Sabang Part 3 : Perjalanan Spiritual yang Baru Disadari Sekarang

in travel •  5 months ago

24498_381476531183_7218059_n.jpg

Setelah dua hari di Sabang dan dua hari pula mendapat bantuan yang tak pernah disangka, di hari ketiga kami hanya berjalan di tempat yang tak berjauhan dari mess dirgantara. Lelah rasanya kalau harus berjalan kaki, dengkul pun sudah menjerit mengungkapkan amarahnya.

Hari ini kami bertiga ingin menghabiskan hari bersantai di joglo, barang-barang di mess pun sudah diangkut semua, kali ini kami betul-betul tak punya rencana untuk menginap di mess lagi, bukan sekedar omongan, ini sebuah keyakinan!

24498_381499231183_1963939_n.jpg

24498_381476486183_8251887_n.jpg

Dapat objek bagus

Sambil bersantai saya teringat dengan Bang Is, beliau adalah salah satu orang terdekat Pak Walikota saat itu, dan ketika perjalanan kedua ke Sabang tempo hari saya juga menginap di pendopo bersama saudara. Saya coba menghubungi beliau hanya sekedar memberi kabar saja. Karena Sabang itu kota kecil, tak enak lah kalau tiba-tiba berpapasan di jalan. Ternyata responnya saat itu sangat bagus ketika mendengar saya berada di Sabang, langsung saja saya disuruh ke pendopo. Sekedar informasi, hal ini sebenarnya yang agak membuat saya malas mengabarkan keberadaan pada orang terdekat ketika berada di kota mereka, ujung-ujungnya pasti harus bertemu.

Kami berjalan menuju pendopo, dan sesampainya disana ternyata Bang Is sudah menunggu. Saya disuruh masuk, namun lebih memilih untuk beristirahat di teras rumah saja. Rasanya aneh kalau masuk ke pendopo tapi pak wali sedang di luar kota, dan saya tak suka dengan protokoler, saya merasa tak bebas. Waktu seakan berjalan cepat, kami saling bercerita dan beberapa kali saya mengasah bakat terpendam untuk membidik Adel dan Napis dengan pose-pose aneh mereka.

24498_381499286183_6751746_n.jpg

24498_381476536183_1290691_n.jpg
Saya, teman Bang Is, Bang Is, Napis

“Bang.. ada mobil yang bisa digunain dan kuncinya ada sama abang? Fara mau ke kilometer nol lah,” saya bertanya pada Bang Is ketika sedang duduk berdua.
“Mobil lagi gak ada dek, kalau naik motor pun mana muat kalian bertiga”
“Yahhh… berarti gak bisa kesana lah”
“Mana bisa, jauh kali itu.. kalau kalian pergi jalan kaki, gak sanggup balik nanti. Lagian bahaya.. gak usah lah..”

Sedikit kecewa sebenarnya, tapi saya tak akan memaksa sesuatu yang saat itu memang susah untuk diupayakan. Sampai akhirnya saya teringat dengan bunda saya yang bekerja di BAPPENAS, dia pasti punya banyak relasi di wilayah Indonesia.

“Bund, kakak di Sabang. Mau jalan-jalan tapi gak ada kendaraan” begitu isi pesan singkat yang saya kirimkan ke bunda.

Langsung beliau menghubungi saya menanyakan segala kebutuhan dan keinginan saya, dan 15 menit kemudian kawannya bunda menghubungi saya menanyakan mau dijemput dimana. Tak lama menunggu kami dijemput dengan 3 motor yang dikendarai oleh anak muda (ada satu yang membuat mata saya menjadi liar.. hehe) suruhannya kawan bunda saya. Karena sudah hampir sore jadinya kami hanya bermain sampai di Gapang saja.

24498_381476591183_641666_n.jpg

24498_381499326183_7043868_n.jpg

24498_381476611183_7422479_n.jpg

24498_381476601183_7713257_n.jpg

24498_381476621183_980827_n.jpg

Sorenya kami menuju pelabuhan berniat ingin pulang hari itu juga, tapi kapal terlalu terburu-buru berjalan mungkin rindunya sudah terpaut di Banda Aceh sehingga kami dengan tega ditinggalkan. Sore itu kami menghabiskan waktu di pelabuhan dan berniat untuk menginap disana saja. Kebetulan juga ada Mushala, jadi tak terlalu khawatir saat itu.
Saya ingat, setelah magrib Bang Is menghubungi dengan maksud menanyakan kabar kami, tapi ketika dia tahu kalau kami tak jadi pulang Bang Is langsung bilang ke saya untuk tidak pergi jauh-jauh dari sana karena dia akan segera menjemput ke pelabuhan.

Lagi-lagi saya dikelilingi oleh orang baik, terkadang ego membuyarkan segala rasa cinta di dalam hati ini. Saya selalu mempertanyakan kenapa saya tak pernah merasakan adanya cinta, tapi terus-menerus menutup mata atas segala cinta kasih yang ditransformasikan dalam berbagai bentuk, bukan hanya berupa kata.

Sesampainya Bang Is ke pelabuhan, kami langsung balik menuju pendopo. Awalnya memang kita akan menginap disana, tapi ada baiknya di mess wali saja agar tidak ada omongan-omongan miring, dan tidak ada yang mengatur-ngatur pastinya.

Sepanjang malam saya merenung dengan rasa sedikit takut, karena mess nya kosong cuma ada kami. Bukan… bukan karena itu.

