Kisah Belanda Merencanakan Pembuangan Teungku Tanoh Abee

in story •  last month 

Para ulama dan cerdik pandai di Aceh diawasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda, beda pendapat akan dianggap fanatik, akibatnya bisa diintenir (pembuangan) ke luar Aceh.

Namun untuk ulama dan tokoh-tokoh yang dianggap mempunya pengaruh, Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh tidak sembarangan melakukan pengasingan ke luar Aceh. Snouck Hurgronje selalu dimintai pendapatnya dalam jabatannya sebagai Penasehat Pemerintah Kolonial Belanda untuk urusan pribumi dan keagamaan. Biasanya Snouck Hurgronje akan memberi jawaban dengan penjelasannya melalui surat, baik surat resmi maupun surat yang bersifat rahasia.

Hotel de I'Europe di Kutaraja (1892).jpg
Perwira Belanda di depan European Hotel, Banda Aceh tahun 1892 Sumber

Begitu juga tentang sikap Mukim Lam Ara, Aceh Besar tetang pemulaan puasa yang tidak sama dengan penetapan Pemerintah Hindia Belanda. Gara-gara hal itu Imum Mukim Lam Ara menjadi sorotan. Padahal dalam Islam perbedaan awal mula masuk bulan puasa itu lumrah terjadi.

Pada 14 April 1897 dari Betawi Snouck Hurgronje mengirim surat kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda. Dalam surat itu ia menjelaskan, dari dokumen-dokumen yang disampaikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh tidak terbukti apakah sikap Imum Mukim Lam Ara mengenai awal puasa yang menyendiri itu disertai dengan kata-kata celaan atau kesombongan terhadap Pemerintah Belanda di Aceh.

Jika pun hal itu tidak terjadi, Snouck Hurgronje menyarankan agar pertama-tama Imum Mukim Lam Ara itu harus diajak bicara. Barulah pada taraf kedua orang lain diajak bicara, yang bagaimanapun sikap mereka pertama-tama harus bersifat perseorangan.

Dalam surat itu Snouck Hurgronje juga menjelaskan tentang Tengku Yusuf dari Lhong, Aceh Besar, orang yang sudah agak lanjut usia dan dinilainya kurang terpelajar. Di samping menjadi pandai emas, ia juga menyibukkan diri dengan pelajaran dasar pengajaran Alquran kepada anak-anak di kampungnya. Sementara Tengku Muhammad adalah seorang anak muda yang di bawah pimpinan, antara lain, Tengku Tanöh Abèë, belajar melakukan telaah kitab.

“Saya tidak berani mengatakan, sampai ke mana Tengku Tanöh Abèë harus digolongkan dengan musuh kita yang fanatik. Tetapi dengan sendirinya, pemuda-pemuda Aceh yang berhasrat belajar, hingga sekarang memilih bimbingan guru ini, terbawa oleh dekatnya tempat tinggal guru itu dengan rumah kediaman mereka, sedangkan mengenai kemasyhurannya sebagai ahli hukum, mereka bukan terbawa oleh sifat hubungannya dengan Pemerintah Daerah kita. Apalagi karena pada waktu Tengku Muhammad masih belajar, Pemerintah Daerah di Aceh seolah-olah buta terhadap perasaan yang sebenarnya dari banyak pemimpin. Bahwa ada seseorang yang menerima pelajaran dari Tengku Tanöh Abèë, sekali-kali tidak menyebabkan ia dicap sebagai seorang yang fanatik,” tulis Snouck Hurgronje.

20180426_212229.jpg
Para perwira Belanda berpose di gerbang Peutjut Kerkhoff, komplek kuburan Belanda di Banda Aceh Sumber

Karena itu Snouck Hurgronje menilai pembuangan kedua orang Aceh tersebut tidak akan dapat dibenarkan, dan dari segi politik pun tindakan tersebut tidak pantas dianjurkan. Dampaknya di antara penduduk yang hidup dalam lingkungan pengaruh Belanda akan tersebar keresahan dan kecurigaan karena pembuangan semacam itu. Selain itu dapat menimbulkan kesan seolah-olah benar bahwa Pemerintah Belanda kita menghalangi pengamalan bebas terhadap agama Islam oleh rakyat Aceh.

Selain itu kata Snouck Hurgronje, adalah keterangan Teuku Panglima Bintang, uleebalang pro Belanda yang memberitahukan tentang sikap Imum Mukim Lam Ara dan dua orang lainnya yang diusulkan untuk diasingkan dari Aceh. Teuku Panglima Bintang sendiri kemudian berusaha agar mereka dibebaskan.

Hal itu kata Snouck Hurgronje tidak membuktikan bahwa tindakan tersebut dilakukan semata-mata sebagai sandiwara. Sebaliknya, hal itu membuktikan bahwa Pemerintah Kolonial Belanda di Aceh telah terlalu membesar-besarkan arti penting fakta yang telah diberitahukan oleh Teuku Panglima Bintang. Sikap melebih-lebihkan itulah yang menyebabkan para kepala selanjutnya menjadi jauh kurang tulus dan kurang suka menyampaikan berita, karena takut menghadapi salah paham serupa.

“Tidak dapat disangkal bahwa kembalinya dua orang Aceh ke tempat kediaman mereka, setelah pembuangan mereka ke sana sudah telanjur terjadi, ada segi keberatannya, terutama sehubungan dengan keadaan di negeri itu yang dalam banyak hal masih kacau balau. Namun saya tidak akan berani memberikan nasihat untuk mengadakan pemecahan yang lain bagi persoalan tersebut, lebih-lebih karena ada juga jalan untuk memberantas akibat yang kurang diinginkan yang mungkin timbul karena orang-orang itu kembali salah langkah. Jika Tengku Muhammad dan Tengku Yusuf diberikan peringatan yang sungguh-sungguh agar selalu berlaku dengan tenteram dan jangan mengajukan kritik terhadap campur tangan Pemerintah Daerah, sedangkan kepada Teuku Panglima Bintang dan Waki Yusuf dari Lhong diminta supaya menjamin agar kedua tengku tinggal dengan tenteram dalam kampung mereka, maka menurut paham saya, tidak perlu orang takut akan bahaya,” saran Snouck Hurgronje.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

memang kafe nyan, sampe an dinoe mantong ditinggai masalah, biet2 belanda...