Susahnya Menulis (Sebuah Kebingungan; Mau Menulis Apa Di Steemit?)

in #indonesia3 years ago (edited)

image
Jika kamu bukan anak raja atau anak ulama besar, maka menulislah.
~~ Imam Al Ghazali~~

Banyak yang mengatakan bahwa menulis itu susah. Saya termasuk salah satu yang pernah mengatakan itu. Bukan hanya saya, di luar sana, tak sedikit orang yang takut bahkan gagap jika berhadapan dengan kewajiban menulis.
"Loen daripada teumeuleh, neu yu peugah haba meu siploh jeum pih ek." (Saya daripada disuruh menulis, suruh saja bicara sampai 10 jam pun akan sanggup.)
Ujar satu dari sekian orang yang saya katakan sangat takut menulis.

Kegiatan menulis memang tak banyak disukai orang. Setidaknya tak sebanyak sukanya orang pada kegiatan bicara. Kalau "Peh Te'm" siapapun mungkin akan suka. Bedanya, "Peh Te'm" lewat tulisan dan lisan akan berbeda kualitas dan faedahnya. Sesungguhnya "Peh Te'm" lewat tulisan lebih dianjurkan ketimbang lisan, karena dipercaya akan membawa lebih banyak faedah.

Sejauh ini, sebelum orang-orang mulai begitu gandrung dengan menulis (Terutama karena terdampak virus Steemit), aktifitas menulis kerap dianggap aktifitas yang membingungkan, menjenuhkan, bahkan menakutkan.

Misal, menulis skripsi. Ini menjadi momok paling menakutkan, setidaknya bagi mereka yang pernah menyandang status mahasiswa. Kata bang @teukukemalfasya, menulis skripsi sebenarnya tidak cocok disebut sebagai aktifitas "Menulis", tetapi menyusun. Alasannya, karena saat membuat karya tulis ilmiah berupa skripsi, para pembuat skripsi ini kebanyakan mengutip berbagai referensi baik berupa teori dan pendapat ahli, sehingga sudut pandang penulis nyaris tidak ada di dalamnya. Yang termaktub di dalam skripsi adalah pemikiran sejumlah orang, yang dikutip dan disusun rapi sedemikian rupa. Itu sebabnya membuat skripsi tak menjadikan orang pintar menulis, melainkan hanya pintar menjadi Pengutip.

Maka tak mengherankan, ada para pengajar, atau sekaliber Professor mengaku dirinya tak pandai menulis walau mereka sudah menghasilkan karya sehebat disertasi. Barangkali ini dikarenakan kecendrungan menyusun, bukan menulis, yakni mengumpulkan data demi data, dan merangkum kutipan demi kutipan.

Tapi ini bukan soal skripsi, tesis, maupun disertasi. Mari lupakan bagian ini, bagian yang sebenarnya cukup merepotkan dan menjengkelkan selama kuliah. Bagi saya (yang bukan Penulis dan hanya sekadar suka menulis dan masih sering bingung mau menulis apa), bicara soal menulis, maka adalah bicara soal rasa. Lebih tepatnya adalah bagaimana mengungkapkan rasa, menuangkannnya dan menghantarkannya ke dalam kata-kata untuk dinikmati pembaca.

Saat kamu sedang berbicara langsung dengan lawan bicaramu, kamu bisa saja mengatakan "Ini manis" ketika mencicipi gula, atau "Ini asin" ketika mencicipi garam. Tapi ketika menulis, lawan bicaramu (yaitu pembaca) tak akan cukup paham jika hanya dengan kata ini manis dan ini asin saja. Mereka harus kamu arahkan untuk bisa membayangkan hal itu, seolah dia pun turut serta merasakannya langsung. Mencicipinya langsung! Itulah menulis.

Pilihan kata-kata adalah kuncinya. Salah memilih kata, maka salah pula pemaknaannya, keliru pula "Rasa" yang ingin kamu hantarkan kepada pembaca. Apalagi jika kacau dalam mengatur kata-kata, maka kacaulah pula penafsirannya. Efeknya, tulisan akan terasa hambar dan bahkan menjenuhkan untuk dibaca, sehingga pembaca meninggalkan tulisanmu di tengah jalan tanpa berpamitan.

