Belajar Dari Sang Telaga [Menyapa Telaga Biru Mon Ceunong - Indrapuri, Aceh]

in #indonesia3 years ago (edited)


"Oiii.... Sedang apa disana?" seorang lelaki hitam kekar dengan sebuah parang ditangannya, tiba tiba muncul berteriak kepada kami. Saya dan ketiga teman saya terdiam dan saling bertatapan.
"Kami sedang lihat telaga ini pak, kami dari Banda Aceh", salah seorang teman menjawab.
"Hmm.. Jangan macam-macam ya, jangan sembarang ambil foto dan jangan terlalu ria"
" Baik pak! "
Dan lelaki itu berlalu ke arah hutan. Kami tersenyum lega. "Jangan sembarangan mengambil foto", entah apa maksud dari perkataan tersebut, yang pasti disekitar kami terlihat banyak pohon yang sudah tumbang. Sebuah kawasan hutan yang tidak lagi lebat.

Mon Ceunong, begitulah nama tempat yang kami kunjungi ini. Sebuah telaga berwarna biru di kawasan Indrapuri Aceh Besar. Tiga tahun lalu lokasi ini sempat populer sebagai surga tersembunyi dikalangan pencinta alam Aceh. Saya mengetahuinya dari beberapa media sosial. Waktu itu saya sangat penasaran ingin kesana. Tetapi, rasa penasaran saya belum bisa diwujudkan karena Mon Ceunong ditutup untuk berwisata. Beredar isu adanya konflik antara warga setempat dengan pengunjung telaga. Penyebabnya tidak begitu jelas. Ada yang mengatakan bahwa konflik terjadi karena pengunjung terlalu ria dan nasihat warga tidak diindahkan. Ada juga yang mengatakan warga marah karena di lokasi tersebut banyak pria dan wanita berpacaran. Entahlah, banyak versi cerita yang simpang siur. Yang pasti, sejak konflik tiga tahun lalu, Mon Ceunong ditutup sebagai tempat wisata dan namanya nyaris tak terdengar lagi.

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba nama Mon Ceunong terbersit lagi dalam ingatan saya.
"Apa kabar sang telaga biru?".
Dengan spontan, saya mengajak beberapa kawan untuk kesana. Ajakan saya pun bersambut. Sabtu pagi, dengan menggunakan sepeda motor, kami berempat berangkat menuju Indrapuri. Kami berempat belum pernah ke lokasi. Bekal kami hanya bertanya dengan penduduk yang kami jumpai di jalan. Satu jam lebih waktu yang kami tempuh dari kota Banda Aceh menuju Indrapuri. Info terakhir yang kami peroleh dari penduduk, bahwa jalan yang menjadi patokan kami adalah simpang ke pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan. Dari simpang tersebut kita mengambil arah kanan dan berjalanlah lurus. Ternyata, perjalanan semakin sulit setelah simpang tersebut. Jalan yang kami lalui adalah jalan berbatu, medan tempuh mulai menanjak dan kami harus melewati dua buah aliran sungai. Perjalanan cukup berat, terlebih sepeda motor yang kami gunakan adalah jenis matic dan kami naik sepeda motor berboncengan. Seringkali saya sebagai yang dibonceng harus turun dari sepeda motor dan berjalan kaki karena kondisi jalan sangat buruk, menanjak dan curam atau saat melewati sungai.



Dalam perjalanan menyusuri kawasan hutan, kami hanya mengandalkan perasan. Tak ada tanda arah lokasi dan saat itu tak ada orang yang bisa kami jadikan tempat bertanya. Pada akhirnya kami harus berjalan kaki. Sepeda motor kami parkirkan di sisi jalan yang berbatu dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri sungai. Sungai yang kami lewati berbatu dan sangat licin, karenanya kami harus berhati hati agar tidak terpeleset. Dalam perjalanan menyusuri sungai, kami menjumpai air terjun kecil yang sangat cantik. Ikan-ikan kecil tampak berenang menjauh melihat kedatangan kami. Kesunyian khas hutan sangat kental mewarnai perjalanan kami. Sesekali terdengar kicauan burung dan nyanyian serangga tenggerek.



Tak begitu lama menyusuri sungai, tiba tiba salah seorang kawan yang berjalan dibagian terdepan berteriak, " Yihaaa, kita telah sampai !!!"
Kaki saya terhenti melangkah. Mata saya dengan awas melihat kesekitar lokasi. Sebuah telaga biru ada dihadapan saya. Gemercik air yang mengalir terdengar syahdu. Tumpukan kayu dan ranting pohon berserak di dalam telaga. Mon Ceunong, sang telaga tampak tak terawat. Sisa-sisa konflik masih tampak jelas. Sepertinya, kayu-kayu besar dengan sengaja dimasukkan ke dalam telaga, hingga telaga nyaris tak terlihat. Lokasi ini tidak hanya ditutup untuk wisata, tetapi sepertinya sengaja ingin disembunyikan.



