Diskusi Kelas #Plankton (1)
Usai ngopi pagi, 9 Februari 2018, saya bertandang ke kantor sebuah LSM tempat @harock bekerja. Saya kerap singgah di sana menunggu jadwal menjemput anak yang sekolah tak jauh dari tempat itu. Di meja, sudah ada empat kawan sedang beraktivitas menyelesaikan tugas-tugasnya. Hanya @harock yang punya akun #steemit, lainnya tidak.

Bersama @harock | Source: dokumen pribadi
Sebuah berita soal gempa dan kerusakan di Kecamatan Geumpang, yang terjadi kemarin sore saya tulis dan kirimkan ke redaksi. Tugas sementara selesai. Lalu isu-isu hangat kami diskusi di meja persegi, soal ‘kericuhan’ para rekan di media sosial tetangga tentang keberadaan sebuah unit kerja di Pemerintah Aceh yang sedang ‘panas’.
Saya terpaksa mengintip lagi isu di media sosial itu, hanya sesaat. Melepas senyum dan no coment. Jujur sudah sebulan lebih saya tak membuka akun media sosial seberang sana.
Tiba-tiba @harock melempar tanya, “gimana steemit hari ini?” Seperti biasa saya jawab sekadarnya, “aman terkendali.”
Lalu kami berdua pindah topik tentang #steemit meninggalkan bahasan tiga kawan lainnya. Tapi diskusi terbatas sesuai kemampuan, maklum masih kelas #plankton. Kelas itu paling rendah di ranah dunia steemit, setelahnya ada #minnow, #dolphin dan #whale di peringkat atas.

Source: Ecosystem steemit
“Kapan kita bisa menjadi whale, atau hanya bisa berpimpi,” saya bertanya ke @harock setengah pesimis, setengah lagi tentunya optimis. Lagipula tak salah punya mimpi.
Teringat lirik lagu Iwan Fals, “Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli…” entahlah. Saya tak ingin meneruskan liriknya, karena tak mau sampai harus menjual harga diri. Yang hafal lagu lawas berjudul “Mimpi yang Terbeli” ini, silakan meneruskan sendiri.
Pembicaraan mengalir saja selama satu jam lebih. Misalnya kisah @harock tentang plagiat yang menjadi dosa dan susah terampuni. Beberapa kawan terdeteksi sudah didatangi pengawas yang bernama @cheetah.
Saya mencari beberapa akun yang dikunjungi “polisi” dan menemukan upvotenya. Tapj kata @harock, itu sebagai tanda bagi kelompok @steemcleaners melakukan tugasnya: deteksi, investigasi dan kesimpulan yang bisa berujung maut dengan blacklist akun.
Soal ini, @bahagia-arbi, senior di steemit meninggalkan pesan di postingan saya sebelumnya (Filosofi Batas dalam Steemit), pesannya adalah motivasi bahwa Steemit adalah media sosial (medsos) yang asyik dan tidak perlu dikhawatirkan. Penyuka copy-paste maupun pencipta konten hoax, SARA dan lainnya tidak akan hidup lama di steemit
Maka berhati-hatilah, ingat udah capek buat akun sampai disetujui kemudian terpaksa gigit jari. Lagipula plagiat terhadap karya maupun menyebar isu kebencian, dimana-mana juga dilarang.
Soal mendapat vote yang juga menjadi bahasan kami, maklum ini perkara wajib dibicarakan jika plankton bertemu plankton. Beda bahasan dengan para minnow dan dolphin apalagi whale yang lebih fokus bicara membangun dan membantu komunitas berkembang. Saya juga ingin, tapi mungkin nanti.
"Pemilihan tag juga mempengaruhi vote, jadi pastikan ini," kata @harock. Mau tahu tag yang tepat gampang saja, rajinlah membuka dan membaca postingan para senior di #steemit.
Sambil bicara, mata saya melihat layar laptop melihat SP alias Steem Power yang masih rendah. Kekuatan vote kadang hanya engkol kosong alias $0.00. Sesekali $0.01. Bicara SP, kok jadi kepingin ‘Sanger Pancong’, “kopi yang ada tu,” tawar @harock.

Kopi dan Sanger | Source: foto sendiri dari sebelah
Saya sempat gagal paham soal ini awalnya, asal vote saja postingan kawan-kawan mesti tak punya harga. Kini sedikit mengerti setelah @harock yang duluan bergabung di steemit memberikan petuahnya. "Karena SP kita masih rendah, jangan vote kawan dengan engkol kosong, tunggulah ada nilai. Kan kasihan kalau vote ternyata kosong."
Maka saya pun mengerti, kenapa banyak kawan selevel yang menunda vote pada postingan kita, kendati postingan telah dibacanya. Sempat awalnya salah sangka dengan menuduh mereka pelit. Hehehe, dasar plankton. []
Engkol kosong bang 😂😂😂😂😂😂
Plankton + Plankton= Whale, Bang. Hhahhaa.....
Yale kali ... macam lagu itu. Yale, yale, yale, yale, yaaaaleeeee... yg penting semangat Ihan.
Hehehe
bak lon kalon gaya foto nyan ka kelas Orca @abuarkan hahaha
Hahaha, plankton sekali2 bergaya tak apa lah bang @zainalbakri, hehehe.
Yang droe karap meninggalkan Plankton... hehee
Diskusi seri kedua pajan bang, nak tagabong hehehe
Hek kumita bunoe, hana plankton meusaboh pih yang meuwet-wet. Hehehehe
Plankton teungoh sibok mita bahan liputan untuk steemit, hahaha