Menikmati Keindahan Alam Gayo Diatas Puncak Burni Klieten, Takengon, Indonesia

in steempress •  18 days ago

Dengan hamparan danau laut tawar, Burni Kelieten adalah salah destinasi pendakian yang cukup menarik untuk di daki. Jalur awal pendakian yang langsung menanjak tetap meyimpan pesoma tersendiri. Jalurnya seidikit ekstrin dengan kemiringan 60 - 70 derajat membuat pendaki harus ekstra hati - hati. Normalnya waktu tempuh dari kampung terakhir hingga mencapai puncak Burni Kelieten (2.930 Mdpl) 8 jam hingga satu hari perjalanan. Selama dalam perjalanan tersebut, terdapat beberapa shelter atau pos untuk beristirahan maupun berkemah.


Sekitar pukul 5 sore, Jum'at 25 September 2016 saya dan tiga rekan saya berangkat dari kampus Universitas Jabal Ghafur, Sigli. Dengan menggunakan sepeda motor kami berangkat menuju kota Bireun, Aceh Jeumpa. Waktu tempuh dari Sigli ke Bireun memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Dari Bireun kami melanjutkan perjalanan menuju Takengoen, Aceh Tengah. Perjalanan dari Bireun - Takengon dapar menghabiskan waktu 3 jam perjalanan darat.

Langit sudah gelap, jam sudah pukul 01.wib ketika kami berhenti disebuah rumah di kota Takengon. Malam itu kami menginap di rumah saudara dari salah satu kawan kami. Saya dan rekan - rekan langsung istirahat, karena besok kami harus melakukan pendakian. Esoknya setelah mempersiapkan segala keperluan pendakian, masih dengan menggunakan sepeda motor kami melanjutkan perjalanan ke desa Kejuruan Syiah Utama. Jam menunjukan pukul 11,23 wib kami sampai di desa terakhir dan segera melaporkan diri pada kepala desa untuk melakukan pendakian.

  Setelah melakukan pendakian selama satu jama kami memutuskan untuk beristirahat dan masak siang. Dari awal pendakian kami dihadapkan dengan jalur yang menanjak dengan pepohonan pinus. Jalur disini sangat membingungkan, karena banyak bekas jalur kerbau. Perjalanan singkat di hutan pinus, dilanjukan dengan memasuki kawasan hutan. Dititik ini hanya ada satu jalur yang sangat jelas menuju puncak.

Setelah melewati shelter pertama jam menunjukkan pukul 16.25, kami memutuskan untuk beristirahat. Melihat kondisi jalur yang semakin menantang serta takut tidak ada tempat mendirikan tenda akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan besok.

Menjelang matahari terbit kami sudah terbangun dari tidur. Udara yang sangat membuat kami masih menyisakan rasa malas. Sebagian dari kami memutuskan keluar dari tenda. Menikmati udara pagi sambil menyeruput secangkir kopi panas sudah menjadi hal biasa para pendaki. Sesudahnya kami melanjutkan makan pagi sebelum membereskan perlengkapan untuk melanjutkan pendakian menuju puncak.

Setelah beberapa jam pendakian kami mencapai ke puncak batu Burni Klieten. Puncak batu merupakan puncak sebelum mencapai puncak Burni Kelieten. Di puncak batu kami memanjakan mata dengan hamparan danau laut tawar yang terlihat dari ketinggian.

Setelah cukup beristirahat serta mengambil momen kami memutuskan melanjutkan pendakian menuju puncak. Jalur menuju puncak kami harus memanjat bebatuan. sepanjang jalur terdapat bermacan pohon anggrek. Kira - kira jam 15.30 wib kami mencapai puncak Burni Kelieten. Bidang tanah lapang di puncak Burni Kelieten tidaklah terlalu luas. Apabila digunakan untuk berkemah, dua unit tenda dengan daya tanpung 2 - 4 orang akan memenuhi tempat tersebut. Menginap di puncak, kosekuensinya adalah terpaan angin yang sangat kencang.Setelah beristirahat, kami segera membagi tugas mendirikan tenda dan memasak. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi saya dan kawan - kawan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dalam situasi seperti ini, pembagian tugas dan kerja sama merupakan hal yang wajib dilakukan. Udara pegunungan yang sangat dingin, jam 21.00 kami memutuskan masuk tenda, berbincang santai dan memutuskan untuk beristirahat.

Menjelang pagi kami sudah terbangun, udara yang dingin membuat kami malas keluar dari tenda. Sebagian dari kami memutuskan untuk keluar serta menikmati secangkir kopi dan di temani sebatang cigaret. Sesudah itu kami melanjutkan sarapan pagi sebelum membereskan semua perlengkapan untuk turun. Pukul 10.00 wib dengan berdoa terlebih dahulu kami memulai perjalanan turun dari puncak Burni Klieten.  

Perjalanan kembali menuju desa terakhir terasa lebih cepat, akan tetapi sama melelahkan. Kaki harus menopang beban lebih besar sebagai akibat dari berat badan yang sama arah dengan gravitasi bumi. Selang beberapa jam kami tiba di shelter pertama. Disini kami beristirahat sambil menghabiskan logistic atau masa siang. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan turun melewati hutan pinus sambil menikmati pemadangan hamparan danau laut tawar.

Setiba di desa terakhir, ada kawan kami yang berasal dari Takengon sudah menunggu serta menyediakan nasi bungkus dan beberapa minuman segar. Selanjutnya kami menuju pinggiran danau laut tawar untuk menikmati makanan yang di bawa kawan sambil membersihkan diri. Hari Senin tanggal 27 September saya dan kawan tiba kembali di kota Takengon. Berhubung malam telah tiba kami memutuskan untuk menginap semalam lagi di kota Takengon. Menjelang hari Selasa jam 10.25 wib kami memutuskan kembali ke kota Sigli.

Posted from my blog with SteemPress : https://almahdimahdi95.000webhostapp.com/2018/10/menikmati-keindahan-alam-gayo-diatas-puncak-burni-klieten-takengon-indonesia
Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!