Perempuan itu Bernama Yanti

in #indonesia2 years ago

Perempuan itu bernama Yanti, bekerja di sebuah pabrik panci, di kawasan industri yang terletak di pinggiran Jakarta.

beautiful-woman-pencil-drawing.jpg
Foto: publicdomainpictures.net

Yanti datang dari sebuah desa kecil yang terletak di Jawa Tengah. Yanti murah senyum. Saya beberapa kali berpapasan dengannya ketika ia pulang dari pabrik. Wajahnya masih terlihat manis, meski tampak dilanda kelelahan.

Yanti masih sangat belia, usianya akan beranjak ke-17. Ia terpaksa ikut ke Jakarta bersama temannya yang lebih dahulu pernah merantau ke Jakarta. Mendengar cerita temannya yang sedang pulang kampung, Yanti kepincut ingin ikut ke Jakarta.

Yanti berbekal ijazah SMK yang baru saja didapatkan dari sebuah sekolah swasta di kota kelahirannya. Ia ingin bekerja karena ingin membantu ekonomi keluarganya, sebuah alasan atau argumentasi yang sangat klise.

Tapi Yanti tidak ada pilihan lain, ia harus ikut temannya ke Jakarta menjadi buruh di pabrik panci.

Awal mula di Jakarta, Yanti merasa tidak kerasan, ia selalu ingat adik-adik dan ibunya. Terkadang Yanti, tanpa sadar menangis. Tapi ia harus bertahan, ia harus kuat. Tidak boleh cengeng. Pokoknya ia bilang kepada dirinya sendiri, dilarang lebay dan galau.

Hari demi hari, Yanti melaluinya dengan semangat. Minggu demi minggu, ia makin kuat dan tegar. Suka dan duka ia jalani dengan tekad yang kuat. Gemerlap kota Jakarta, perlahan-lahan mulai menghibur hatinya.

Yanti, gadis periang sebetulnya. Wajahnya yang cantik dan manis sering menjadi perhatian banyak orang, terutama kaum Adam.

Yanti merasa senang setelah bekerja di pabrik panci. Kadang ia bekerja sampai lembur. Ia senang kalau mendapat jatah lembur. Sebab gajinya akan bertambah pula, dibanding jika ia tidak lembur. Lumayan bisa buat beli peralatan kosmetik dan sesekali bisa menonton film di bioskop, pikirnya.

9.jpg
Foto: lilixmen.blogsport.com

Sejak kecil, Yanti telah diajarkan kedisiplinan oleh kedua orangtuanya. Itulah mengapa Yanti, meski jauh dari orangtua, sudah sangat mandiri. Ia sudah bikin jadwal harian di atas kertas, lalu kertas itu ia lekatkan di dinding kamar kosnya. Ia tak mau melanggar peraturan yang telah dibuatnya.

Yanti sangat girang ketika pertama kali bisa mengirimkan sebagian uang kepada orangtuanya. Ia merasa bahwa hidupnya telah memiliki arti. Tapi, ia tetap rendah hati dan tidak sombong. Ia memang murah senyum. Jika ia tersenyum, maka tampaklah giginya yang putih berjajar rapi.

Depok, 29 Maret 2018
Iman Sembada | @imansembada

Sort:  

Mengingatkanku dengan kisah seorang sahabat dari kotaku yang sekarang juga bekerja di pabrik panci di Batam.

Wah.... Kok bisa hampir samaan ya. Hehee....

Yanti, sosok perempuan jelita yang menuai kariernya di ibu kota.

Kaum urban. Hehee....

Seorang yang seru dan bisa hidup berarti bagi orang sangat berarti. Menginspirasi @imamsembada salam literasi dari madura

Alhamdulillah jika tulisan ini bermanfaat. Terimakasih.....

Perantaaauan, sama sepertiku!

Aku juga perantauan. Hehee....

Yanti adalah pahlaman bagi keluarganya. Iri sama yanti. Dia jauh lebih hebat dari saya.

Jangan pula iri kepada Superman atau Batman, mereka pahlawan tapi fiktif. Hahahaa.....

oh ini yang bernama yanti, yang selalu hadir dalam puisi-puisi @imansembada.

Yanti, urbanisasi, dan pabrik panci.

Salam untuk Yanti