Book Insight : Seksologi Jawa – Suwardi Endraswara

in writing •  2 months ago


Dalam pengantarnya penulis mengibaratkan kalau seks itu seperti berenang. Berenang di manapun tempatnya pasti memberikan sensasi tersendiri, seperti berenang di kolam air hangat dengan di laut pastinya memberikan sensasi yang berbeda. Selain itu berenang juga butuh ilmu agar tidak keleleb atau tenggelam. Nah begitu halnya dengan seks! Pastinya seks yang dilakukan dengan ilmu akan lebih bermakna dibandingkan dengan yang sembarangan. Istilahnya, asal jleb langsung bar!

Seperti judul bukunya, ilmu seks yang akan dibahas dalam buku ini menggunakan pendekatan budaya Jawa. Penulis mensarikan beberapa kitab seks kuno jawa ke dalam buku ini agar lebih mudah dipahami. Ya.. namanya kitab kuno tentu saja bahasa yang digunakan bahasa jawa kuno dan sarat dengan simbol-simbol.

Seks merupakan karunia Ilahi yang telah hidup dalam diri manusia. Karena sesuatu yang hidup itu berkembang, maka seks di dalam kehidupan manusia juga berkembang sesuai dengan perjalanan hidup masing-masing. Ada kalanya seks menjadi sesuatu yang sangat menggairahkan, namun ada kalanya juga seks menjadi sesuatu yang menjijikan atau memuakkan. Walau dinamikan seksual seseorang berbeda-beda, itu semua sebenarnya kembali ke pilihan. Seseorang bisa memberikan nyawa terhadap seks sampai pada taraf munculnya "rasa njero" (rasa yang terdalam). Munculnya rasa terdalam berupakan suatu dampak dari keharmonisan antara badaniah dan batiniah. Disamping itu ada orang hanya menggunakan seks sebagai alat untuk memunculkan "rasa njaba" (rasa secara jasmaniah).

Cinta sebagai Penggerak Seks


Penggerak yang dimaksud sebenarnya bukan dalam arti sebenarnya. Ada yang mengatakan seks tanpa cinta itu hanya bicara soal nafsu, namun seks yang diiringi dengan cinta kasih merupakan titik puncak kenikmatan yang sesungguhnya. Cinta disini yang dimaksud tentunya bukan cinta hanya di mulut saja, namun cinta yang dihayati melalui sikap dan tingkahlaku. Keberhasilan seseorang dalam memadukan cinta dan seks jelas berpengaruh pada kematangan berpikir dan bersikap. Coba lihat disekeliling, adakah mereka yang sudah berpasangan namun kurang memiliki kematangan berpikir dan bersikap? Nah bisa jadi salah satu faktornya ialah kurang memiliki kualitas bercinta.

Dalam kisah Ramayana, perihal cinta dan seks diceritakan melalui cerita perang besar Alengka - Pancawati hanya gegara seks yang hanya memburu nafsu. Hasrat sepihak Prabu Rahwana terhadap Shinta menjelma menjadi kekerasan seksual. Begitu pula dalam kisah Baratayuda, dimana hasrat seksual Dursasanan kepada Drupadi yang terlampau besar sehingga hampir menyebabkan pemerkosaan. Dari kejadian itu, Drupadi mengutuk bahwa setelah usai perang besar Baratayuda kelak ia akan mandi darah Dursasana.

Seks itu Perjalanan dan pendakian


Dalam sebuah perjalanan dan pendakian, ada kalanya gagal dan berhasil. Gagal total pun sangat bisa terjadi. Dalam hal seks, ketika seseorang mengalami kegagalan maka ada kemungkinan orang tersebut berbalik membenci seks. Kegagalan dalam hal seks tentu saja dapat menyebabkan pudarnya gairah hidup. Dalam tradisi Jawa, terdapat beberapa hal yang menyebabkan kegagalan seks, yang pertama ialah adhem (dingin). Bila salah satu atau dua-duanya sudah mengalami rasa dingin dalam hubungan seks, maka itu hanya akan sia-sia dan buang tenaga. Ibaratnya seperti melakukan sesuatu tanpa api gairah yang membara di dalam hati. Sikap adhem ini biasanya ditandai sikap mengantuk, tidak gercep (gerak cepat) ketika diajak berhubungan intim, mau tapi terpaksa, dan gampang protes dengan pasangan hingga sampai sering mengalami konflik.

