Antara Busana dan Isi Kepala, Siapa Panglimanya?

in indonesia •  19 days ago



Alkisah, ada seorang mahasiswa masuk ke kelas memakai sendal jepit. Melihat itu, sang dosen yang sedang mengajar, mempersilakannya masuk. Sejenak, ia memandang perempuan muda itu yang memakai kaos oblong, celana jeans, dan sepatu sport. Cuma, ia mengernyitkan dahi ketika melihat punggung perempuan itu. Ada bekas beberapa sundutan rokok di sana. Tampaknya si mahasiswi tidak tahu itu. Mungkin itu terjadi secara tak sengaja entah di mana.

Setelah usai kuliah, ia memanggil sang mahasiswi yang dikenal pintar itu. Sebut saja namanya Ani. "Saudari Ani, tampaknya ada yang salah dengan koas Anda," katanya. Sang mahasiswi kaget. "Ada apa pak?" Bapak dosen lalu menjelaskan apa yang terjadi. Ternyata benar, ia tidak tahu bajunya bolong di beberapa tempat terkena api rokok. Ia buru-buru ke kamar mandi untuk melihatnya. Ia malu sekali dengan kejadian itu. Ia merasa telah bertindak ceroboh.

Pertanyaannya, mana lebih penting busana (penampilan) atau pikiran (isi)? Ini menjadi pertanyaan menarik dalam banyak hal. Namun saya yakin sebagian besar orang tentu akan menjawab dua-duanya penting. Pakaian tak sekedar untuk menutup tubuh, tapi simbol untuk menegaskan identitas. Tak heran banyak anak-anak kalangan berduit memburu pakaian hingga berharga ratusan juta rupiah. Pakaian adalah sebuah ekspresi dan gaya hidup. Coba tonton video ini:

.

Dalam kasus mahasiswa tadi, bolong-bolong kena bekas api rokok di bagian belakang kaosnya membuat penampilannya tak sempurna. Pakaian atau busana adalah etalase bagi seserang. Orang boleh sangat pintar tetapi ketika ia memakai pakaian rusak, nilainya akan turun. Sekilas, kedengarannya ini "esksistensial materialistik". Tapi faktanya memang seperti itu. Bahkan, dalam "ruang dan waktu" tertentu (misalnya perusahaan, instansi, organisasi, dll), pakaian dikreasikan sedemikian rupa menjadi identitas dan brand. Bahkan dibuat dengan Surat Keputusan.

Dalam seni, hal semacam ini disebut konvensi. Dalam sastra, misalnya, disepakati bahwa ciri puisi itu terdiri dari unsur-unsur tertentu. Begitu pula karya-karya seni lainnya. Ada konvensi-konvensi dasar harus dipenuhi, misalnya standar kain hingga corak. Namun, karena tidak diatur dalam surat keputusan, seniman bebas saja melanggar konvensi itu demi mendobrak kemapanan. Tentu, sah-sah saja. Tetap bertolak dari konvensi, namun coraknya diberi ornamen-ornamen lain sehingga kelihatan lebih unik.

Sebuah karya seni yang baik selalu merupakan gabungan dari bentuk dan isi yang baik pula. Sebuah puisi yang ditulis dengan sangat indah namun isinya kosong tentulah tidak sempurna keindahnnya. Begitu pula sebuah puisi yang ditulis asal jadi namun menyajikan penjelajahan tema baru, juga tidak akan sempurna sebagai sebuah puisi yang baik. Apalagi ditulis oleh seseorang yang tidak terampil berbahasa dan memperlakukan bahasa. Naskah pidato demontrasi, betapa pun isinya penting, tidak bisa disebut sebagai puisi.

Lebih jauh lagi, sebagai seorang kreator, seniman (termasuk penyair) memiliki keniscayaan untuk menjelajah hal-hal baru, gagasan-gagasan baru dan menuliskannya dalam bentuk baru. Jadi kebaruan meliputi isi dan bentuk. Sehingga sajaknya memang benar-benar bagus plus segar. Sajak-sajak yang seperti inilah yang berhak mendapatkan tepuk tangan. Bukan saja-saja yang hanya mementingkan salah satu sisi saja, atau sajak-sajak epigon dari penyair terdahulu.

Kesatuan dan kepaduan bentuk dan isi berlaku dimana saja. Dalam dunia jurnalistik, misalnya, hal itu juga sangat berlaku. Bayangkan jika tulisan seorang wartawan baru jika dimuat "plek" seperti itu di koran atau online. Pasti pembaca akan malas membacanya. Maka itu, media mempekerjaakan wartawan-wartawan senior sebagai editor yang memoles berita-berita wartawan junior agar rapi dan enak dibaca. Sehingga pembaca pun tidak capek membacanya.

Bahkan, Tempo, demi "membahagiakan pembaca" punya motto: enak dibaca dan perlu. Ini kesadaran paling tinggi bagaimana bentuk sangat penting. Dan kita tahu, pendiri Tempo dan pengelolanya di generasi awal majalah itu adalah para seniman dan sastrawan. Mereka adalah para kreator yang sadar betul dengan kebaruan-kebaruan dan kreativitas. Bekalangan, bahkan muncul istilah jurnalisme sastra, yang menyajikan berita dengan gaya naratif sehingga pembaca seperti masuk dan menjelajah dalam peristiwa tersebut.

Posmodernisme pun bukan antitesis yang memisahkan bentuk dan isi. Postmodernisme lebih menganjurkan pada sikap estetik yang menggugat batas-batas dan estitika yang mengacu pada konvensi-konvensi yang oleh sebagian seniman dianggap sebagai "kitab suci". Postmodernisme menawarkan cara pandang yang mendobrak cara berpikir modern untuk memperluas cakrawala estetika. Ia mempertayakan wacana kebudayaan modernisme yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, ledakan informasi dan teknologi, konsumerisme, menguatnya realitas semu, dan estetika seni yang mapan. Ia melampuai modernitas yakni dunia sekarang.

Penyair, sastrawan, seniman, seharusnya berada di jalur pendobrak ini.

DEPOK, 2 Januari 2018
MUSTAFA ISMAIL | IG: MUSISMAIL | @MUSISMAIL

Sumber foto: Pixabay.com


Posted from my blog with SteemPress : http://musismail.com/mana-lebih-penting-busana-atau-isi-kepala/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!