Belajar Manajemen, Apa Pentingnya?

in life •  last month

Belasan tahun yang lalu, ketika saya masih berada di bangku kuliah, ada satu Mata Kuliah yang diajarkan, yaitu Mata Kuliah Dasar Manajemen. Jujur, pada mata kuliah ini saya sering tidak hadir dan lebih memilih jalan-jalan di seputaran kampus, tiduran di joglo, bahkan menyendiri di tingkat paling atas di gedung fakultas saya. Alasannya sepele, karena setiap kali dosen tersebut mengajar, beliau selalu meminta catatan aktivitas yang kami lakukan dalam seminggu, dan hal itu terus berulang setiap minggunya. Karena saya bukan orang yang suka mencatat dan sering melakukan sesuatu secara tiba-tiba, jadi paham kan kenapa hal tersebut sangat mengganggu?

Daripada saya menulis catatan yang isi dalamnya bohong semua, lebih baik saya sekalian tidak masuk saja. Dan hasil dari tidak masuk tersebut adalah saya harus mengulang mata kuliah tersebut. Tak masalah, toh itu merupakan sebuah resiko yang sudah saya pertimbangkan, dan berharap ketika saya mengulang mata kuliah tersebut, dosennya sudah berganti, tapi saya salah.

Ketika mengulang kembali mata kuliah tersebut setelah beberapa semester saya jalani, dosennya masih sama. Lebih parahnya lagi, kali ini beliau bukannya mengajar, tapi memberikan tugas kepada kami untuk mencari duit, dan memulai bisnis. Kami dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap masuk harus memiliki presentasi tentang usaha yang akan kami jalani. Tugas tersebut bisa membuat saya stress saat itu, ditambah lagi saya yang tidak suka dengan yang namanya jualan. Apalagi, ketika beliau menentukan sebelum ujian semester, setiap kelompok harus memiliki lapak untuk bazar yang akan dibuat oleh beliau nantinya, dan penghasilan dari jualan tersebut akan mempengaruhi nilai.

“Kalian itu gak usah banyak-banyak kali belajar teori, sana cari duit yang banyak. Ini juga Ibu kasih tau yang dasarnya aja, selebihnya cari sendiri di buku. Eh.. itu yang catatan aktivitas nanti di kumpul ya,” itu kata-kata beliau yang masih saya ingat sampai sekarang.

image

Setelah sekian lama hal tersebut berlangsung, beberapa hari yang lalu saya bertemu kembali dengan beliau di kampus. Beruntungnya lagi saya diajak jalan-jalan sama beliau, malah mau diajak untuk ngajar bareng beliau, sukurnya saya harus balik ke Aceh pada malam hari, jadi ngajarnya batal. Haha…

image

Beliau bernama Ibu Riny, dosen yang selalu membuat saya pusing, kesal dan jengkel ketika beliau masuk mengajar, dan saya utarakan uneg-uneg tersebut ketika bertemu dengan beliau. Responnya di luar dugaan saya, beliau hanya tertawa sekeras-kerasnya, sambil memberikan uang kepada petugas pom bensin pada saat kami mengisi BBM mobil beliau. Ya.. saat itu saya diajak makan siang di rumah beliau setelah sebelumnya mengobrol di kampus, dan beliau juga mengajak berkeliling ke beberapa pedagang kaki lima yang di bantu oleh beliau untuk mempromosikan dagangan mereka.

“Ibu gak marah?” Tanya saya bingung.

“Kenapa harus marah? Bu Riny membalikkan pertanyaan kepada saya

“Karena saya kesal sama Ibu, selalu disuruh catat dan cari duit”

“Nak, kalian tau kenapa Ibu suruh buat itu semua? Itu biar kalian disiplin, pencatatan kalian lakuin supaya kalian bisa mengevaluasi dan membuat rencana selanjutnya, jadi hidup kalian gak monoton.”

Saya terdiam lama ketika itu, di depan mata saya seperti muncul layar televisi dan data-data yang tidak bisa saya kendalikan munculnya. Saya langsung teringat rumus manajemen yang pernah diberikan oleh beliau, yaitu POACE yang merupakan singkatan dari Planning, Observing, Actuing, Controlling, Evaluating.

Dari hal tersebut saya paham kenapa beliau menyuruh kami untuk mencatat seluruh aktivitas yang akan kami lakukan, agar ke depannya kami bisa merencanakan (planning) kegiatan apa yang akan dilakukan, setelahnya harus melakukan observasi (observing) agar kita tahu apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang akan kita hadapi. Barulah kita bisa melakukan rencana tersebut (actuing), setiap rencana yang telah dilakukan pastinya harus di kontrol agar tidak kebablasan dalam melakukan sesuatu dan dilanjutkan pada evaluasi untuk melakukan pemetaan terhadap tingkat keberhasilan atau kegagalan (Evaluating). Sampai sekarang hal itu secara tidak sadar selalu saya lakukan, apalagi ketika ingin travelling.

image

Bu Riny merekomendasikan buku ini untuk saya baca, dan memang isinya bagus



Dan kenapa beliau lebih menekankan kami untuk mencari uang dengan menjual sebuah produk, hal tersebut karena beliau ingin kami menjadi orang yang memiliki ide-ide terbaru dan inovatif, serta memiliki keberanian untuk menjadi berbeda, bahkan mengajarkan kami untuk melihat ancaman sebagai peluang.

Berjualan juga tidak hanya sebatas menawarkan sebuah produk, tapi bagaimana kita membangun jaringan dengan orang lain, walaupun produk yang kita miliki tidak terjual, tapi ide-ide dan pikiran kita sudah di dengar oleh orang lain. Dan ini bisa menjadi batu loncatan agar keinginan kita bisa terwujud, tidak kali ini mungkin nanti.

Salam,

@fararizky


Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Postingnya keren ini.. resteem ke 7863 follower yaa.. 8-) Ayo klaim airdrop kita dari Byteball!. (Sejumput kontribusi kami sebagai witness untuk komunitas Steemit Indonesia.)

·

Terimakasih

Belajar manajemen itu penting. Supaya bisa nampak gaul kalau ke Jakarta. Tiap jumpa orang Jakarta bisa kita sapa dengan gaya sok akrab; "Men... Mane aje lo men kagak pernah nongol?"

"Mane aje, Men? Udah lama kagak nongol di mari?"

·

Hahahaha... Wanjiiirrr.. Bisa.. Bisa..

Waah...dosen yang keren! Mahasiswanya sudah diajak untuk bisa berbisnis sejak di bangku kuliah. Ilmu manajemen waktunya juga langsung dipraktekkan ya...

·

Iya mba, saya nyesal dulu gak bener2 belajar sama beliau.

Ajarin saya manajemen kepepet, ya...? Hehehehehe.

·

Hahaha.. Boleh..boleh bang.
2 hari lg fara tunggu progress nya ya..
Biar kepepet 😂😂