Paginya kami diantar lagi oleh Bang Is ke Pelabuhan setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di mess. Sampai di Banda Aceh pun, teman saya bersedia menjemput kami dengan mengendarai mobilnya. Jadi perjalanan ke Sabang kali ini memang benar-benar hanya menghabiskan uang 50 ribuan saja, dan merupakan perjalanan spiritual bagi saya. Ada saja bantuan yang datang, ada saja orang-orang baik yang mengelilingi tanpa pernah saya sadari secara benar. Allah benar-benar baik, Dia menggerakkan hati orang-orang untuk membantu saya, walaupun bantuan-bantuan tersebut bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan. Namun tetaplah merupakan suatu pembelajaran bagi saya, bahwa tak ada yang bisa mengacaukan kehendak yang telah digariskan oleh Allah.

24498_381499391183_399877_n.jpg

Sambil menunggu jemputan

Perjalanan tersebut memang sudah lama terjadi, di tahun 2009 dan sekarang saya berada di tahun 2018, namun ingatan tersebut masih sangat melekat tak bisa hilang. Selama ini saya menutup hati atas nama cinta kasih, bagi saya cinta dan benci saat itu bedanya sangat tipis. Ketika saya ingin membuka hati untuk menerima cinta, namun saya benci jika karena hadir nya cinta suatu saat pasti akan ada perpisahan. Lagi-lagi kejadian yang lalu terulang seperti sedang menonton film yang selalu diputar berkali-kali. Akhirnya saat ini saya sedikit sadar bahwa sebenarnya Allah secara tak langsung mengajarkan saya untuk menjadi kuat. Ya… kuat dengan segala rasa kehilangan, kuat menghadapi semua kegagalan. Entah apa yang akan terjadi besok, biarlah terjadi, toh semua akan indah bila dijadikan kenangan.

Baca juga perjalanan sebelumnya di https://steemit.com/travel/@fararizky/sabang-part-1-jatuh-cinta-pada-senja dan https://steemit.com/travel/@fararizky/sabang-part-2-ternyata-benar-kalau-allah-lebih-dekat-dari-urat-nadi

Salam,
@fararizky

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Sabang oh sabang, pajan jeut ku jak keudeh 😂

·

insyaAllah secepatnya

·
·

Insyaa Allah, makasih doanya mbak 😊

Sabang adalah beranda mula bagaimana wajah Aceh tampak jelita. Riasannya berupa panorama alam ber-make-up pariwisata.

Btw, itu foto lamakah kak? Secara style jilbab sepertinya ada bau-bau Tempoe Doeloe meski gak jaman old banget sih. Hehe

Narasi kakak, khas blogger banget ya. Salam~

·

haha.. nampak li gak habis baca... itu thn 2009 deekkk..
wahh.. kk bkn blogger, tapi ntah apa sebutannya, travelphotographer lebih enak didengar kali ya..

·
·

Kalau boleh jujur, dan bukan pembelaan. Habis adek baca, cuman versi baca cepat. Ada yang keselip.

Oh gitu, its okay. Khas blogger sih.

·
·
·

😄 😄 Gpp dek. Dimaklumi, udah larut soalnya..

Khas blogger itu gmn?
Tp ini perlu 5 sks bahasnya, kpn kita ngopi?

·
·
·
·

Haha, pertanyaan Batman. Duh, adek bukan basic blogger kak. Ngopi? Siap kok. Dijadwalkan saja. Hehe

·
·
·
·
·

Asiikk.. Nanti kk kabari yes..

·
·
·
·
·
·

mancing far kalo ke sabang

tapi jangan mancing keributan ya

·

Ahh capek bang kalau mancing. Mancing abang itu aja gak termakan2 umpan nya 😂

Assalamualaikum mohon difot ya sobat

Hoooh, ya ampun, perjalanan tahun 2009... Kirain Fara masih di Sabang. Mau minta tolong dijemput juga. Ahahaha 😂😂

·

Dijemput pake odong2 ya kak 😂😂

Helo @fararizky, apa kabar? Tulisan menarik.. upvote dan resteem ke 7237 follower yaa.. (Segelintir kontribusi kami sebagai witness pada komunitas Steemit Indonesia.)

·

Terimakasih

sabang nyan daerah lon, tapi pakon lon hantom troh lom keunan hahah

·

Belum rezeki berarti

Jadi teringat kenangan di Sabang 15 tahun yang lalu
Hahaha

·

Asiiiikkk... Kenangan apa tuh???

·
·

Kenangan ketika bekerja di Sabang sambil menunggu pengumuman SPMB di Unsyiah
Hehehe

Hawanya lain setiap baca cerita fara hihi dimana2 yang penting relasi ya

·

Hawa nya panas dingin ya kak 😂

Sungguh, Far. It was a very amazing story. Penuh pembelajaran, tak hanya bagimu, tapi bagi kakak, untuk melihat betapa sebenarnya Allah itu Maha Baik. Ada saja uluran tangan-Nya dalam memastikan hamba-hamba-Nya yang berniat baik berada dalam keadaan yang aman juga nyaman.

Bantuan-bantuan (kecil) yang sebenarnya punya nilai yang tak bisa dibayarkan dengan uang. Subhanallah. Trims telah berbagi cerita ini, Far. It was so amazing. Bermodal 50 ribu, tp kalian sampai kemanapun yang kalian niatkan, dengan perpanjangan tangan Allah melalui hamba-hamba yang dipilih-Nya. Keren!

·

Nah itu kak... Tergantung dari hati mmg kan. Coba klo niat fara jelek. Mungkin bkal terbalik keadaannya