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan kondisi adhem tersebut, bisa karena kondisi fisik yang kurang prima, stress pekerjaan atau dalam hubungan, pasangan kurang memahami teknik permainan seperti lelaki terlalu cuek dan perempuan terlalu monoton.

Kedua, yaitu sikap ingin puas. Bila salah satu pasangan ingin cepat-cepat selesai, maka ada hal yang janggal dalam hubungan seks tsb. Kebanyakan laki-laki yang mengalami hal ini. Ibaratkan menaiki gunung, laki-laki ingin cepat sampai puncak. Dan sebaliknya, wanita justru lebih ingin pelan dan menikmati setiap detiknya. Bila dilogika mungkin tak akan pernah ada titik temunya, namun dengan ilmu dan keinginan untuk membuka diri maka titik temu itu akan bisa dicapai bersama.

Yang ketiga, yaitu kasoran prabawa (kalah wibawa). Ini sejatinya bukan soal lelaki harus lebih tinggi drajat dibanding wanita, namun sebenarnya karena tidak memiliki keinginan untuk bisa sejajar dengan pasangan. Kasoran prabawa ini ditandai dengan perubahan tindakan seks yang secara drastis, hilang minat dan mudah kesal atau jengkel.

Yen nginjen, Bakal timbil mripate


Dalam tradisi Jawa, ada kepercayaan bahwa orang yang bintit matanya maka tandanya baru melakukan perbuatan mengintip. Sebenarnya itu merupakan sebuah mitos, namun berkembang menjadi sebuah kepercayaan yang agak sulit untung dihilangkan. Hal tersebut sejatinya merupakan bagian dari upaya preventif agar seseorang tidak suka mengintip. Kegiatan mengintip erat kaitannya dengan kepuasan sepihak. Walaupun mengintip merupakan aktivitas yang menyenangkan dan mendebarkan, namun hal tersebut merupakan aktivtas seks yang tidak terpuji.

Namun disisi lain, dalam tembang Asmarandana, bait ke-30 sampai ke-33, mengisahkan seorang pertapa yang sedang mengintip Dewi Rasawulan yang sedang mandi. Pertapa itu mengintip dari atas pohon. Pertapa itu tergoda dan tergiur dengan kecantikan Rasawulan. Hingga akhirnya Rasawulan bercermin di permukaan air dan melihat perbuatan sanga pertapa. Rasawulan lama menatap wajah pertapa yang tampan rupawan, hingga hatinya terguncang dan merasa seolah sedang bersetubuh. Walau Rasawulan merasa seolah sedang senggama, namun rasa tersebut muncul bukan atas dasar kesepakatan bersama. Sehingga tetap saja, yang merasakan kepuasan hanya pertapa sepihak.

Pendidikan Seks Menurut Tradisi Jawa


Dalam buku ini menggambarkan bahwa seks edukasi banyak diberikan ketika seorang pria dan wanita akan omah-omah atau berumah tangga. Bila dibandingkan dengan zaman sekarang mungkin sudah terlambat, namun bila ditilik lagi ke zaman Jawa dulu mungkin ini tepat karena pernikahan masa dulu dilakukan di usia dini. Pendidikan seks pada pria dan wanita tentu sangat berbeda. Tradisi Jawa mengusung budaya Patriarki yang sangat kental sehingga ada perlakuan yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan.

Seks edukasi sebelum menikah seperti kriteria pemilihan pasangan. Misalnya seperti laki-laki diibaratkan munthu (ulegan) dan perempuan diibaratkan cowek. Idealisme seksualitas Jawa menghendaki agar laki-laki sedapat mungkin menikahi wanita yang tidak masuk kategori cowek gompel atau cowek yang tidak utuh lagi. Rasanya tidak adil bila munthu selalu ingin cowek yang baru, sementara munthu juga bisa melakukan kenakalan, namun hanya terkikis sedikit sehingga tak kentara.

Sedangkan untuk pendidikan seks usia anak dan remaja cenderung tidak terlalu banyak diberikan bahkan disamarkan. Sebab adanya pemikiran bahwa seks merupakan hal yang sangat tabu sehingga muncul sikap wedi, isin dan sungkan ketika membicarakan seks secara terbuka. Dalam mengajarkan pendidikan seks lebih menggunakan bahasa-bahasa simbolis dan penuh dengan penafsiran. Hal tersebut dimaksud agar pembahasan seks tidak terkesan vulgar.

