Suara Pembenci GAM kala Damai: Meliput Konflik #10

in steempress •  20 days ago


Bener Meriah, 24 Agustus 2005. Perdamaian Aceh telah diraih sejak penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005, tapi kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) belum turun gunung menunggu amnesti untuk mereka diumumkan. Kala itu, aku mendapat tugas meliput di daerah cikal-bakal front, Kabupaten Bener Meriah. Di sana, masyarakat umumnya membenci GAM sebagai musuh.

Baca laporan sebelumnya: Masuk ke Kampung Front: Meliput Konflik #8 dan Kisah dari Markas Front: Meliput Konflik #9

Tapi setelah beberapa hari damai ditanda-tangani, sikap warga berubah. Mereka mendukung upaya damai dan siap menerima GAM di tengah-tengah mereka. Amin, 35 tahun, warga Kampung Kresek misalnya menyebut siap menerima GAM, itupun kalau benar-benar telah sadar dan tidak menduakan NKRI. Walaupun, adik dan abangnya pernah dibunuh (diduga) oleh kelompok GAM pada tahun 2000, seperti kisahnya kepada ku.

Amin menilai damai, saat warga telah berani kembali berkebun di bukit-bukit yang jauh dari pemukiman. “Yang penting, usaha bisa lancar, tidur pun enak. Bila perlu jaga malam juga tidak ada lagi,” sebutnya.

Di mata GAM yang telah menyerah, Front dan masyarakat juga tidak pernah mengganggu keberadaan mereka. Seperti yang diungkapkan Herman, 27 tahun, anggota GAM pimpinan Fauzan Azima yang menyerah pada Agustus 2003 lalu.

Sempat menjalani pembinaan di markas Satuan Gabungan Intelijen (SGI) selama enam bulan, Herman kemudian berbaur kembali bersama masyarakat kecamatan Bandar. “Tidak ada masalah, masyarakat menerima biasa saja, tidak lagi dianggap musuh,” kata Herman yang turun gunung dengen sepucuk AK kesayangannya.


Yunus memperlihatkan surat keterangan keberadaan mereka yang berada di bawah pengawasan polisi, Yunus adalah salah seorang anggota GAM asal Blang Seunong, Peurelak, Aceh Timur, yang turun pasca perjanjian damai di Bener Meriah, bersama 6 rekannya yang lain. [Foto diambil 24 Agustus | Dok. Pribadi]

Aku sempat bertemu Ibrahim dan Yunus, kombatan GAM yang turun gunung pada 18 Agustus 2005, sudah damai tapi belum pemerintah Indonesia belum mengumumkan amnesti. Mereka turun bersama empat kawannya membawa tiga pucuk senjata menyerahkan diri ke aparat. “Saya terputus informasi dengan kawan-kawan yang lain, makanya kami turun setelah mendengar siaran radio, yang menyiarkan proses damai,” sebut kala itu.

Saat turun ke desa, mereka diterima dengan baik oleh Sekretaris Desa Jamur Ratu, Kecamatan Bandar. Mereka kemudian dibawa ke kecamatan, untuk melaporkan keberadaannya. Lalu mereka diinapkan di sana sampai dijemput perwakilan Aceh Monitoriong Mission (AMM). “Kami akan menunggu AMM dulu menjemput, baru kemudian pulang kampung,” kata Ibrahim.

Ibrahim mengakui, tidak akan takut jika bergabung dengan masyarakat nantinya. “Sekarang semua kan sudah damai, dan masyarakat juga tahu itu,” sebutnya.

Damai juga disambut sukacita di markas pusat Front, Kabupaten Bireuen. Sofyan Ali, Ketua Front Perlawanan Separatis GAM (FPSG), yang merupakan komando pusat organisasi perlawanan GAM di daerah, juga tampak bersemangat saat menghadiri doa bersama, 15 Agustus lalu, menunggu detik-detik penandatangan kesepakatan damai untuk Aceh di Helsinki.

Menurut Sofyan, anggota front tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota. Saat ini, front mempunyai angota 350.000 orang. “Anggota kita adalah unsur masyarakat,” sebutnya.

Tentang kesepakatan damai yang telah dicapai, Sofyan menyebutkan akan selalu mendukung upaya apapun dari pemerintah, untuk menghadirkan damai di Aceh. Tentang amnesti yang akan diberikan kepada GAM, Sofyan juga mendukungnya, karena itu adalah upaya damai yang sedang ditempuh oleh pemerintah. Sebagai anak bangsa, front akan selalu mendukung pemerintah.


Sofyan Ali | Sumber

Front saat ini mempunyai cita, menghadirkan damai yang hakiki di Aceh. Dia mengakui, pasca-kesepakatan damai, kegiatan mereka sedang vakum. Tetapi bukan berarti front bubar. Pekan lalu, anggota front telah mengambil sebuah keputusan untuk mengawal proses perdamaian secara pasif sampai 3 bulan ke depan. “Sekarang kita vakumkan, organisasi tidak aktif, kita menunggu dan melihat bagaimana proses perdamaian di Aceh,” sebut Sofyan.

Tentang kemungkinan munculnya dendam pribadi antara anggota front dan GAM, Sofyan memahaminya. Sesuai dengan adat istiadat Aceh, mereka juga akan melakukan sosialisasi adat “peusijuk” untuk berdamai menghilangkan dendam. “Kita memanggil ulama dan seluruh dan komponen masyarakat agar hadir dalam sebuah acara itu, disanalah kita memeluk damai dan saling memaafkan, tidak ada dendam lagi,” sebutnya. []

@abuarkan
Adi Warsidi
U5dtm2CteQb7AYt7ykQ2FNBenDjo13w_1680x8400.png

 


Posted from my blog with SteemPress : http://adiwarsidi.com/suara-pembenci-gam-kala-damai-meliput-konflik-10/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!