Cut Keke dan Kenangan Panglima GAM Tgk Abdullah Syafii

in story •  3 months ago

Beberapa atris nasional berdarah Aceh, pernah mencoba untuk bertemu dengan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah Syafii, diantaranya Cut Keke dan Cut Yanti. Namun hanya Cut Keke yang berhasil, sementara Cut Yanti lebih memilih tinggal di hotel.

Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum perayaan hari ulang tahun (milad) GAM ke-23, yakni pada November 1999. Saat itu Cut Keke kembali ke Aceh untuk menyerahkan sumbangan untuk para pengungsi Aceh. Sumbangan itu berasal dari berbagai donator yang dikumpulkan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Empati Untuk Aceh (Emuna). Cut Keke sendiri masuk sebagai salah seorang pendiri Emuna.

Setelah menyerahkan sumbangan ke para pengungsi, melalui kontaknya di Pidie, Cut Keke berhasil menjumpai Tgk Abdullah Syafii, sementara rekan-rekannya seperti Cut Yanti yan juga artis nasional asal Aceh, memilih menginap di hotel.
cut keke.jpg
Cut Keke sumber

Ketika bertemu, Tgk Abdullah Syafii awalnya ragu kalau Cut Keke orang Aceh. Alasannya, karena artis kelahiran Jakarta itu tidak fasih berbahasa Aceh. “Ureung Aceh kok hanjeut bahsa Aceh—orang Aceh kok tidak fasih berbahasa Aceh,” kata Tgk Abdullah Syafii saat itu.

Cut Keke mengaku sangat deg-dekan saat akan bertemu Panglima GAM tersebut, tapi akhirnya ia bisa juga diterima oleh Tgk Abdullah Syafii. Malah saat itu, berhasilnya Cut Keke menjumpai Tgk Abdullah Syafii membuat sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memburu pimpinan militer GAM tersebut.

Apa lagi waktu itu pemerintah Indonesia berencana menambah jumlah pasukan TNI ke Aceh. Alasannya, artis begitu mudah bertemu dengan Tgk Abdullah Syafii sementara TNI dengan sekian banyak intelijennya di Aceh tidak berhasil menemukan orang nomor satu di pasukan GAM tersebut.

Kepada beberapa media yang kemudian mewawancarainya, Cut Keke mengaku sangat simpati kepada Tgk Abdullah Syafii. Ia menilai Tgk Abdullah Syafii sebagai pribadi yang sangat religius, gentle dan ramah.
Abdullah syafii.jpg
Panglima GAM Tgk Abdullah Syafii sumber

Pertemuan waktu itu sempat membuat heboh, saat TNI gencar mencari keberadaan Tgk Abdullah Syafii, Cut Keke yang datang dari Jakarta dengan mudah menjumpai pentolan GAM itu. Banyak media yang kemudian menghubungi Cut Keke untuk menanyai seputar pertemuan itu. Malah sampai tahun 2003 masih ada media yang menyakan hal itu kepada Cut Keke, seperti Ipik Tanoyo dari Bali Post salah satu jurnalis yang melakukan wawancara khusus Cut Keke dan dimuat pada edisi 16 Mei 2003.

Wawancara itu awalnya seputar gagalnya perundingan antara pemerintah RI dan GAM di Swiss pada April 2003. Pemerintah berencana menggelar operasi militer di Aceh. Cut Keke salah satu artis berdarah Aceh yang tidak setuju dengan tindakan yang akan diambil pemerintah tersebut.

Cut Keke menolak operasi militer dengan alasan sudah banyak menyaksikan para korban dari pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh. Ia tak ingin dampak buruk dari perang itu terus berlanjut.

Cut Keke menginginkan perundingan kembali dilanjutkan, meski Henry Dunant Centre (HDC) yang memfasilitasi perundingan sudah keluar dari Aceh atas permintaan pemerintah Republik Indonesia, imbas dari berlkaukan Darurat Militer (DM) di Aceh. Saat itu semua lembaga internasional dan lembaga asing tidak boleh berada di Aceh.

Dalam suasana seperti itu, Cut Keke menyarankan Organisasi Konferensi Islam (OKI) sebagai pengganti HDC. Untuk menghentikan perang di Aceh, ia menyarankan digelar operasi religius, bukan operasi militer.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Congratulations You Got Upvote
& Your Content Also Will Got Curation From

  • Community Coalition
IndonesiaPhillipinesArab
@sevenfingers@steemph.antipolo@arabsteem
·

Thank you @sevenfingers for upvote and community curation