Saru (tidak pantas), merupakan satu kata yang cukup sering diajarkan oleh orang tua Jawa terhadap anak-anaknya. Kata saru mengarahkan etika tentang seksualitas masyarakat Jawa, seperti anak tidak mempertontonkan alat vitalnya ke orang lain dan sebaliknya tidak melihat kemaluan orang lain.

Selain itu, orang tua Jawa menyebutkan anak-anaknya secara tidak langsung dengan menyebut organ kelamin anak. Seperti pada anak laki-laki ada yang menyebut kelik (barang kecil memanjang) dan thole panjang dan ada gumpalannya), kependekan dari konthole. Sedangkan bagi anak perempuan, ada sebutan whuk dari kata gawuk (bahasa jawa vagina) dan ndhuk dari kata gendhuk (bulat besar).

Pendidikan seks tradisi Jawa tak sekedar soal alat kelamin, namun juga peran serta antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung memiliki peran yang lebih luas dibandingkan perempuan. Ada sebutan 3M, masak, manak, macak. Tentunya hal ini memojokkan posisi perempuan yang hanya sebagai klangenan bagi laki-laki.

Seks dalam Sastra Jawa


Dalam sastra Jawa, seks seringkali diungkapkan secara estetik dan diracik dengan tatakrama Jawa. Beberapa serat yang membahas soal persetubuhan seperti Serat Gatholoco, Serat Asmaragama, Serat Susilasanggama. Dalam Serat Centhini juga dimunculkan ungkapan simbolik yang menggambarkan soal seks. Seperti pancakara yang berarti berlaga atau berperang untuk menggantikan kata sewori atau senggama. Sedangkan di Serat Susila Senggama, kata gada menggantikan kata peli (penis), purusa menggantikan kata tempik (vagina) dan ganggeng dari kata ganggang menggantikan kata jembut (pubis). Penggantian istilah-istilah tersebut dimaksudkan agar kesan seksual menjadi lebih anggun dan tidak membosankan.

Tradisi Perkawinan Jawa


Dalam memilih pasangan, tradisi Jawa mengenal istilah bibit-bobot-bebet. Bibit yang berarti benih, bobot berarti darah atau keturunan dan bebet ialah tingkahlaku atau watak. Menurut Ki Hajar Dewantara, bibit-bobot-bebet merupakan fakwa istimewa orang tua (Jawa) kepada anaknya yang hendak mencari pasangan hidup. Dalam Serat Nitiman dijelaskan lebih rinci lagi terkait hal tersebut, bibit ditujukan pada penampilan fisik yang dipercaya berpengaruh pada gairah seksual, bobot berkaitan dengan kejelasan asal usulnya seperti dari keturunan siapa, apa pangkatnya dan bagaimana posisi secara sosial dan yang terakhir bebet adalah apakah keturunan orang berharta.

Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, tiga pertimbangan di atas sudah mulai bergeser. Zaman sekarang dominasi orang tua tidak sebesar pada zaman dahulu. Dalam pemilihan pasangan hidup yang paling mendasar saat ini ialah keselarasan, keserasian dan keharmonisan di antara pasangan.

Selain menimbang bibit-bobot-bebet, masyarakat Jawa juga menimbang dari perhitungan Jawa. Perhitungan tersebut dikelan dengan sebutan pasatowan. Pasatowan merupakan rekayasa kultural agar hubungan perkawinan dan khususnya masalah seksual berjalan dengan lancar. Perhitungan Jawa tersebut meliputi beberapa cara, seperti menghitung jumlah neptu dina atau hari kelahiran kedua calon manten, menggunakan hitungan hari kelahiran pasangan dengan aksara jawa, dan ada pula hitungan untuk meramalkan nasib dan gairah seksual kedua calon dengan dihitung dari hari pasaran saat ijab qobul.

Perawan vs Tidak Perawan


Persoalan perawan dan tidak perawan seringkali mengganggu benak pria saat ingin melakukan malam pertama. Biasanya, malam pertama merupakan momen untuk menguji pasangan apakah masih seret atau sudah blong. Sudah menjadi mitos seks sampai saat ini bahwa suami ingin sekali bisa menjebol gerbang emas di malam pertama, sedangkan istri juga intinya ingin menunjukan bahwa masih perawan dengan adanya tanda darah segar mengalir saar hubungan seksual. Tak bisa dimungkiri bahwa, sebagaian besar orang baik laki-laki dan perempuan masih memaknai keperawanan dengan bercak darah. Padahal, tanda keperawanan seorang perempuan tak melulu ditandai adanya bercak darah ketika malam pertama. Menurut ilmu biologi, jenis selaput dara setiap wanita berbeda-beda, ada yang sangat tipis sehingga mudah robek dan ada pula yang tebal sehingga sulit dijebol. Selain itu, robeknya selaput dara tidak melulu terjadi karena aktifitas seksual, namun bisa robek karena kecelakaan atau melakukan olah raga secara berlebihan.

