Cerpen : Syahdu Part 15

in steempress •  16 days ago


Berkali-kali Ari memperingatkan diri, namun matanya selalu mengkhianati. Akhir-akhir ini, ia sering kali bertemu Ainun. Pertama di toko buku, ke dua di Roudhotul Jannah seminggu yang lalu, dan kini di kampus. Entah apa yang membuat gadis itu menginjakkan kakinya di sini.

"Istighfar."

Bahunya ditepuk, Ari menoleh dan tersenyum kecut.

"Kalau gak pandai jaga pandangan bahaya, bisa jadi bencana." Syafiq duduk bersila di bawah pohon. "Apalagi yang dilihat istrinya orang."

Astagfirullah. Fakta itu adalah pil pahit, mau atau tidak Ari harus menelannya.

"Move on lah, dia juga kelihatannya bahagia."

Ari menghela, melihat kembali Ainun yang berada di depan sana dengan senyum yang selalu tersungging.

"Calon dokter itu harus tegar. Di depan sana, ada banyak orang yang harus dilihat, diperhatikan. Kalau kedua mata lo cuma terpusat sama dia mana bisa peduli dengan yang lain?"

Ah, Syafiq ini, pandai sekali menohok hatinya.

"Setelah lulus, gue mau buka klinik di pelosok." Ari merapatkan jaket yang dikenakan.

"Tabungan lo cukup?"

"Ada sedikit suntikan dana dari bokap. Kalau digabung sama tabungan gue selama ini insya Allah cukup."

Syafiq mengangguk-angguk. "Gue cuma bisa bantu doa."

"Justru doa yang paling memengaruhi. Berhubung lo shalih dan gak suka main mata, gue yakin, Allah pasti kabulin apa pun permintaan lo."

Bibir Syafiq terkekeh kecil. "Gue timpuk kalau lo ngomong kayak begitu lagi."

"Mau ditimpuk atau nggak, rasanya udah sakit."

"Malah curhat," decaknya kesal, yang hanya dibalas senyum yang lagi-lagi kecut dari bibir Ari. "Sesekali cobalah datang ke kajian kampus."

"Jadwalnya selalu gak pas sama kegiatan gue."

"Sempetin. Lo sibuk nolongin orang tapi lupa sama keadaan diri sendiri yang butuh pertolongan."

Ari menghela. Obrolannya dengan Syafiq membuat matanya kehilangan sosok Ainun.

Ah! Jaga pandangan!

"Jadi kunci dari kisah ini Wanda?" Ruby bertanya penuh minat, sementara Ainun hanya mengangguk setelah mencicipi es kepal yang dipesankan Ruby.

"Iya, kalau waktu itu gak ketemu Wanda, gak tau deh bakal jadi gimana ceritanya."

"Terus reaksi Bang Ilham gimana?" Ruby kepo.

"Datar. Ditanya beribu kali gak jawab." Ainun tersenyum miris mengingat kejadian itu. "Intinya karena aku bukan tokoh drakor yang suka digantungin, aku datangi kantor Bang Ilham."

"Seriusan?" mata Ruby sampai membola, beberapa jenis makanan yang ia pesan dari kantin tak lagi menarik.

"Meski ingatanku hilang tanpa sisa, tapi aku butuh kepastian."

"Terus?"


Source

"Ya itu tadi, aku datangin Bang Ilham. Minta kejelasan. Awalnya aku takut, By," mata Ainun berkedip lambat, "takut kalau Bang Ilham kecewa dan gak mau berjuang."

"Tapi akhirnya?"

"Kami nikah."

"Ish!" Ruby melotot. "Maksud aku tuh waktu kamu datangin Bang Ilham dan akhirnya gimana?"

"O-hohoh." Ainun tersipu. "Bang Ilham minta aku yakinin Ayah sama Bunda."

"Mereka yakin?"

Ainun mengangguk. "Abi sama Ummi juga kayaknya yakin. Makanya setelah sore itu, malamnya Bang Ilham datang ke rumah. Tiga hari selanjutnya kami nikah."

