Mengulik Kisah Orang Rantai di Lubang Mbah Soero Sawahlunto

in indonesia •  2 years ago 

Sawahlunto, itulah salah satu kota kecil di Indonesia, tepatnya di Sumatera Barat yang hanya dihuni oleh ± 50.000 jiwa. Pada masa Hindia Belanda, Sawahlunto dikenal sebagai Kota Batu Bara hingga suatu masa, kota ini sempat mati saat penambangan batu bara dihentikan.

Namun kini, Sawahlunto telah berbenah dan menjadi "Kota Wisata Tambang yang Berbudaya". Di sini Anda akan menemukan banyak sekali bangunan tua peninggalan Belanda, di mana sebagiannya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Tidak hanya bangunan kolonial, di sini Anda juga akan menemukan lubang bekas tambang batu bara yaitu Lubang Mbah Soero. Mbah Soero sendiri merupakan seorang penambang yang ulet dan gigih sehingga menjadi panutan para pekerja tambang.

Walaupun hanya berupa lubang, tempat ini memiliki kisah panjang yang menyedihkan. Berawal dari Lubang Mbah Soero, lahirlah istilah “Orang Rantai” yang merupakan sebutan untuk pekerja tambang dari berbagai daerah di Indonesia yang dipekerjakan secara paksa di lubang batu bara itu. Mengapa “Orang Rantai?” Karena setiap waktu, tangan dan kaki mereka selalu dirantai.

Ratusan “Orang Rantai” ini diperlakukan secara tidak manusiawi. Siang malam mereka bekerja. Jika ingin bertahan hidup, mereka harus terus bekerja. Bahkan kabarnya banyak pekerja tambang meninggal saat sedang bekerja, lalu mayatnya ditimbun di lubang.

mbahsoero1.jpg
Gambar 1. Foto di Galeri Tambang yang menggambarkan kerja paksa pada masa lalu

Memasuki lubang ini, Anda akan merasakan aura berbeda. Bahkan tak jarang bulu kuduk meremang. Semakin masuk ke dalam, Anda akan merasa seolah masuk ke dalam Lorong Waktu yang akan membawa Anda ke tragedi masa lalu.

Sejak 1932, Lubang Mbah Soero ditutup oleh Belanda hingga pada akhir tahun 2007, lubang ini ditemukan dengan kondisi dipenuhi air. Atas perintah Purbakala RI, Lubang Mbah Soero dikeringkan namun tidak boleh dipugar. Jadi kondisi Lubang Mbah Soero yang Anda lihat saat ini adalah yang asli. Bahkan batu bara pada dinding-dindingnya masih terjaga kalorinya meski pernah direndam air dalam waktu yang cukup lama.

mbahsoero2.jpg
Gambar 2. Lubang Mbah Soero yang lembab sudah memiliki lampu penerang

Adapun Lubang Mbah Soero memiliki ketinggian sekitar 2 m, lebar 2 m, dan kedalaman 15 m. Lampu-lampu penerang membuat kondisi lubang tidak terlalu gelap. Sambil berjalan menyusuri Lubang Mbah Soero, rasakanlah dinding-dinding batu bara yang masih terjaga keasliannya itu sambil mendengar guide menceritakan sejarah Lubang Mbah Soero termasuk penutupan salah satu lubang atas amanat tetua-tetua di Sawahlunto karena magisnya. Perlu diketahui, selama Lubang Mbah Soero dipugar, ada banyak ditemukan kerangka manusia dan botol-botol minuman beralkohol peninggalan Belanda. Wajar saja, pengunjung yang masuk ke dalam Lubang Mbah Soero harus mematuhi aturan seperti tidak berbicara kotor dan tidak sedang menstruasi bagi perempuan. Selain itu, pengunjung juga harus mengenakan topi pengaman dan sepatu bots karena kondisi lubang yang masih meneteskan air.

mbahsoero3.jpg
Gambar 3. Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero & Infobox

Adapun Lubang Mbah Soero berada di dalam Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero & Infobox. Tepatnya di Jalan Abdurrahman Hakim. Lokasi ini sangat mudah ditemukan. Mulailah perjalanan dari Pasar Inpres menuju Kantor PT Bukit Asam. Sambil berjalan, Anda akan melihat banyak bangunan kolonial seperti Hotel Ombilin, St. Barbara, dan Gedung Pusat Kebudayaan. Setibanya di PT Bukit Asam, Anda hanya perlu berjalan lurus melewati jembatan. Jaraknya hanya sekitar 650 M, di mana Anda bisa menempuhnya dengan berjalan kaki selama 7 menit.

Dengan tiket seharga Rp 8000, Anda sudah bisa menelusuri Lubang Mbah Soero dan mengulik kisah pedih para “Orang Rantai” di galeri tambangnya.

Oleh: Rahel Simbolon
([email protected])

Catatan:
Artikel dan foto merupakan dokumentasi perjalanan pribadi penulis

Pilih Kami Sebagai Witness Anda - setiap suara menentukan.

Lihat juga:

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Telah saya upvote.

This post has received a 9.72 % upvote from @booster thanks to: @puncakbukit.

Postingan luar biasa, saya sangat menyukai postingan anda @puncakbuki, Walaupun hanya berupa lubang, tempat ini memiliki banysk kisah panjang yang menyedihkan, namun itu membuat saya jadi ingat masa lampau, memang sejarah lubang tersebut sangat bersejarah dari dulu hingga sekarang,,, salam kenal

This post has been ranked within the top 50 most undervalued posts in the second half of Dec 07. We estimate that this post is undervalued by $28.39 as compared to a scenario in which every voter had an equal say.

See the full rankings and details in The Daily Tribune: Dec 07 - Part II. You can also read about some of our methodology, data analysis and technical details in our initial post.

If you are the author and would prefer not to receive these comments, simply reply "Stop" to this comment.

This post has received a 14.75 % upvote from @boomerang thanks to: @puncakbukit

@boomerang distributes 100% of the SBD and up to 80% of the Curation Rewards to STEEM POWER Delegators. If you want to bid for votes or want to delegate SP please read the @boomerang whitepaper.