Thinking Back to the Pramoedya Ananta Toer-- The Discarded Author |

in writing •  15 days ago  (edited)



MENGENANG KEMBALI SOSOK PRAMOEDYA ANANTA TOER – SANG PENGARANG YANG TERBUANG

Film Bumi Manusia akan diputar di bioskop Indonesia, dalam waktu dekat. Film ini diangkat dari tetralogi buku Bumi Manusia karya penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Untuk mengenang kembali Pram, panggilan akrabnya, berikut nukilan wawancara lama majalah Playboy dengan penulis yang pernah digadang-gadang mendapatkan penghargaan Nobel Sastra tersebut.


PRIA KELAHIRAN 6 FEBRUARI 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan dihati Pramoedya Ananta Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat:

"…gairah kerja adalah pertanda daya hidup; selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut…"

Merokok tanpa putus sejak umur 15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul-judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia.

Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya.

Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis (layaknya orang-orang besar). Pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian underbow PKI) berjaya. Lantas kemudian tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah.

Juga sempat menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer (sampai kini dia masih tak mengerti, karena merasa dasarnya menulis adalah satu: kemanusiaan). Pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.

Karya-karya Pram tak banyak mengutak-atik keindahan bahasa, longgar, dan kerap kelam meski tengah mengekspresikan keriangan hidup, seperti seks. Dalam penutup satu bab di buku Bumi Manusia, Pram menulis perasaan Minke tentang persetubuhannya dengan Annelies:

“Aku balas pelukannya. Dan tiba-tiba jantungku berdeburan diterpa angin timur. Satu ulangan telah memaksa kami jadi sekelamin binatang purba, sehingga akhirnya kami tergolek. Sekarang gumpalan hitam tidak memenuhi antariksa hatiku. Dan kami berpelukan kembali seperti boneka kayu.”

Sebagai penulis, Pram menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Pengagum sastrawan Gunther Grass dan John Steinbeck ini mengaku begitu produktif berkarya karena merasa tidak akan berumur panjang.

Kenyataannya pada usia 81 tahun dia masih mengepulkan asap rokok saat ditemui Feature Editor PLAYBOY Alfred Ginting dan Soleh Solihun, di rumahnya yang asri, di kawasan Bojong Gede, Jawa Barat. PLAYBOY ditemani Happy Salma yang sore itu membawakan sebotol wine untuk penulis yang dikaguminya itu. Setiap malam Pram menenggak satu dua sloki wine demi kesehatan jantungnya.

Seperti yang sudah-sudah, wawancara ini kembali banyak menjelajah sikap politik Pram, tidak seperti keinginan kami untuk membongkar sikap sastranya. Pram sulit diajak untuk mengomentari karya-karyanya. Pram menganggap karya-karya itu sebagai anak-anak jiwanya. Mereka bebas terbang lepas setelah didewasakan oleh pena dan mesin tiknya. Selain itu usia membuat Pram berjarak dengan masa lalu kepengarangannya.

Di rumah – hasil dari royalti bukunya yang telah diterjemahkan ke 42 bahasa – Pram tak lagi banyak bekerja. Sudah sepuluh tahun dia tidak menulis, semangatnya dipatahkan umur tubuhnya. Saban hari dia bangun jam lima pagi, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi untuk cita-citanya yang tidak akan terwujud – menyusun apa yang dia sebut Ensiklopedi Kawasan Indonesia, sesekali menerima tamu, melihat-lihat ternak ayam dan angsanya, dan membakar sampah.

Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Pram menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yang menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yang akan diterbitkan kembali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo t-shirt lusuh, celana training biru dan sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. “Dingin kaki saya,” kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam berargumentasi dan pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagai pemimpin yang berhasil mempersatukan bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padahal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia.




"Yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno," tegasnya.

HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda.
Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah
Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhir-akhir ini harus diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri?

PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yang baik, pasti ada yang buruk. Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yang namanya dialektika.

PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik). Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri tidak terlihat arah organisasinya?

PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya (Budiman Soedjatmiko) lari, masuk ke PDI.

Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.

PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?

PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? (tertawa.)






Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

To listen to the audio version of this article click on the play image.

Brought to you by @tts. If you find it useful please consider upvoting this reply.

Sastrawan besar dengan karya yang dahsyat.I seolah bisa menguliti kehidupan kita baik dalam personal maupun dalam berbangsa dan berbegara. Lihat bagaiamana saat memabca Ken Arok lalu kita ingat ada banyak peristiwa yang seperti itu menggulingkan kekuasaan.
Seolah satire yang real dalam sastra atau sastra dalam realita.
samapi usaia tua masih terus berjuang, berjuang tidak mengenal usia.
Salam dari klaten bang @ayijufridar

Ada seorang kawan yang pernah menjadi pejabat di sebuah media online besar di Indonesia. Ketika mewawancarai calon wartawan, salah satu pertanyaannya adalah apakah pernah membaca karya Pram? Kalau jawabannya pernah , maka diskusinya akan panjang. Kemungkinan wartawan itu diterima jauh lebih besar.

Salam dari Aceh Mas @rokhani. Semoga bisa menonton Bumi Manusia nanti.

Ntah mengapa, saya melihat para penulis atau seniman, mereka kebanyakan identik dengan merokok. Sempat terlintas
di ingatan, mungkin ketika mereka menikmati rokok, inspirasi untuk merangkai kata muncul seketika. Saya juga penikmat rokok hehe....

Salam sukses selalu 😊

Tidak semua penulis atau seniman identik dengan rokok dan kopi. Saya bukan perokok dan benci dengan rokok meski pernah merokok.

Tamah tag #aaa, khusus film

Trims infonya Pak @dsatria. Paih that ban lheuh nonton film di Medan, hehehehe.