Selama ini perempuan menjadi obyek yang selalu dipermasalahkan saat hubungan seksual malam pertama. Banyak mitos-mitos soal keperawanan yang beredar, seperti dari buah dada yang masih kencang, bokong yang sintal, pinggul yang ramping, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi pria masih jarang sekali yang mempermasalahkan perihal keperjakaan mereka. Dalam tradisi Jawa sendiri, terdapat sebuah ilmu yang dinamakan ilmu titen, yaitu suatu teknik yang diperuntukan bagi wanita untuk mengetahui apakah suaminya masih perjaka atau tidak. Salah satu caranya yaitu dengan melihat kemaluannya. Bila permukaan kepala penis telah halus, berarti sudah tak lagi perjaka. Alasannya ialah bagian permukaan penis akan semakin halus jika telah bergesekan dengan organ intim wanita. Selain itu, laki-laki dapat dilihat masih perjala atau belum dapat dilihat dari kelihaiannya dalam bermain di malam pertama.

Wanita dalam Tradisi Jawa


Dalam artikel "Wanita Jawa; Kritik Sastra Feminis", menjelaskan bahwa wanita berasal dari kata wani ing tata yaitu bersedia diatur. Seorang wanita Jawa harus siap dengan segala aturan, terutama norma hidup dalam berumah tangga. Menurut salah satu teori feminis, secara psikologis, ideologis dan filosofis, wanita cenderung diletakkan sebagai obyek seksual laki-laki. Hal tersebut terbukti dari Suluk Sujinah dan Suluk Gatholoco yang menggunakan istilah seperti Dewi Mlenuk Gembuk, Dewi Rara Bawuk, dsb. Tentunya penggunaan wanita sebagai objek seks dalam sastra dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, pengarang suluk tersebut adalah seorang laki-laki dan kedua ialah karena wanita merupakan lambang keindahan.

Kamasutra Jawa


Siapa yang tak kenal dengan Kamasutra? Sebuah kitab yang berisikan pedoman dalam pengendalian hawa nafsu dan petunjuk seksual yang luhur. Kamasutra menyangkut daya manusia secara utuh, lahir dan batin. Gambaran sekilah soal kamasutra Jawa tercermin dalam Serat Arjunawiwaha. Dalam serat tersebut diceriakan lelaku Arjuna dengan bersemedi disertai dengan laku mistik ditujukan untuk mencari kesaktian. Diakhir kisah, ia dianugrahi bidadari. Dari sinilah contoh simbolisasi bahwa wanita adalah lambang kesaktian.

Dalam tradisi Jawa berpihak pada pendapat bahwa hubungan seks tidak akan terasa nikmat bila tanpa pemanasan. Hubungan seks pun idealnya melalui proses purwa (awalan) - madya (tengah) - wusana (akhir). Proses perjalanan seks juga berpedoman pada ungkapan "alon-alon asal kelakon", pelan-pelan tetapi terlaksana.

Senggama juga tidak bisa terlepas dari unsur asmara. Asmara berupa cinta dan kasih sayang, yang didalamnya mengandung makna sengsem. Manusia yang melakukan hubungan seksual tanpa sengsem tidak ada bedanya dengan binatang yang hanya mengejar kepuasan secara biologis.

Aji Asmaragama


Tujuan Asmaragama terdapat dua hal, pertama agar wanita yang disenggamai lebih lega, puas nikmat dan menurut pada laki-laki dan yang kedua ialah agar mendapatkan keturunan yang berkualitas. Pada zaman kuno, Asmaragama hanya dipakai oleh dewa dan raja, selanjutnya diturunkan ke kalangan kesatria. Aji tersebut didapatkan dengan penuh ketekunan dan laku prihatin. Syahdan, batara Guru menerima aji tersebut sebagai pusaka asmara. Oleh karena itu, aji tersebut dianggap sebagai ilmu yang tidak sembarangan.