Ruby melongo. Ia tak tahu bagian cerita yang ini. "Terus, Bang Ilham udah cerita semuanya tentang hubungan kalian yang dulu?"

"Belum. Aku yang minta supaya Bang Ilham jangan cerita dulu."

"Kenapa? Padahal menurutku, mungkin aja itu awal dari kesembuhan kamu."

"Aku selalu pusing kalau dengar cerita yang rumit."

Ruby mendelik. "Aneh, nonton drakor yang rumit kamu gak pusing?" tanyanya heran. Kabar yang ia dengar, bahwa Ainun yang sekarang senang sekali menonton film Korea. Padahal dulu? Mana pernah Ainun tertarik dengan tontonan yang seperti itu.

Ainun tergelak. "Kalau itu beda, By."

"Apanya yang beda?"

"Pokoknya beda. Drakor dengan kisah hidupku adalah dua hal yang berbeda." Ainun mengelak. Beberapa detik kemudian matanya menjelajah suasana kantin yang lengang, hanya ada beberapa meja saja yang terisi.

Matanya menyipit ketika dua orang yang tak asing melintas. Ruby yang melihat gelagat Ainun pun mengikuti arah pandang, ia tersentak saat Ainun hendak membuka suara.

"Jangan dipanggil!"

"Kenapa?" Ainun urung memanggil Ari yang berjalan beriringan bersama Syafiq. "Aku cuma mau nyapa."

"Gak usah."

"Kenapa?" tanya Ainun lagi.

"Pokoknya gak usah dipanggil." kekeuh Ruby. "Mulai sekarang jangan lagi sok dekat sama Kak Ari."

"Lha, cuma nyapa memangnya gak boleh?" Ainun merengut. "Kamu persis Bang Ilham, By."

"Maksudnya?"

"Masa aku yang cuma ketemu Kak Ari walau pun gak sengaja sampai di diemin, gak masuk akal."

Ruby tergelak. Ia tahu pasti alasan suami sahabatnya hingga bersikap seperti itu.

"Malah ketawa," cibir Ainun, membuat gelak tawa Ruby makin terdengar riang.

"Maaf, maaf." ucap Ruby setelah tawanya mereda. Ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ilham yang datar ketika dilanda cemburu.

Ainun bersidekap, kedua tangannya terlipat di meja. "Kamu tau sesuatu, 'kan, tentang ada apa antara aku sama Kak Ari?"

Ga


Source

Flashback;

Ilham mengemudikan kuda besinya dengan rasa gelisah yang luar biasa. Di kursi sebelahnya, ada bungkusan kue yang dititipkan Akbar padanya. Ah, menyesal sekali ia menerima permintaan Akbar untuk mengantarkan bungkusan itu.

Mobil yang dikemudikannya sudah memasuki perumahan. Ilham bertambah gelisah, apalagi saat tiba di depan rumah gadis itu. Ya, gadis itu.

Ilham meneguk salivanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Kejadian sore itu masih membekas dalam ingatan. Ah, semoga saja gadis itu tak ada. Ilham tak akan pernah siap melihat kedua mata gadis itu lagi.

"Assalamu'alaikum." ia mengetuk pintu, sambil berdoa lirih dalam hati. Ketakutan yang begitu nyata sudah merayap ke seluruh organ tubuhnya.

"Wa'alaikumussalam."

Ah, alhamdulillah.

"Kenapa, Ham?"

"Ini, Tan, titipan dari Bang Akbar." ia menyerahkan bungkusan itu pada Bunda.

"Dasar anak itu!"

Ilham mengernyit saat Bunda menggelengkan kepalanya dramatis. "Kenapa, Tan?"

"Ini sogokan, Ham. Tante yakin kalau hari ini Akbar gak akan pulang lagi."

Ilham makin mengernyit. Baru saja hendak bertanya, suara klakson mobil membuat kepalanya menoleh. Aduh, Allah ....

"Makasih, Kak."

