Fakhri Husaini dan "Kampanye" Match Fixing

in sevenfingers •  16 days ago


PELATIH berkepala plontos ini bukan sosok asing bagi pecinta sepakbola di Indonesia. Sejak masih aktif bermain dia sudah menjadi pengawal lini tengah Tim Nasional.

Namanya, Fahkri Husaini. Puluhan tahun lalu, saya hanya membaca nama dan menonton aksinya saat membela Pupuk Kaltim -- kini bernama Bontang FC. Sebagian besar kariernya sebagai pemain dihabiskan di klub tersebut.

Jika tidak salah, ia tercatat sebagai pemain Pupuk Kaltim selama sembilan tahun, yang dimulai bergabung pada tahun 1992. Sebelum itu dia bermain untuk Petrokimia Gresik sekaran menjadi Gresik United), Lampung Putera, dan Bina Taruna.

Sekira tiga tahun silam saya bertemu dengannya di lapangan sintetis, Lhong Raya. Pria kelahiran 27 Juli 1965 di Lhokseumawe, Aceh ini pulang kampung dalam rangka mencari bibit baru untuk timnas U-16.

Saya tidak ingat lagi ada berapa orang yang dia seleksi dan lolos di bawa ke Jakarta. Data ada, cuma saya lagi malas saja mengulik lagi. Apalagi mengingat tulisan ini bukan untuk bahas masalah itu.

Tulisan ini lebih pada kekaguman pada sosok maestro lini tengah sebuah tim pada era 1990-an, dan ban kapten selalu tersemat pada dirinya. Kenapa?

Untuk diketahui, Fakhri kecil sudah bercita-cita ingin menjadi pesepakbola. Ia pernah bermain untuk skuat Garuda I mewakili Kabupaten Aceh Utara. Sejak dulu dia memang sedang menjadi gelandang.

Saat remaja, Fakhri sudah dilarang ayahnya untuk menjadi pemain bola. Sang tak setuju bahwa mengalami insiden pahit seperti dirinya saat menjadi pemain bola. "Sudahlah, kamu jadi dokter saja," bentak sang ayah.

Alasan ayah Fakhri tak setuju, karena dalam sebuah pertandingan saat sang ayah menjadi pemain terjadi keributan antarsuporter. "Kepala ayah saya bocor. Karena insiden itu, beliau malah melarang saya main bola," kenang Fakhri seperti dilansir beberapa media.

Meski begitu, dalam pertemuan beberapa tahun silam itu, saya tidak bertanya padanya tentang kisah hidupnya. Tapi dia cukup senang dan berbicara dalam bahasa ibunya dengan fasih.

Satu yang saya ingat. "Cukup sayang bila dari lapangan sintetis ini tidak lahir pemain-pemain berbakat di Aceh yang akan mengisi tim nasional," katanya.

Dia mendesak pemangku kepentingan untuk terus mencari bibit baru dengan menggelar banyak turnamen usia muda, bukan membuat turnamen untuk mencari pemain eksekutif.

Dalam sepekan terakhir, dia mulai "melawan" match fixing alias pengaturan skor yang sedang menyerang sepakbola Indonesia. Dia tak takut tampil di acara Mata Najwa meski sudah mendapat larangan dari otoritas sepakbola.

Kemarin di akun instagramnya, Fakhri menulis. “yang diinginkan oleh setiap pelatih adalah tim asuhannya menang dengan ksatria, kalah dengan bermartabat."

Menurut dia, Match Fixing adalah kejahatan terhadap nilai-nilai luhur olahraga, manyakiti para pelatih dan pemain yang teguh menjunjung tinggi fair play & respect, mengkhianati pengorbanan, kesetiaan, loyalitas para suporter.”

Beberapa waktu lalu, lewat aplikasi yang sama, ia mengingatkan mantan anak didiknya, yakni mantan pemain timnas U-16. “Jangan pernah, boys, bahkan untuk mendekatinya sekalipun. Sekali kalian terjerat, akan sulit untuk keluar.”

“Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari perbuatan biadab ini.” Dahsyatkan!


Posted from my blog with SteemPress : http://pedagangkata.com/2019/01/03/fakhri-husaini-dan-kampanye-match-fixing/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Kalimat penutup dari sang maestro memang dahsyat brader @munaa meuhi biek Aceh ha ha ha ha

·

nyan ka pasti, bak acehfootball.net pih na cit atra lagee nyan, hehehe

Congratulations munaa, you upvoted 2000 posts via the @share2steem Curation Trails !

You reached LVL 4 and earned 0.05 SBD !
Move to LVL 5 by upvoting 5000 posts !

!tipuvote 0.05

Check the achievements list on https://share2steem.io !

Participate in our Christmas Challenge : 5 SBI shares to win !

This message is generated automatically.

This post is supported by $0.06 @tipU upvote funded by @share2steem :)
@tipU voting service guide | For investors.