Penggunaan Aji Asmragama hendaknya disertai pelaksanaan empat laku, yaitu:

  • Lila: tulus ikhlas menuruti apa yang dikehendaki oleh pasangan
  • Narima : mau menerima pelayanan yang diberikan oleh pasangan, tidak menolak dan menerima dengan lapang dada
  • Temen : tidak pernah ingkar dan berupaya untuk selalu taat pada janji pernikahan
  • Sabar : tidak mudah marah dan mudah memaafkan pasangan.

Meditasi dalam Seks

Seks merupakan persoalan hidup yang agung. Dapat dikatakan, seks merupakan wacana kesadaran batin yang total, kesadaran hidup yang tinggi mengenai hakikat hidup. Dapat dibayangkan, seseorang melakukan hubungan seks dan cairannya spermanya 'muncrat' bersamaan dengan daya syukur manusia yang memuncak. Saat kedua orang sama-sama mencapai orgasme, bukan berarti badan menjadi lelah tanpa daya, melainkan perwujudan daya sujud pada Tuhan yang luar biasa. Seks yang luhur dan sekaligus magis semestinya disikapi sebagai anugrah yang istimewa, bukan sekedar pelampiasan nafsu semata.

Energi seks yang diharmoniskan dengan energi spiritual konon akan melahirkan cinta. Dalam dunia meditasi, kesadaran cinta terletak di jantung, sehingga dengan mengenal cinta manusia akan dibawa memahami kasih sayang yang berada di cakra Ilahi atau cakra mahkota.

Energi yang keluar masuk saat bersenggama terbagi menjadi dua, yakni energi yang positif dan negatif. Energi yang positif akan menggerakkan hubungan seks semakin hangat, sedangkan energi negatif justru membuat seks menjadi melelahkan.

Bila hubungan seks sering mengingatkan hal-hal yang menyedihkan dan menjengkelkan, maka energi negatiflah yang berperan, namun sebaliknya bila saat berhubungan seks banyak mengingat hal-hal yang menyenangkan berarti energi positiflah yang berperan.

Di antara jenis cakra yang banyak mengeluarkan energi seks adalah cakra seks. Cakra ini akan memompakan energi luar biasa terhadap gairah seksual seseorang. Kompensasi cakra seks dapat mengakibatkan seseorang mudah tersinggung, kecewa, minder dan cenderung kurang percaya diri. Dalam memaksimalkan cakra seks, ada baiknya melakukan meditasi sebelum dan setelah melakukan hubungan seks. Hal ini dimaksudkan untuk mencuci cakra seks dengan aliran pernafasan spiritual. Melalui pengaturan pernafasan, daya seksual seseorang akan matang dan sampai pada kesadaran spiritual yang tinggi.

Seks dan Falsafah Hidup


Selama ini, orang Jawa kebanyakan masih memandang ihwal seks secara dangkal; padahal seks menurut pandangan hidup Jawa merupakan tugas mulia yang hilirnya memiliki dimensi surgawi. Seks pada hakikatnya terkait dengan ungkapan sarira tunggal. Ungkapan ini bila dibaca sarira satunggal, akan bermakna bersetubuh; sedangkan bila dibaca sari rasatunggal berarti persenyawaan. Sehingga hubungan seks tidak sekedar hubungan badan, namun juga sejiwa-senyawa sepenuhnya.

Hubungan seks yang berhasil akan mencapai inti rasa atau rasa sejati, rasa yang tidak sekedar rasa, akan merasa kenikmatan yang hakiki. Itu sebebnya, rasa sejati sulit digambarkan seperti rasa garam, rasa gula, dan rasa lainnya karena rasa sejati akan berbeda pada setiap orangnya.

Dari penjelasan dalam buku ini jelaslah sudah bahwa keilmuan Jawa sejatinya memandang seks sebagai sesuatu yang luhur. Tidak murahan. Dalam setiap sikap dan perilaku seks sebenarnya terkandung arah yang mendasar, tidak kesusu dan menuju pada 'kasampurnaning dumadi' kesempurnaan hidup. Oleh karena itu, untuk melihat perihal seks maka perlu berbekal ngelmu sepuh, yaitu ngelpu sangkan prananing dumadi atau ilmu soal asal usul kehidupan.


 

Posted from my blog with SteemPress : http://celotehyori.com/book-insight-seksologi-jawa-suwardi-endraswara/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!