Gadis itu tersenyum riang, mencetak kedua lensung pipit yang menambah kesan manis di wajahnya. Saat ia berbalik, senyumnya memudar seketika.

"Siapa?" tanya Bunda penasaran, sedikit mengabaikan Ilham yang mematung di depannya.

"Bunda kepo." Ainun mengerling.

"Calon, Kak?"

Ainun terkikik. Matanya sama sekali tidak memerhatikan Ilham yang makin mematung. "Doain aja, ya, Bun. Calon dokter, tuh!"

"Kenapa gak disuruh mampir dulu?"

"Dia sibuk, Bun. Orang pinter, 'kan, kerjaannya cuma belajar, gak buat sensasi."

Ilham merapatkan bibir. Ainun menyindirnya.

"Oh, iya, Kak, kenapa beberapa hari ini kamu gak ke restoran Ilham?" tanya Bunda heran, menghalangi langkah Ainun yang hendak memasuki rumah.

"Ainun capek, Bunda, tugas kuliah banyak."

"Dulu pas lulus SMA kamu semangat banget buat kerja sambil kuliah. Sekarang, setelah dapat malah disia-siakan. Gak boleh gitu, ah, kamu harus konsisten." Bunda memperingatkan. "Sekali-kali kamu harus tegas, Ham," beliau beralih pada Ilham, "kasih peringatan sama pegawai yang lalai macam Ainun ini."

"Pecat aja sekalian." seru Ainun, melenggang begitu saja melewati Ilham.

"Dulu aja, mohon-mohon sama Ayah supaya dibolehin kerja. Sekarang?" Akbar masih menggerutu pada Ainun. "Mengundurkan diri itu gak seenak jidat kamu, Nun."

Ainun menghela. "Ainun mau fokus kuliah, Bang."

"Kenapa baru kepikiran itu sekarang?"

"Ya karena baru sekarang-sekarang ini Ainun ngerasa capek." capek dengan perasaan lelaki itu, Bang. Lanjutnya dalam hati.

"Udahlah, sana masuk. Abang tunggu di sini" Akbar menunjuk sebuah pintu dengan dagunya.

"Temenin, Bang."


Source

"Lha, mana bisa? Ini urusan antara atasan sama pegawainya. Di mana-mana, yang namanya mengundurkan diri itu ya harus sendiri, mana bisa bawa pihak keluarga."

Ainun berdecak, mau tak mau ia tetap melangkah menuju ruangan Ilham. Ah, ini mudah. Bisik hatinya menyemangati. Saat pintu terbuka, hal pertama yang didapati Ainun adalah senyum merekah di bibir Ilham. Lelaki itu kenapa?

"Bang Ilham?"

Ilham tersentak, ia mengangkat kepala dengan ekspresi terkejut karena kedatangan Ainun.

"Boleh Ainun masuk?"

Ilham berpikir sebentar sebelum mengangguk kecil. "Pintunya dibuka aja." ucapnya saat Ainun hendak menutup pintu. "Kita rawan fitnah."

Ainun tersenyum tipis. Ia melangkah, duduk di kursi, Ilham ada di depannya dengan raut datar. Ke mana senyum yang terlihat bahagia itu pergi?

"Kenapa?"

Ainun berdeham, "Ainun mau mengundurkan diri." ucapnya pelan. "Bukan karena kejadian sore itu, tapi Ainun mau fokus kuliah." lanjutnya buru-buru karena Ilham tak berekspresi apa pun. Entah kenapa, ia merasa takut sekali berhadapan dengan lelaki ini. Gaya ceplas-ceplosnya lenyap tanpa sisa.

"Kamu sudah buat surat pengunduran diri?"

Ainun menggeleng.

"Buat dulu, setelah itu datang lagi ke sini. Kasih suratnya sama Santi, dia yang bakal urusin semuanya." tangan Ilham mencari sesuatu di laci mejanya.

"Kenapa gak Bang Ilham aja yang urus?"

"Abang sibuk, gak akan sempat."

