Pendekar Pewaris Prahara #1. Bara Cakar Api : Perpisahan dan Pertemuan (Bahagian. 1)

in #writing3 years ago (edited)

Screenshot_2018-08-14-16-43-28-433_com.niksoftware.snapseed.png

Setahun sudah Buang tinggal bersama Tuan Guru. Seperti yang dijanjikan, ia mulai sekolah lagi. Buang menghabiskan malam dengan mengejar ketinggalan pelajarannya. Tidak terlalu jauh ia tertinggal. Di kampung pemulung dulu, Buang sempat mengikuti kelas gratis yang disediakan oleh sebuah lembaga kemanusiaan. Ia tidak akan melupakan orang-orang baik itu. Kak Silvi, kak Riza dan beberapa orang mahasiswa yang meluangkan waktu mereka untuk program pendidikan gratis yang semula didukung oleh pemerintah.

Namun program swadaya itu terhenti ketika penerintah mengambil alih, menawarkan semacam program sejenis. Tak lama setelah peresmian yang meriah, program itu tersendat dan akhirnya hilang.

Siang hari sepulang sekolah, Buang berlatih fisik, dan dini hari sebelum subuh ia mulai berlatih jurus-jurus dasar silat aliran Naga Putih, termasuk mengelola energi yang ada di dalam tubuhnya, istilah umumnya adalah tenaga dalam, walaupan ada yang juga menyebut energi itu sebagai hawa murni. Tuan Guru atau lengkapnya dikenal secara resmi sebagai Tuan Guru Tengku Haji Zainal Abidin. Sebelum mengundurkan diri dari dunia persilatan, Tuan Guru adalah tokoh golongan putih yang digelari sebagai Naga Putih Gerbang Barat.

Sepertinya laki-laki itu berniat mepersiapkan Buang menjadi penerus ilmunya. Sayangnya Buang tak pernah sempat menyelesaikan pelajaran dari Tuan Guru. Manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan.

IMG-20180725-WA0001.jpg

Secara resmi, Tuan Guru belum menegaskan dirinya telah kembali memasuki dunia persilatan. Tapi kabar menyebar dengan cepat. Naga Putih Gerbang Barat turun gunung. Kehadiran tokoh tua yang pernah berada di tingkatan Kaisar Petarung itu menjadi harapan bagi golongan putih.

Berbagai undangan untuk jumpa dan menggalang kekuatan sering mereka terima. Salah satunya adalah undangan yang membuat mereka terlambat pulang dari perguruan Tinju Langit.

Tuan Guru mengendarai mobil dengan santai, mereka sudah menempuh lima belas menit perjalanan ketika handphonenya berbunyi.
Laki-laki itu menekan tombol speaker. Namun niatnya untuk mengucap salam terhenti. Ia mendengar suara teriakan dan pekikan di latar belakang.

Bertindak cepat, Tuan Guru memutar mobil kembali. Sambil memacu kendaraannya ia menekan tombol panggil cepat. Yang menghubungkannya dengan Unit Reaksi Cepat dari Gerbang Barat.

Tuan Guru mengenali suara yang menjawab salamnya. Belati Terbang, pendekar muda dengan kemampuan yang cukup hebat. Ternyata mereka juga telah mendapat sinyal permohonan bantuan darurat dari perguruan Tinju Langit. “Unit Reaksi Cepat sudah menuju ke sana, Pak. Mereka berangkat dengan tim bersenjata berat. Raja Tinju Langit telah tewas. Saya, kanda Naga Perunggu, dan kanda Pendekar Tombak Merah sedang dalam perjalanan menyusul tim. Kita berjumpa di sana, Pak.”

Tapi ketika Tuan Guru dan Buang tiba, tim bantuan belum terlihat. Melirik jam tangannya, Tuan Guru memperkirakan mereka baru akan tiba tiga atau lima menit lagi. Jarak dari markas Gerbang Barat memang lebih jauh, walaupun mereka menggunakan helikopter tetap butuh waktu.

