Durian dan Cabe Merah Panjang
Di halaman belakang rumah Nenek, ada 2 hal yang nggak pernah absen tiap musim. Pohon durian tua dan bedeng cabe merah panjang.
Durian itu sombong. Jatuhnya selalu pas tengah malam, "Dug!" bikin semua orang kebangun.
Wanginya keterlaluan. Dari ujung gang sudah kecium. Tapi isinya? Lembut, manis, legit... bikin lupa sama semua capek.
Cabe merah panjang? Dia sabar. Tumbuh pelan-pelan, dijemur matahari, disiram tiap sore.
Nggak berisik. Tapi sekali masuk ke sambal, semua orang langsung keringetan dan nambah nasi.
Aku kecil dulu bingung.
"Kenapa Nenek nanem dua-duanya, Nek? Rasanya kan jauh banget."
Nenek cuma ketawa sambil ngupas durian dan ngiris cabe.
"Durian itu kayak bahagia, Nak. Datangnya tiba-tiba, bikin hati penuh, tapi nggak tiap hari.
Cabe itu kayak hidup. Pedes, bikin nangis, tapi kalau nggak ada dia... rasanya hambar."
Waktu aku udah gede dan merantau, aku baru ngerti.
Hidupku isinya durian dan cabe.
Ada hari-hari manis yang bikin aku lupa diri.
Ada juga hari-hari pedes yang bikin mataku perih, tapi ngajarin aku kuat.
Suatu hari aku pulang. Nenek udah nggak ada.
Pohon duriannya masih berdiri. Bedeng cabenya masih berbuah.
Aku duduk di bawah pohon, makan durian sambil nyocol sambal cabe merah buatan Nenek.
Pedes dan manis di mulut barengan.
Dan di situ aku nangis.
Bukan karena sedih.
Tapi karena baru sadar... Nenek ninggalin resep paling penting:
Nikmatin manisnya, kuat-kuatin pas pedesnya. Karena dua-duanya yang bikin hidup berasa.
Sampai sekarang tiap musim durian datang, aku pasti nanem cabe juga di samping rumah.
Biar inget:
Hidup nggak akan lengkap kalau cuma ada yang manis aja.
Salam kompak selalu.
By @midiagam

