Zu dan Tentang Mustika Merah Jambu

in steempress •  11 days ago


Kelak kita pasti akan mendapati akhir dari lorong panjang pada satu pintu pilihan yang sama-sama kita masuki ini, Zu.

Barangkali di separuh perjalanan kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang terus berjalan tanpa lelah meski berulang-ulang jatuh dan patah. Sedang engkau, mungkin saat itu tengah tertatih-tatih di belakangku. Jauh. Tanganmu menggapai-gapai angin seperti melambai dan terus memanggilku namun tak terpanggil. Kau dilanda kebencian pada pengelanaan. Kau benci aku yang tega membuatmu tertinggal. Itulah, Zu, itu pencarian. Kamu tidak boleh sekali pun menghentikan langkah sebelum tiba di tujuan.

Sudah terlalu jauh untuk kembali ke silam dan aku memang harus terus berjalan agar mendapatkan mustika harapan--bukankah untuk itu kita masuki lorong demikian panjang ini, Zu? Mustika merah jambu yang merekah di bawah percik siraman lampu. Cahaya dipantik mustika itu dipercaya manjur membuatmu gagah pesona. Dikagumi sepanjang bujur semesta raya. Itu yang kita cari? Ya, itu yang kita cari.


Aku tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan mustika keinginan. Dan engkau, Zu, istirahatlah sejenak. Jika sudah khatam lelahmu, berjalanlah terus ke arahku. Ikuti tapak-tapak yang barangkali masih tersisa di tanah kupijak. Itu jika kau mau. Jika tidak, ambillah lain susur. Aku ini, Zu, tidak pernah peduli pada apa pun. Akankah kau mengikuti kelanaku atau tidak sama sekali, semuanya tidak pernah penuh kubawa hati. Barangkali aku terlihat sangat bahagia kala kau tiba sebagai teman menuju titik cari. Tapi percayalah, itu tidak mutlak benar sekali. Aku hanya ingin menghiburmu, agar terkesan kau sangat kubutuhkan, barangkali.

Namun jika pun kau berjalan ke arahku, mengikuti jejak itu, silakan. Tidak juga kau kularang. Hidup masing-masing dan pencarian kita adalah pencarian masing-masing. Maka, berjalanlah jika ingin. Berbeloklah jika mau. Berhentilah jika hendak. Sekali lagi, jika kau berjalan mengikuti jejak-jejak yang telah kutapaki, jika di jalan kau dapati aku terbaring, entah sebab istirah atau mati, jangan peduli atau bangunkan. Ada atau tidaknya aku pada perjalananmu bukan jaminan. Aku tahu sebagian keinginanmu tapi itu tidak total. Kamu mesti terus berjalan. Jangan berhenti sampai kau dapatkan mustika keinginan.


Aku telah tiba, Zu. Dan kata "kelak" itu telah menjadi "kini". Aku tidak melihat tanda-tanda kau akan berjalan kemari. Terserah. Aku juga tidak peduli pada arah mana pilihan kau ambil untuk susuri. Aku tidak lagi mendengar tentangmu baik dari pengelana lintas atau dari gejala semesta. Tidak lagi ada firasatku untukmu tentang apa pun jua. Tidak. Aku tidak bisa mereka-reka lagi wajahmu. Tidak lagi bisa kudengar suarmu yang dulu pernah berdengung-dengung di telingaku.

Hari ini aku menulis lagi tentangmu, bukan sebab rindu. Melainkan demi menyampaikan, betapa mustika merah jambu yang kita cari itu, bila merekah di bawah siram kuasa lampu, tidak hanya membuat pemiliknya gagah pesona. Ia juga manjur untuk membuat pemiliknya panjang bahagia. Kau? Terima kasih sudah mengkhatam pencarian ini pada masa lalu. Sekarang mustika merah jambu ini benar-benar mutlak berpemilik satu. Aku!




Posted from my blog with SteemPress : https://pengkoisme.com/2018/10/04/zu-dan-tentang-mustika-merah-jambu/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Tulisan yang memotivasi 👍😊. Tetap terus melangkah, berjuang hingga mustika keinginan kita tercapai. Terima kasih, Kak 🙏