matanya merah seperti setan, sejak mendung tadi ia berdiri di luar pagar mengamatiku, tak pernah aku setakut ini debaran jantungku membuat dada seolah akan pecah berpacu dengan suara berisik hujan. Aku marah pada Mama yang lagi-lagi telat menjemputku, aku kesepian, aku ketakutan. Berpikir kenapa aku tak duduk di depan ruang guru di seberang sana, walau hanya ada beberapa guru yang masih belum pulang dan tukang bersih-bersih, setidaknya aku tak sendiri seperti ini.
Suaraku tercekat, seperti mimpi buruk aku tak bisa bergerak dan pria itu mengatakan sesuatu dan memanggilku aneh sekali, aku hanya meronta dan memanggil Mama dengan sisa keberanianku dan berteriak tolong sekuat yang aku bisa. Ia akan membawaku lari ke luar pagar dan tiba-tiba ada yang mencekal kakinya dengan payung.
“Setan kecil sialan!” dengus pria itu. Aku jatuh terjerembab, hujan mulai mereda tapi aku basah kuyup dan sekuat tenaga kucoba bangkit walau masih gemetar. Seorang anak lelaki dengan payung dan mantel memukuli pria dewasa itu.
“Beraninya sama anak kecil!” Terdengar teriakannya sambil memukulkan payung ke arah pria tadi sekuat tenaga. Dengan kasar si pria mendorong anak itu hingga jatuh, aku bisa melihat anak itu kesakitan tapi dengan cekatan mengeluarkan sebuah kamera poket dari kantong baju di balik mantelnya. “Awas pedofil jahat, aku laporin kamu sama guru dan polisi!”
Si pria kalap dan menarik tangan anak laki-laki itu, kekuatanku mulai pulih dan aku berteriak tolong sekencang yang aku mampu. Tukang kebun melihat kami dan menyusul lengkap dengan garu di tangannya. Pria gila itu sadar tak ada lagi celah mencelakai kami karena dari ruangan guru juga ada Pak Bayu keluar.
Aku dibawa ke ruang guru yang ternyata hanya Pak Bayu seorang yang masih tinggal, beliau menelpon Mama dan anak laki-laki yang belum kutahu namanya itu mengobrol dengan Pak Bayu dan tukang kebun. Anak itu menyerahkan kamera tapi mengambilnya lagi. Mendekatiku dan tersenyum, sepertinya dia tidak sekolah di sini, aku tak pernah melihatnya, manik matanya hitam dan berkilau. Badannya sama tinggi dengan anak kelas enam SD yang paling bongsor yang pernah kulihat, tidak terlalu gemuk atau kurus.
“Jangan takut, sudah nggak apa-apa lagi. Kamu baik-baik aja sekarang.“ Suaranya agak serak tapi nyaman sekali menelusup hangat ke dalam hatiku dan aku percaya, aku baik-baik saja. Aku sudah aman.
Bersambung...
Anak itu adalah hantuuuu
Bagus. Undang dia di acara baru itu..
👍👍👍
Kak, bagian 1 linknya di tempel di sini juga. Jadi, pas penasaran tinggal klik baca.
Ceritanya seru tapi nuansa degupannya gak cukup kencang, cepat kali putus rasa horornya.
Makasih Ayu @betterperson, iya belum pande kakak ini dan rada terburu mostingnya..makasih masukannya ya...
Iya, betul. Jadi ga sulit mencari bagian pertamanya, kan aku kepo, pengin baca!
Anak penolong itu pasti datang dari dunia antah berantah. Apakah kami akan mengetahui sosoknya di bagian 3? Selengkapnya akan dikupas setajam parang nektu di kisah selanjutnya!
Akankah parang nektu setajam silet dan sekokoh tiang listrik?
Wakakkakka..bencih akuh!
Makasih ya, Ocit, tawaran parangnya. Senang akhirnya dirimu singgah.
Jd citra ngak pernah kemari sebelumnya??
Itulah bang ya. Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di belakang lemari deuh ubee raya.
Enak aja. Kakak bukan gajah😤
Jagoan datang di waktu yang tepat. Luar biasa bocah laki-laki pemberani itu. Penasaran menunggu kelanjutan ceritanya.
Nantikan tanggal mainnya, ya.. #eh...
man in hoodie...... kak aini, kenapa mesti itu ilustrasi fotonya....jatuh cintrong guwek. Jadi teringat potongan cerita dalam Sirkus Pohon deh, tentang gadis kecil bernama Tara yang ditolong lelaki kecil bernama T....lupa namanya.
Aku marah pada Mama yang lagi-lagi telat menjemputku, aku kesepian, aku ketakutan. Hmmm pemilihan diksi kesepian di situ kok terasa kurang cocok ya,coba kakak rasa-rasa lalgi, apa makna kesepian?
Iya kah? Hmm..apa ya? Penulis kurang menjiwai karakter tokoh, nih. 😅😅😅 makasih ya, Han. Nanti coba diedit lagi.
di bagian akhir sepertinya mendebarkan. Kayaknya... selanjutnya akan ada hal yang tidak aman disaat dia sudah merasa aman itu.
😄😄 kayaknya gak kali ya kak, soalnya Aini belum pande buat suspence yang bikin greget. Harus belajar banyak dari Kak Pida