Ikut Ikutan Mengupat Bupati Bireuen, yang Melarang Berduaan di Kafe

in steempress •  12 days ago

 

Sangat mengenyangkan -troe teuh- mendapati Bupati Bireuen mengeluarkan edaran tentang pelarangan wanita dan pria yang bukan mahram duduk berduaan di kafe. Beragam reaksi netizen akan peraturan baru ini, ada yang menerima ada yang menolak. Ada yang menerima dengan lapang dada ada yang menolak dengan busung dada.

Kalau kita kembali ke zaman dahulu, tidak ada perempuan yang duduk bersama laki-laki di warung kopi. Warung kopi itu untuk lelaki, setelah ada pemodernan warung kopi berubah jadi kafe, ada juga yang masih mempertahankan diri tetap warung kopi, dan tetap didomisili...eh dominasi oleh penduduk pria, penduduk disini dimaksudkan yang menongkrong.


Dilarang duduk berduaan, Pria ini dan wanita ini tega berdiri dan mengajak kawannya satu lagi, biar tidak berduaan

WH Bireun kini mulai kembali pada dasar kenapa mereka diciptakan, diawal-awal Wilayatul Hisbah di Banda Aceh, di fokuskan pada pasukan yang mencegah orang-orang berduaan, karena kepanjangan WH adalah Wilarang Herdua-duaan.

Wanita diciptakan untuk laki-laki dan demikian pula sebaliknya. Maka keberadaan wanita dan pria tak bisa dipisahkan. Walaupun rumah islami itu tiga kamar, harus terpisah antara anak perempuan tidur dan laki-laki tidur, makanya rumah bantuan yang dua kamar itu tidak islami. Sangat tidak populer itu keputusan bupati, karena perempuan dan laki-laki kadang bertemu dan harus duduk di kafe, kadang-kadang non mahram, teman sekantor karena mungkin duduk di kafe lebih nyaman dari duduk di kantor.

Pemisahan pria dan wanita di pasar juga tak bisa dilakukan. Rata-rata penjual bra di bawah payong itu pria, dan ibu-ibu selagi dolar naik dan semua barang mahal mungkin harus membeli bh dibawah payung yang dijual pria tanpa malu.


Di Saree, masih boleh! bertigaan,berempataan dan berlimaan

Untuk memisahkan kafe dan cewek juga hampir tak mungkin, kami para cewek-cewek mandi sore untuk pacar dan teman kami, bersolek lama untuk duduk di kafe, biar tebar pesona dengan cowok yang mandi sebentar dan bersisir seadanya untuk juga duduk di kafe. Bapak bupati mungkin tak tahu menahu berapa biaya yang kami harus keluarkan demi ke kafe.

Kafe kan juga meningkatkan ekonomi masyakarat. Dengan dibukanya kafe sampai tengah malam membuat anak muda sudah ada tempat bernaung, daripada harus tidur untuk mempersiapkan diri bekerja besok supaya lebih segar. Kan di kafe juga ada celengan masjid, kadang ada juga yang menyumbang.

Dilarang duduk perempuan dan laki-laki adalah mengejar kemunduran dari program pemerintah. MEA (masyarakat Ekonomi Asia) sudah di depan mata. Dimana Aceh adalah juga termasuk master plan untuk perdagangan dunia. –nyan pat kabaca?- jadi masyarakat dunia kan tidak hanya lelaki saja. Anak muda harus disiapkan benar-benar untuk mengahadapi masyakarat dunia yang akan ke Aceh di masa depan.


Kafe yang datang perempuan, banyak pelanggan, walaupun harga makanan dan minuman mark-up

Ada yang mengatakan ini adalah peraturan yang kolot, kampungan dan anti sekularisme liberal! Ini sudah tahun 2019 pak! Urusilah dirimu sendiri dan majukan kota. Jangan urus anak muda, anak muda sudah kreatif dan produktif, dengan semakin banyak foto-foto kami di kafe dengan anak-anak perempuan.

Bapak mengurus yang tidak penting daripada mengurus yang penting untuk daerah. Fokuslah pada pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Anak muda bisa urus mereka sendiri.

Semoga bapak Saifannur dicatat oleh malaikat sudah berikhtiar dan melakukan sesuatu untuk agama ini. Kalau wanita dan pria yang bukan mahram berdekatan takut terjadi sesuatu yang diingikan diantara mereka.

Lebih keren lagi adalah pemahaman keluarga akan bagaimana hubungan pria dan wanita dalam islam. Ini yang sudah hilang dimasyarakat, pengetahuan anak muda semana batasan aurat dan sebatas mana yang boleh hubungan wanita dan pria. Kalau ini sikit lagi di apakan maka akan begitu sedikit peraturan ini.

Dari Bireuen Parte Kafe, Riazul Iqbal Melaporkan!



 

 


Posted from my blog with SteemPress : https://riodejaksiuroe.knpipidie.or.id/ikut-ikutan-mengupat-bupati-bireuen-yang-melarang-berduaan-di-kafe/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!