Yang Sangkil Setelah Membaca Kura-kura Berjanggut: Bag. I Buku Si Ujud

in indonesia •  21 days ago

IMG_20180604_233731.jpg

Peradaban dibangun di atas gelimangan skandal dan aib. Hanya orang yang bersiteguh dengan kebajingannyalah yang bisa mengokohkan sesuatu peradaban hingga datang orang-orang lembek, melempem—yang tak kalah bajingannya pula, yang meruntuhkannya.


BARANGKALI BERDASARKAN pemahaman itulah novel Kura-Kura Berjanggut ada. Bahwa manusia mutlak punya sisi kebajingannya tersendiri, dan Azhari Aiyub, sang penulis cerita, merangkai segala yang bajingan itu dalam rentetan kisah panjang, ihwal bagaimana sebuah kerajaan bernama Lamuri masyhur dan terpandang. Hingga kemudian tiba pada gilirannya terpuruk dalam kubangan perang.

Kendati mengangkat cerita dengan latar tempat bernama Lamuri—jika tak ingin disebut Aceh kuno, Kura-Kura Berjanggut bukanlah novel yang merekontruksi ulang teks sejarah. Hal mana seperti ditulis Azhari Aiyub dalam ucapan terima kasihnya di halaman 995, "... dia tidak mau membaca sebuah novel sejarah, yang juga merupakan kekhawatiran terbesar saya sejak awal." Meski tak dapat dipungkiri, jalinan kisah dalam Kura-Kura Berjanggut punya benang merah yang menyala kuat dengan sejarah Aceh dan hubungannya dalam kawasan Melayu-Nusantara.

Novel ini terbagi dalam tiga bagian utama. Buku Si Ujud, Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri, dan terakhir Lubang Cacing. Bagian per bagian novel disusun oleh para tokoh yang sarat kepentingan pribadi atau kelompok. Yang dengannya segala intrik politik dimainkan dan tentu saja setting panggungnya berada di tampuk kekuasaan atau di lingkaran terdekatnya. Intrik politik itu pula yang mendedahkan skandal atau aib masing-masing tokoh di dalamnya. Dikisahkan berdasarkan penuturan antar tokoh yang kocak, cabul, penuh ungkapan-ungkapan tak terduga, atau melalui catatan-catatan harian mereka.

"Aku curiga, saat di Lamuri bangsawan Inggris kita juga telah disunat dan mengucapkan dua kalimat syahadat." "Dia ada bakat dengan agama, sekaligus mengkhianati semuanya." "Tentu ada banyak sekali firdaus untuknya nanti di akhirat." "Sebanyak neraka yang telah tidak sabar menunggunya," timpaku. —hal. 866.

IMG_20180604_233130.jpg

BUKU SI UJUD adalah kisah yang mengantarkanku pada kesimpulan seperti pada pembuka tulisan ini. Kerajaan Lamuri memulai gezah kegemilangannya ketika tampuk kekuasaannya dipegang oleh Si Anak Haram Sultan Nuruddinsyah. Anak Haram yang merebut tahta Sultan Maliksyah—orang yang membeli Ramla dan Kamaria, ibu dan kakaknya, di pasar budak Bandar Lamuri dan membawa mereka ke istana jauh hari sebelum si Anak Haram lahir,— dengan revolusi berdarah-darah dari penjara bawah tanah Jalan Lurus.

Lalu bersama komplotannya. Para orang hukuman di penjara bawah tanah Jalan Lurus, beberapa di antaranya bernama Astakona, Marabunta, Si Buduk—orang-orang ini kemudian menjadi pejabat penting kerajaan, melakukan pembersihan di selingkar tampuk kekuasaan Lamuri. Atau apa yang kemudian dikenal dengan sebutan Pembasmian Merica.

Pembasmian Merica yang dilancarkan Anak Haram tak hanya meruntuhkan sultan terdahulu. Tapi juga membuat cengkeraman kongsi dagang Ikan Pari Itam tercerabut dari tanah Lamuri. Ikan Pari Itam adalah satu persekutuan dagang yang sebelumnya selalu menyitir segala keputusan raja sesuai dengan kepentingan dagang mereka. Hal mana yang membuat mereka sebagai satu perkongsian paling terpengaruh sepanjang kawasan selat. Bahkan ketika perkongsian ini harus menyingkir ke Tumasik dan membangun Kura-kura Berjanggut, satu persekongkolan yang dibentuk untuk membunuh si Anak Haram dengan pelbagai cara.

Sultan Nuruddinsyah—“Dia adalah tragedi yang bangkit dari lumpur untuk menciptaan tragedi yang lain,” hal.124—ditampuk kekuasaan Lamuri adalah poros bagi kelanjutan intrik politik pada abad-abad silam. Untuk mengukuhkan dan memperluas kekuasaannya ia mesti memanfaatkan kerja-kerja para bajingan, si Buduk salah satunya, di satu sisi. Tapi di sisi lain orang-orang bijak bestari serupa Ernem Misal dari Kekhalifahan Usmani diterimanya sebagai Wazir Agung.

