Menjadi Manusia Kreatif: Dari Kartini Hingga Vanessa Angel

in indonesia •  last month


Vanessa Angle

Hal lama pun bisa didekati dengan cara pandang baru. Selain hal lama itu sendiri terus berinovasi menjadi baru.

Lukisan sosok RA Kartini dalam tiga ekspresi mengisi salah satu dinding Gedung Tempo di Palmerah, Jakarta. Setiap saya menoleh ke kiri -- ke luar jendela, pasti sosok kartini yang dilukis oleh Kendra Paramita, salah seorang desainer Tempo, ini selalu "menghadang". Ia tekun dengan aktivitasnya -- menulis!

Sore kemarin, sesungguhnya saya ingin memotret suasana di luar jendela dari lantai 4 gedung itu: rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi Jakarta di kejauhan. Juga wajah sore yang teduh. Saya sudah menekan tombol rana di layar HP, namun tiba-tiba saya teringat: betapa seringnya saya memotret lokasi di samping meja kerja saya itu. Apa istimewanya lagi. Apa perlunya. Apa menariknya.

IMG_20190115_055513.jpg
Begitu banyak pertanyaan bisa kita kemukakan. Begitu tak terbatas. Intinya: apa pentingnya kita mengulang-ulang hal sama, memproduksi klise demi klise, hanya karena ketumpulan kepekaan kita untuk menggali hal-hal baru. Celakanya, kita suka menciptakan "teori-teori" (baca: alasan) pembenar demi menasbihkan kemalasan untuk menggali hal-hal baru. Kita suka bilang: semua hal di dunia ini adalah perulangan.

Memang tak salah. Tapi ketika kita terjebak dalam perulangan demi perulangan itu -- klise demi klise -- lalu di mana "muka" kita sebagai seorang kreator. Tameng "semua hal adalah perulangan" adalah cara paling konyol untuk menutupi ketidakpekaan kita terhadap realitas. Kita tidak mampu menangkap hal-hal baru. Tak mampu masuk dalam berbagai "peristiwa baru" di sekeliling kita.

Lukisan Kartini ini, misalnya. Ia tak dibuat sejak gedung ini dibangun. Ia hadir belakangan. Baru digambar setahun lalu. Ini hanya salah satu contoh: sebenarnya betapa banyak hal baru di sesekiling kita. Terjadi silih berganti. Telepon pintar, media sosial, dan lain-lain itu tidak diwariskan dari zaman Nabi Adam, tapi produk zaman now. Itu hanya misal. Anda bisa menemukan begitu melimpah hal-hal baru lainnya asal peka untuk menangkapnya.


Hal lama dan terus berulang cuma soal perasaan (cinta, duka lara, kesedihan dan sebagainya), sikap, dan perilaku manusia (kebaikan, keburukan, kejahatan dan sebagainya) serta persoalan-persoalan hidup "normatif" seperti kemiskinan, kesusahan, kesulitan hidup akibat berbagai hal, mulai dari perilaku manusia lain (personal, kelompok hingga negara) maupun karena bencana.

Bahkan kejahatan pun, misalnya, mengalami inovasi bentuk sesuain zamannya. Jika dulu para penjahat "merampok" orang harus secara langsung, tapi kini bisa dilakukam secara jarak jauh dengan membobol kartu kredit, menguras isi rekening bank dengan menipu lewat telepon dan seterusnya. Kasus prostitusi online yang diduga melibatkan artis Vanessa Angel dan lain-lain itu
adalah inovasi dari prostitusi konvensional. Dulu harus bertemu dulu untuk transaksi, sekarang bisa secara online.

Kejahahatan memang perulangan, tapi para pelakunya selalu berusaha menemukan cara baru untuk melakukannya. Masa seorang seniman, sastrawan, penyair, kalah kreatif daripada pada mereka yang terlibat dalam tindakan kejahatan. Masa seorang penyair -- apalagi yang merasa menjadi guru dan suka menggurui para penyair pemula -- kalah kreatif dibandingkan para artis dan model yang diduga terlibat prostitusi online

Dengan demikian, sejumlah peristiwa boleh berulang, namun pasti ada kebaruan di sana, baik dari cara hingga modus. Itu tidak hanya memperbaharui cara pandang, juga memperkaya bahasa. RA Kartini berkomunikasi dengan surat fisik dengan teman-temannya di luar negeri, namun para Kartini zaman milenial cukup menggunakan email, chat, telepon hingga video call. Apakah video call warisan dari zaman Majapahit? Bukan Mas/Mbak Bro. Inilah teknologi baru zaman kini.


Foto: Pixabay.com

Sesungguhnya, hal lama pun -- yang konvensional dan kuna -- bisa didekati dengan cara baru. Bacalah buku puisi Kiki Sulistyo Rawi Tanah Bakarti atau novel Buku Jingga karya Nirwan Dewanto yang menjadi buku sastra terbaik Tempo 2018 (Lihat Majalah Tempo edisi terbaru, 14 Januari 2019).

Jadi, bukan hanya peristiwa, objek dan subjek baru, bahkan banyak hal lama belum dikristalisasi menjadi gagasan kreatif. Semua itu ada di sekeliling kita dan dalam kultur kita. Jadi seorang kreator tidak akan kehilangan gagasan baru untuk berkarya.

JKT, 14-15 Januari 2019
MI | IG: MOESISMAIL | @MUSISMAIL



Posted from my blog with SteemPress : http://musismail.com/dati-kartini-hingga-vanessa-angel/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

As a follower of @followforupvotes this post has been randomly selected and upvoted! Enjoy your upvote and have a great day!

Congratulations @musismail! You have completed the following achievement on the Steem blockchain and have been rewarded with new badge(s) :

You received more than 7000 upvotes. Your next target is to reach 8000 upvotes.

Click here to view your Board
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word STOP

Support SteemitBoard's project! Vote for its witness and get one more award!

Hello @musismail, thank you for sharing this creative work! We just stopped by to say that you've been upvoted by the @creativecrypto magazine. The Creative Crypto is all about art on the blockchain and learning from creatives like you. Looking forward to crossing paths again soon. Steem on!