Apa yang Harus Kutulis?

in indonesia •  5 months ago

IMG_20180526_151128.jpg

Apa yang sedang kupikirkan? Apa yang harus kutulis? Sungguh pikiranku kacau, jangankan untuk menulis di steemit, mengedit naskah berita yang dikirim oleh wartawan saja, aku sedang dihinggap rasa malas akut. Semacam suntuk yang tidak kuketahui disebabkan oleh apa.

Tulisan ini bukan tentang melinjo yang dikenal sebagai cemilan yang tidak dianjurkan bagi penderita asam urat dan kolesterol.

Kepalaku sakit, badanku tidak enak, dadaku terasa sesak, sendawa semakin banyak saja dan perut terasa penuh. Aku belum sembuh semenjak angin sesat singgah di tubuh dua hari lalu. Tengkuk terasa berat dan pegal, kata dokter aku diserang demam, namun sebelum "negara api" benar-benar menyerang, aku sudah duluan ke klinik.

Istriku menasehati agar aku menghentikan sejenak aktivitas, beristirahat dan banyak makan buah. Akan tetapi, kali ini aku tidak bisa menuruti sarannya, selain karena Ramadhan memang telah mengubah pola hidupku, juga aktivitas kerja yang semakin intens saja. Mungkin ini bahagian calon rezeki yang diberikan oleh Allah, karena dalam tiap doa aku selalu meminta kepada-Nya "Ya Allah, jadikanlah aku orang kaya harta dan kaya hati, yang dengan segala limpahan rahmat-Mu itu, aku bisa menjadi hamba-Mu yang taat, berjiwa sosial dan peduli terhadap Islam sebagai agama yang Engkau ridhai."

Saat sedang membuat tulisan ini, kepalaku berdenyut, sepertinya aku butuh istirahat, tapi ya seperti itu, walau mulut terus menguap, mata semakin perih, tapi otak tak berhenti berpikir, walau aku tidak kunjung menemukan apa yang sebenarnya sedang kupikirkan. Aku bingung, semoga saja pembaca tidak bingung.

Dalam dua hari ini aku benar-benar tidak menyukai perbincangan tentang politik. Baik yang dibincangkan oleh kalangan kecil, maupun yang dibicarakan oleh orang-orang besar. Bagiku, orang-orang kecil membincangkan sesuatu yang berupa angan-angan saja, politik harus seperti ini, harus seperti itu. Seperti pengamat saja. Sedangkan orang besar juga gemar berbual tentang kesejahteraan, tapi bila sudah bertemu dalam jumlah kecil, perbincangannya sudah tentang berapa keuntungan finansial yang bisa diperoleh dari sebuah kegiatan politik. Sungguh sebuah anomali. Rakyat kecil terlalu banyak berharap pada pembual itu.

Semenjak bertahun-tahun lalu aku adalah salah seorang yang selalu berbicara--istilah paling tepat mencoba menyampaikan isi hati-- tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat, kemerataan pembangunan dan penggunaan dana Otonomi Khusus Aceh yang mampu membangkitkan ekonomi rakyat dan membebaskan angkatan kerja dari pengangguran. Tapi, akhirnya aku menyadari bahwa apa yang kusampaikan adalah sesuatu yang sangat luas sehingga tidak mungkin mau ditangkap oleh para pembesar. Aku pun mulai mengerucutkan bahan yang kusampaikan. Mereka juga masih tak paham. Ketika aku mulai mengatakan" Hei, saya butuh difasilitasi agar memiliki kesempatan mendapatkan uang yang banyak." Mereka baru ngeh dan mulai merangkul. Ternyata, berbicara secara "lokal" lebih mudah didengar ketimbang ngomong besar.

Satu lagi, mereka paham, bila saya punya "kekuatan" yaitu media. Dengan demikian saya berhasil membangun simbiosis mutualisme dengan mereka. Politikus membutuhkan media, media membutuhkan politikus. Sama seperti steemian kecil membutuhklan steemian besar dan steemian besar membutuhkan yang kecil. Sejauh tidak ada yang dirugikan, its okey, no problem.

Kita terlalu banyak berhimpun dalam berbagai wadah seperti ormas A, persekutuan B, kelompok C, tapi semuanya seperti angin lalu saja. Dari periode ke periode tidak ada perubahan. Bahkan semakin hari semakin tidak menentu arahnya. Berorganisasi hanya untuk diakui eksistensi saja, selebihnya tetap menderita. Ini tentu pekerjaan yang sia-sia. Ketika agen narkoba sudah mampu masuk ke relung-relung agamawan dan berkomunitas di dalamnya, dan dengan demikian mereka terlihat alim sembari terus bermaksiat, kita yang memiliki tujuan mulia, justru mati dalam keinginan itu sendiri.