Namun, tak ada satu kekuasaan pun di dunia yang luput dari gerogotan para pengkhianat, serupa kamue (baca: rayap) yang menggerogoti pondasi suatu bangunan. Dalam hal ini Anak Haram menghadapi komplotan Kura-Kura Berjanggut sebagai musuh utamanya. Di samping pula perencanaan pembunuhannya yang dirancang secara personal dengan motif dendam.

Sebagaimana maksud Syahmardan alias Tulafatu alias Cutabato atau Si Ujud ketika menginjakkan kakinya kembali ke Lamuri. Setelah bertahun-tahun belajar dan menjadi eksil di Istamboel. Pulang dengan terlebih dahulu menjadi perompak Tata Sifr di bawah komando Sjarif Ruj melawan Liga Suci. Ambil bagian dalam komplotan Bumbu Hitam. Lalu ketika ia tiba di Lamuri dan sudah demikian dekat dengan sasaran pembunuhannya. Ia malah diangkat jadi seorang Sangkilat (mata-mata kelas elit) oleh calon korbannya sendiri dan menamakannya dengan lakab Si Ujud.

IMG_20180602_153108.jpg

Membaca Buku Si Ujud dengan sengkarut saling jatuh menjatuhkan di tampuk kekuasaan. Jika dihubungkan dengan konteks kekinian, tak ubahnya seperti apa yang tengah berlaku antara pihak gubernuran dan orang-orang dewan di pemerintahan Aceh sekarang. Polemik dan intrik politik yang tak berkesudahan, telah memosisikan pihak gubernuran sebagai Sultan Nuruddinsyah atawa Anak Haram yang disokong tokoh-tokoh yang perangainya serupa Marabunta, Astakona, si Buduk, atau bahkan Si Ujud yang bertindak sebagai musuh dalam selimut.

Sementara di sisi lain, persekongkolan Kura-kura Berjanggut berdiri pada pihak orang-orang dewan. Yang oleh sebab tumpok peng APBA telah di-Pergub-kan, pelbagai ilah daya dilakukan untuk menjatuhkan sang pemegang tampuk kekuasaan. Hal mana membuat polemik seperti ini cukup mampu mendedahkan secara gamblang kepada kita, bahwa dua pihak yang bertikai punya boroknya masing-masing. Yang semakin sengit mereka berjibaku satu sama lain, semakin tersingkap pula sisi-sisi kebajingannya.

Bagaimana dengan bagian kedua Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri, dan bagian Lubang Cacing dalam novel Kura-kura Berjanggut ini? Akan ada catatan lanjutan nanti. Sampai di sini dulu.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

wahh.. tebal juga bukunya ya..

·

Tebal bang. Sangat dianjurkan dibawa-bawa oleh para petualang karena bisa jadi bantal kalo hendak tidur sekaligus berguna pula sebagai senjata untuk melawan musuh. Hehe

Macam sedap kutengok buku ini, tapi masih agak lama aku bisa punya. Ada nampak benang hitam dgn situasi perpolitikan Aceh nowadays? Thanks for sharing Bre🤗

·

Benang hitam nan kusut, kak!

·
·

Gak ada karakter "bunda syariah " kesayangan dia kan?

·
·
·

Entah Ramla atau Kamaria yg cocok disandarkan dengan tokoh itu. Atau mungkin juga Basilan yg lebih presentatif kak. Haha

·
·
·
·

Hahahaha... Aku yakin pasti ada haji bakri juga sekarang

konten yang menarik,,,agak seram sih liat bukunya...hehe @bookrak

·

Lebih seram lagi kalo tak membacanya. 😁😁😁

Kura-kura Berjanggut lagi trending-trendingnya di Aceh eum. Hampir di setiap lini medsos ada yang bahas. Wajar sih, ditulis 10 tahun lamanya, punya kualitas (sekalipun belum baca) dan ditulis oleh Azhari A. The Guree.

Lon ka awai kupesan, hana cae THR lom, hana jeut bungkoh. -_-

·

Saba beuraya meunyo meunan. Semua akan kura-kura pada waktunya. Hehe

kebingungan aku menyelesaikan yang mana dulu diantara kedua buku ini bang,

secara kebetulan sampai ke tanganku dalam waktu yang hanya berselang sehari

dan didalamnya kutemukan si ujud di kedua buku ini.

ada saran bang @bookrak ?
1622395F-F0BF-46C3-B50C-8D961ED46351.jpeg

·

Peu bereh yang lipeh dilee bang. Bah kumah saboh-saboh. Tapi bereh cit buku jameun nyan. Le jeut ta puliek asoe dalam jih bak sang.