Saya sendiri hingga hari ini belum menemukan jawaban paling tepat, bagaimana cara menulis yang baik, bijak, dan benar. Hal itupun masih kerap saya tanyakan kepada guru-guru saya Pak Yarmen Dinamika (beliau belum tergabung ke Steemit dan mungkin as soon as possible) Bang @teukukemalfasya, @ayijufridar, @masriadisambo, Kak @asmaulhusna91 Pak @zainalbakrie, Pak @alchaidar dan Bang Arafat Nur (yang juga belum tergabung di Steemit). Saya sering membagikan tulisan kepada mereka, dengan maksud dan tujuan untuk dikoreksi. Bilapun mau divote di platform Steemit ini, itu adalah bonus tak terkiraaaa! :D Tapi saya janji, betapapun mirisnya vote yang saya dapatkan, saya akan terus menulis. Karna tak seharusnya saya menulis hanya demi dollar. Begitu juga dengan para Steemian sekalian.

image

Menulislah karena ingin menyuarakan sesuatu yang kamu gelisahkan, yang kamu sedihkan, khawatirkan, yang kamu senangkan, yang kamu agungkan dan banggakan, yang kamu ingin perjuangkan. Dimana itu semua tak cukup hanya sekadar kamu lisankan.

Bagaimana menulis dengan Feel dan menjaga hati untuk tetap menulis adalah pertanyaan yang sebenarnya saya coba cari jawabannya selama bertahun- tahun lamanya. Itu sebabnya saya tak hentinya mencari jawaban itu dengan terus memperdalam pengetahuan seputar dunia tulis-menulis. Salah satu caranya, saya ikut dalam kegiatan kepenulisan, seperti yang terkini saya ikuti yaitu Forum Aceh Menulis (FAMe) yang digagas oleh Redaktur Serambi Indonesia, Bapak Yarmen Dinamika.

image

Di FAMe, sedikit saja salah menulis titik dan koma, salah tanda kutip, salah huruf besar dan kecil, salah menulis istilah, salah menaruh imbuhan, semua itu akan dibedah! Setiap tulisan akan "Disucikan" dari najis linguistik yang membalurinya. Saya termasuk yang sering tak disiplin dan abai dengan peraturan "Tertib Berbahasa." Itu disebabkan, karena saya tipikal orang yang suka menulis bebas, santai, nonbaku, dan suka menulis dengan gaya bertutur.Tapi apapun gaya menulis anda, saran saya tetaplah menulis dengan aturan yang baik dan benar.

Dalam hati, saya punya keinginan untuk menjadi penulis. Tapi lagi-lagi saya tersadar betapa sulit untuk sampai kesana, butuh perjuangan dan melalui jalan yang tak mudah. Saat membayangkan ingin menerbitkan karya besar seperti buku misalnya, saya pun menampar diri sendiri. Di Steemit saja masih bingung dan tak konsisten berkarya, bagaimana mungkin mewujudkan mimpi besar lainnya?

Sebuah "Tamparan Keras" untuk malam ini...

**Btw, jika anda butuh ilmu tambahan tentang kepenulisan, ingin menulis dengan lurus, suci, baik dan benar serta langsung dibimbing oleh guru-guru hebat seperti tersebut di atas. Siapa tahu juga bisa menambah vote di postingan, maka, mari melangkah ke kelas FAMe, setiap hari Sabtu pukul 14.00 Wib bertempat di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Gratis! Ditunggu kehadirannya yaa..

Sort:  

Keren banget nulisnya kak

Makasih banyak dek... Yok ikutan kelas FAMe dek...

bangus banget tulisannya...lebay siangen...

Hahaha...
Ciri khas Nda emang agak melow-melow goeslow bacut bang...

Coin Marketplace

STEEM 1.25
TRX 0.14
JST 0.138
BTC 58803.78
ETH 3902.65
BNB 646.10
SBD 7.73