Anda semakin bingung membaca tulisan ini, karena saya juga bingung. Harga SBD dan Steem sedang lemah, sedangkan targetnya pada lembaran kuda--eh salah-- lebaran Idul Fitri kali ini, ingin saya cairkan, minimal cukup untuk membeli sesuatu yang berguna. Tapi, pasar bebas memang selalu tak pasti, satu-satunya yang abadi dalam pasar seperti ini adalah harapan, selebihnya soal peruntungan saja.

Saya semakin malas membaca tulisan di steemit, yang menurut saya tidak memiliki progres apapun--pendapat ini jangan di flag-- Seperti nasi tanpa garam. Mungkin karena tipikal jiwa saya yang lebih menyukai diskusi sosial ketimbang teknik mengelola program ini itu, maka banyak tulisan di steemit yang tidak membuat saya tertarik. Atau saya sedang bosan? Entahlah.

Saya memimpikan steemit yang bergairah, dengan postingan bernas dan menggebu-gebu, bukan yang statis melaporkan pertemuan -pertemuan yang semata membahas steemit, yang membuat saya berkesimpulan teman-teman yang demikian sudah seperti agen Multi Level Marketing (MLM) yang masih berada pada level piramida terbawah dengan calon anggota yang masih belum jelas. Ah, pendapat ini juga jangan diflag.

Konsep desentralisasi pada steemit --diakui demikian-- sejatinya bisa membuat steemian kreatif dan mampu mengembangkan konten yang bernas, interaktif serta memiliki efek untuk melahirkan kekritisan, bukan sekedar berkumpul untuk membicarakan steemit. Kalaulah ingin mengatakan bahwa steemit hebat, maka isinya juga harus semakin bebas dari cibiran-cibiran orang-orang yang mengaku bahwa platform ini tidak bersifat sentralisasi. Desentralisasi seharusnya membuka ruang demokrasi yang lebih luas, lebih bebas dan lebih bergairah.

Para kurator pun harus melihat ini sebagai sesuatu yang menjadi persoalan. Bila terlalu kaku pada sesuatu yang seragam dari bulan ke bulan, suatu saat platform ini akan ditinggalkan, apalagi bila ada media sosial lain yang lebih bergairah. Quality content sudah harus menjadi perhatian serius para kurator dan orang kaya di steemit.

Kontes yang dibuat pun sudah harus berkualitas. Pemenang tidak lagi bertumpu pada jumlah komentar dan vote dari steemian. Juri harus membuat kriteria dan penilaian sendiri, agar setiap kontes di steemit ke depan benar-benar mencari yang qualifield, bukan sekedar populer, karena untuk meraih kemenangan dengan poa yang sekarang, hubungan emosional akan sangat menentukan. Kita tentu tidak bisa melupakan betapa banyak talenta berbakat harus kalah di ajang pencarian bakat, bukan oleh kualitasnya, tapi oleh dukungan sms penonton. Sama seperti pemilu kita yang one man one vote, sehingga orang tak layak pun bisa menang, karena mengandalkan dukungan vote dan komentar.

Baiklah, karena aku semakin lelah, dan sebelum tulisan ini semakin ngaco, kupadai saja sampai di sini. Anggap saja ini sebagai bentuk upaya agar aku tetap memiliki postingan pada malam hari ini. Semoga juga orang-orang yang memberikan apresiasi atas tulisan yang kubuat, semakin banyak saja dan daya vote yang semakin diperbesar.

Pada akhirnya ketika aku menulis di sini, satu hal yang selalu kunantikan yaitu vote. Ya, aku tidak berbohong, aku butuh vote, agar simpanan di wallet semakin besar dan suatu saat bisa kupergunakan untuk kepentingan keluarga. []

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Subhanallah, saya terharu

·

Hehehehe, mantap bung @tinmiswary.

Ya...penulis memang paling bisa...hahaha

·

Hehehe, saya benar-benar tidak tahu harus menulis apa? What wrong with me? Please explain to me @pieasant.

Boh muling ..nyan cocok tapegoet kerupuk

·

Boh muling nyan cocok keu yang idap asam urat, dijamin "maknyus" setelah menikmatinya bang @muncilin.