Suara pekik pertempuran, dentang pedang dan tembakan masih terdengar. Buang berlari di belakang Tuan Guru. Ketika mereka melompati gerbang dalam yang telah rubuh, dengan terkejut mereka melihat tiga sosok tubuh mengamuk. Meskipun dalam kepungan para pendekar perguruan Tinju Langit, dengan mudah mereka menumbangkan satu demi satu pengepungnya. Tembakan sesekali terdengar, tapi dengan mudah dielakkan oleh ketiganya. Pertarungan jarak dekat memang sulit dilakukan dengan pistol.

Screenshot_2018-08-14-17-08-04-070_com.android.chrome.png
Image source pixabay.com

“Tunggu di situ.” Tuan Guru menunjuk sudut tembok yang cukup terlindung di samping gerbang. Lalu laki-laki tua itu melesat memasuki kancah pertarungan.

“Minggir!” Bentakan keras yang dibarengi tenaga dalam sempurna, betul-betul membuat sekumpulan orang di hadapannya tersapu ke samping.

Energi yang disalurkan ke tangannya membuat lengan dan telapak yang membentuk cakar berpendar putih.

Dua dari tiga sosok musuh sempat mencelat menghindar. Namun sosok yang paling depan tak sempat menghindar, bahkan tak sempat membentuk pertahanan. Hantaman pertama dari jurus Cakar Naga Membelah Karang telak mengenai sisi kiri tubuhnya. Sosok itu terlempar tak bernyawa dengan setengah tubuh remuk.

Salah satu dari dua sosok yang selamat mendadak berbalik, dan dengan kuat melompat lalu menghilang dalam kegelapan malam.

Tuan Guru berdiri dengan tangan membentuk cakar.

Sosok berbalut jubah berwarna putih yang masih tinggal, terlihat tak perduli. Ia memandang ke arah rekannya menghilang.

Sambil tertawa pelan ia berbalik dan santai saja menatap Tuan Guru. “Naga Laut Timur memang selalu ketakutan dengan namamu, Naga Putih Gerbang Barat. Memang naga kecil selalu takut dengan yang lebih tua.”

Tuan Guru mengerenyit merasakan gelak tawa laki-laki berjubah putih itu seolah menghantamnya dengan pukulan. Unjuk kekuatan yang cukup mengesankan. Perlahan Tuan Guru menyalurkan hawa murni melindungi pendengarannya.

Seorang pendekar dari perguruan Tinju Langit mendadak menerjang, laki-laki berjubah putih yang wajahnya tersembunyi di balik tudung lebar itu dengan tenang menepis serangan dan balas memukul. Dalam pantulan cahaya, Tuan Guru bisa melihat jari tangan kiri yang hanya ada tiga, tanpa jari manis dan kelingking.
Tubuh pendekar muda yang malang itu jatuh berguling ke arah Tuan Guru. Sepertinya disengaja. Dan ketika melihat bekas pukulan di dada, berupa jejak seperti tapak merpati, ia menjadi yakin. Musuh sengaja menunjukkan identitasnya.

“Merpati Pemetik Bunga.” Bisik Tuan Guru penuh kemarahan.

Sosok berjubah putih itu menyibakkan tudung yang menutupi kepalanya, memperlihatkan topeng putih yang menutupi wajah hingga tepat di atas bibir, pada bagian kening topeng tertulis kata ‘kebaikan’. Merpati Pemetik Bunga membungkuk seolah memberi hormat, namun terkekeh pelan, ejekan dan nada menantang jelas terasa.

Suara deru samar helikopter terdengar di kejauhan. Kedua laki-laki itu mengangkat kepala, menatap jauh ke arah asal suara itu.
“Waktu kita tidak banyak Tuan Guru. Apakah Kamu ingin mengambil kematianmu segera? Atau Kamu ingin menikmati sisa hidupmu? Sedikit bersenang-senang mungkin?”

Tuan Guru hanya diam, namun kakinya perlahan mulai mengambil kuda-kuda.