Hati saya miris, apa salah sang telaga? Apa salah sang pohon? Pohon-pohon hutan menyerap air hujan dan menyimpannya di dalam tanah yang ia genggam kuat melalui akarnya. Air tersebut dikeluarkan melalui mata air dalam keadaan jernih, kumpulan air jernih tersebut mengalir membentuk telaga yang airnya mengalir menjadi sungai yang siap kita dimanfaatkan. Kita adalah sebuah kesatuan ekosistem. Manusia, Hewan dan tumbuhan tiga serangkai yang hidupnya bergantung juga kepada tiga serangkai tanah, air dan udara. Jika salah satu rangkaian lemah, maka yang lain akan ikut lemah. Sering diberitakan ada banjir bandang, kebakaran hutan, pencemaran air, menipisnya lapisan ozon dan bencana alam lainnya. Sebenarnya kita sudah tau jawabannya, para penggiat lingkungan tak henti berjuang agar kita sadar, tapi sebagian dari kita tidak perduli. Manusia yang notabene sebagai makhluk paling sempurna, seharusnyalah berlaku arif dan bijaksana menjaga ekosistem ini.

Kami pun larut bercengkrama dengan sang telaga biru. Semakain mengenalnya lebih dekat, maka semakin banyak pelajaran yang kami dapat. Kita belum terlambat, kita hanya butuh memulainya.

"Jagalah ekosistem alam dan hormati kearifan lokal".





Follow Me :

Steemit @ kakilasak
Facebook @ husaini_sani
Instagram @ ucok_silampung & @ kaki_lasak
Whatsapp +6282166076131

Sort:  

Bagus banget! Memang banyak tempat yg sengaja disembunyikan dan dibuat kisah2 horor, mitos2 yang tujuannya agar tidak dirusak. Maklum, kalau hanya dikasih papan pengumuman, suka nggak mau tahu. Lain kalau dibuat mitos, takut sendiri. Biarlah di sana terjaga dan tersembunyi, kalau dibuka dijadikan tempat wisataa, nanti kotor dan rusak!

Betul kak, kadang berfikiran gitu juga. Biarlah akses jalan jelek, biarlah gosah di publish dll. Karena kl udah tersebar jd jorok huhu

THANK You For Helping Me Grow So I Can Give More And More Powerful Upvotes To Everyone That Uses Me.@hichamoun
https://steemit.com/cryptocurrency/@hichamoun/the-blockchain-steem

Postingan yang sangat menarik dan pemandangan yang indah

Wah, makasih sudah singgah.. :)

Amazing colors and photos! Love the post and thanks for sharing! :) @kakilasak
I also write about my travels check it out :)

Followed and upvoted
upvote and follow me @zalb together we can succeed and share interesting stories!

Tqvm. Ok I ll be there for ur post :)

Cakep euy...

Makasih... Si Yaser ya? Haha

hahahahah yoi haha

Akhiirrrnyaaaaa aku pengin kesanaaaaaaa... Huaaaaa... Bravoo banggg...

Foto-foto @kakilasak memang oke punya karena diambil dengan kesungguhan hati nggak seadanya seperti saya, hehehehe. Mau bersusahpayah mendapatkan view terbaik. Saya suka.

Ahhh... Tersanjung nih.. Makasih ya bg :)

Semoga kembali berjaya.

i love your photo'supvoted you
@honeysingh

Hi bro, tq so much for see my posting. Sorry i use bahasa, next I ll posting with 2 language, english n bahasa - Indonesia

always welcome sir

Fotonya itu lho
Ga sabar kepingin kesana
Tapi...
Haha

Tapi apa hayooo haha

Haha
Rahasia negara bang
😁😁😁

Keren ya. Bisa biru gitu kenapa ya...penasaran.

Ada kadar sulfurnya hehe

"Jagalah ekosistem alam dan hormati kearifan lokal".

kearifan lokal 2 kata memiliki makna yang sangat luas mulai dari adat istiadat, tatanan hidup, kepercayaan ataupun sosialnya.

yang penting, jika kamu beriman kepadaNya jangan lupa nikmati dan syukuri.

postingan yang bagus @kakilasak semoga lulus kontes ini !

Terimakasih bg bro. Aminnnn

@kakilasak. emang mantap, alam yang begitu menawan, salam sukses bg

Hehe terimakasih :)

Satu lagi lokasi wisata yang layak dikunjungi oleh pera petualang. Menarik.

Tempat yanng indah

Coin Marketplace

STEEM 0.17
TRX 0.03
JST 0.037
BTC 10768.84
ETH 358.46
USDT 1.00
SBD 0.96