Ainun mengangguk kecil. Ingin sekali berteriak pada lelaki itu karena sedari tadi sibuk sendiri entah mencari apa.

"HAM!"

Ainun dan Ilham menoleh bersamaan ke arah pintu, terlihat Akbar yang berusaha mengatur napasnya.

"Lo jadi ambil beasiswa S2 di Madinah?"

Seperti guntur di siang bolong, Ainun tersentak seketika. Ia beralih pandang pada Ilham, meminta kejelasan, namun lelaki itu lagi-lagi hanya menatap tanpa ekspresi.

Flashback off.
Ilham memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, di sampingnya ada Ainun yang tengah mengoceh tanpa henti. Berjalan di tengah suasana Jakarta pada malam hari memberikan kesan tersendiri bagi mereka.

"Dulu kita sering makan di sana!" tunjuk Ilham pada sebuah warung makan sederhana.

Ainun mengikuti arah pandang. "Berdua?"

"Rame-rame lah."

"Kirain cuma berdua."

"Mana ada istilah cuma berdua di luar pernikahan."

"Kali aja Bang Ilham pernah khilaf." Ainun terkikik. "Ngomong-ngomong Ainun lapar, dari tadi cuma keliling-keliling aja."

"Makan di sana mau gak?"

"Kayaknya Ainun gak mau makan nasi."

"Terus?"

"Cari camilan, ya?" bujuk Ainun, "terus nanti duduk di sana." ia menunjuk tepi danau yang ramai oleh pasangan muda-mudi.

Setelah mendapatkan beberapa camilan, mereka mencari tempat duduk di tepi danau. Lampu yang menggantung di beberapa pohon membuat suasana menjadi hangat dan terang, ditambah cahaya bulan yang bersinar penuh.

Ainun membuka tutup cup sekoteng, aroma jahe lansung memenuhi indera penciumannya. "Masih panas."


Source

"Tunggu sampai anget."

Gadis itu membongkar isi plastik hitam. Tangannya langsung merogoh dadar gulung.

"Jangan pakai cabe, kita gak beli air mineral." peringat Ilham ketika istrinya hendak menggigit cabai merah. "Tunggu sebentar, Abang cari minum dulu." Ilhan beranjak.

Tak sampai tiga menit, Ilham sudah kembali, menyodorkan sebotol air mineral lengkap dengan sedotannya.

"Cabenya gak pedes sama sekali."

"Ya mana Abang tau, air itu buat jaga-jaga, kali aja kamu keselek karena makannya lahap begitu."

Pipi Ainun bersemu. Tak sadar kalau sedari tadi dirinya dengan lahap menyantap semua makanan yang tersaji. Ilham hanya menonton bagimana dadar gulung, risoles, pastel, pie, onde-onde, brownies, lemper abon, kue lapis, hingga tahu isi berakhir di perut istrinya.

"Maaf ya, Bang Ilham." Ainun nyengir kuda, rakus sekali dirinya malam ini. "Nanti beli lagi deh, ya?"

"Nanti kamu habisin lagi semuanya."

"Gak akan. Beneran. Barusan Ainun khilaf."

Kedua sudut bibir Ilham terangkat, ia menyodorkan sekoteng pada Ainun. "Udah hangat."

"Bang Ilham kayaknya sengaja cekokin Ainun semua makanan deh."

"Kamu yang pilih sendiri semua makanan itu, Abang cuma kebagian bayarnnya aja."

Ah, iya. Sedari tadi 'kan dirinya yang memimpin perjalanan kuliner malam ini.

"Pulang yuk, udah malam."

"Sebentar lagi." pinta Ainun, menahan lengan Ilham. "Ainun mau tanya sesuatu sama Bang Ilham."

"Tanya apa?"

Ainun memilah kata. Menghela napas dan mengembuskannya perlahan. "Sebenarnya, ada hubungan apa antara Ainun sama Kak Ari?"

- Annisa Hawa




Posted from my blog with SteemPress : https://coretanaksara.000webhostapp.com/2018/09/cerpen-syahdu-part-15

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!