“Begitu tergesa ingin mati, Tuan. Untuk apa? Bidadari?” Merpati Pemetik Bunga tertawa pelan, “Untuk kenikmatan bidadari, aku bisa membantumu, percayalah sebenarnya Tuhan kita menyediakan jalan kenikmatan untuk kita. Ada banyak murid wanitaku, yang bersedia dengan gembira menemanimu dalam pernikahan. Kamu boleh memilih berapa lama akan menikahi mereka, lalu menceraikan mereka. Kalau Tuan ingin yang sudah menikah pun, mencicipi buah yang sudah matang, juga boleh. Sama saja Tuan. Nikahi mereka dengan seijin suaminya atau tanpa ijin pun tak apa, untuk ibadah itu dibolehkan, lalu ceraikan setelah tuan puas. Mereka berbuat kebaikan, Tuan tidak berdosa.”

Tuan Guru menyipitkan mata mencoba mengenali. Ia mencari tanda fisik yang bisa memastikan dugaannya. Dari begitu banyak tokoh golongan hitam, tak ada yang memiliki pemikiran begitu. Bila mereka mencari wanita, mereka akan mengambilnya tanpa perlu memikirkan soal pernikahan, hal yang tak penting bagi mereka. Tapi ada satu tokoh yang sekarang dianggap golongan putih, setelah menyatakan bertobat.

Dulunya ketika ia masih menjadi pentolan golongan hitam ia satu-satunya yang memiliki ajaran sesat seperti itu.

“Dasar sesat. Mungkin, bukan muridmu, Merpati Pemetik Bunga. Bagaimana kalau kamu tawarkan istrimu, Bunga Jubah Hitam. Bukankah Kamu pernah mengatakan itu adalah hal yang perguruan kalian benarkan” Ujar Tuan Guru memancing reaksi.

Hanya sedetik, kepala Merpati Pemetik Bunga sedikit tersentak, diikuti gerak tubuh yang menegang tanda ketidaksukaan. Reaksi spontan yang tidak luput dari amatan Tuan Guru.
Dugaannya benar. “Ternyata kamu Jalak. Harusnya aku sudah menduga. Penjahat keji mana yang menyembunyikan dirinya seolah malu dengan kejahatan selain dirimu. Berpura-pura baik bahkan berani mengutip agama sebagai topeng. Memang tabiatmu dari dulu tak berubah.”

Merpati Pemetik Bunga mengangkat bahu acuh. “Semua agama sebenarnya satu. Dan bergerak untuk kebaikan yang lebih besar. Lagipula aku bukan menyembunyikan diri. Hanya tidak menceritakan kebenaran. Karena aku tahu, dunia belum memahami, dan belum siap dengan kebenaran yang sejati.”

Lalu tanpa aba-aba, Merpati Pemetik Bunga atau Jalak Parusi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh golongan putih bergelar Cakar Api, menendang bongkahan beton di depannya.

Tendangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam menghancurkan bongkahan itu menjadi serpihan beton. Melesat seperti puluhan keping senjata rahasia menerjang Tuan Guru.

Tuan Guru melontarkan tubuhnya berguling ke samping. Tidak terkejut dengan serangan pengecut Jalak Parusi. Kemampuan Jalak memang hebat, tapi sikap kesatria bukan salah satu sifatnya. Tuan Guru menghentakkan kaki menendang salah satu bongkahan beton, menggunakannya sebagai pijakan. Dan melesat ke arah Jalak Parusi.

(Bersambung ke bahagian. 2)

IMG-20180725-WA0001.jpg

Ikuti terus kisah Pendekar Pewaris Prahara, dengan mengikuti hastag #pendekarpewarisprahara

Sort:  

Apakah ini sambungannya Dari Marwah Di ujung Bars?

Bukan, gurunda. Hanya saja sama-sama pakai bara.

Terbaeeek, lanjutkeun!

Congratulations @dngaco! You received a personal award!

Happy Birthday! - You are on the Steem blockchain for 1 year!

Click here to view your Board

Support SteemitBoard's project! Vote for its witness and get one more award!

Congratulations @dngaco! You received a personal award!

Happy Birthday! - You are on the Steem blockchain for 2 years!

You can view your badges on your Steem Board and compare to others on the Steem Ranking

Vote for @Steemitboard as a witness to get one more award and increased upvotes!