Unfinished Biography - Neraka Di Atas Lubang Dubur Setnov

in indonesia •  last year

image

SUDAH TIGA malam Setnov tak bisa tidur. Itu tiga malam paling jahanam seumur-umurnya. Selama tiga malam itu pula, Setnov sadar neraka bukan hanya ada di akhirat sana. Tapi juga ada di dunia, dan pada malam-malam celaka itu, neraka yang baru disadarinya tepat berada dua atau tiga milimeter di atas lubang duburnya.

Tidak. Setnov tidak mengidap ambien atau wasir atau sembelit. Seorang Setnov, yang sejak masih sebentuk sperma ayahnya yang kaya dan punya pola hidup sesuai arahan para dokter pribadi, musykil sekali mengidap penyakit para jelata. Kalau pun pernah mengalami semacam ambien, para dokter pribadi akan mengatakannya dengan nama dalam bahasa Latin atau Inggris. Biar terkesan elegan, enak terdengar dan tentu tidak menurunkan marwah keluarga Setnov yang memang terkenal kaya sejak dua belas turunan sebelumnya. Tapi ya, itu tadi; Setnov bukan mengidap ambien.

Neraka di atas lubang dubur Setnov adalah rasa gatal yang menyayat. Gatal dalam artian segatal-gatalnya rasa gatal yang pernah ada di dunia. Rasa gatal kena seribu ulat bulu, kena sepadang daun jelatang, atau kena setanjung ikan pari sekali pun masih kalah jauh dengan rasa gatal yang diderita Setnov selama tiga malam itu.

Jangankan untuk berbaring diranjang empuk sambil memeluk istrinya yang semlohai, duduk pun Setnov tak bisa tenang. Gatal buduk yang datang sekonyong-konyong lepas magrib itu benar-benar mengganggunya, atau lebih tepatnya sangat-sangat menyiksa.

Siksaan itu makin bertambah-tambah oleh karena; Setnov sendiri mengidap semacam alergi akut dengan yang namanya dubur. Apa pun jenis dubur di dunia, sekali pun itu duburnya sendiri, Setnov phobia.

Imbasnya, tidak lain kecuali rasa gatal di situ makin merajalela, dan Setnov menderita dalam suatu siksaan maha dahsyat.

Tadinya Setnov mengira gatal-gatal menggelitik di atas liang pembuangan limbah tubuhnya hanya bersebab iritasi ringan. Sore sebelum lepas magrib ketika raja di raja gatal itu datang kali pertama, Setnov bermain tenis dengan koleganya. Lawan tandingnya sore ini cukup tangguh, benar-benar menguras keringatnya dan mengucur ke seluruh tubuhnya.

"Ah, kenapa pula aku telat mandi tadi," sesal Setnov dalam hati saat pertama sekali merasa gatal.

Setnov jadi sangat gelisah setelah dua jam kemudian rasa gatal di dekat duburnya makin menjadi. Ia yang tadinya agak tenang, menganggap rasa gatalnya karena biang keringat, kian jam kian gusar. Kegusarannya makin bertumpuk sebab petaka paling celaka itu malah bersarang di tempat yang telah lama tak tersentuh oleh siapa pun--termasuk dirinya sendiri, sepeninggal mendiang ibunya yang ajal ketika ia masih berumur empat tahun. Ihwal Setnov phobia dubur akan terurai dengan gamblang pada bab khusus lainnya.

MALAM PERTAMA Setnov berada dalam neraka gatal adalah malam terpanjang yang dialaminya. Pukul 23.00, artinya empat jam lewat dua puluh dua menit setelah serangan gatal pertama menghantam sudut paling sakral tubuhnya, ketika seisi rumahnya sudah menghidupkan mesin dengkurnya masing-masing, Setnov hanya bisa mondar-mandir di dalam kamarnya. Alih-alih berbaring menemani istrinya yang kini sudah terlelap dengan paha terkangkang serupa kangkangan paha ayam, duduk pun ia sudah tak bisa.

Di titik pusat gatal itu, Setnov seperti merasakan ada sesuatu yang terus menggelitik, menusuk-nusuk, dan pelan-pelan gelitikan itu seperti sedang menyentuh ujung tulang ekornya. Jika sudah begini, tidak ada cara lain kecuali ia gosok-gosokkan pantat itu pada sudut-sudut tiang beton rumahnya. Tapi celaka dua belas, gatal itu malah menjadi-jadi.

"Oh Tuhan! Kenapa dengan duburku ini. Celaka. Oh Tuhan, duburku. Duburku gatal, Tuhan. Sialan. Oh Tuhan!"

Setnov mengumpat sambil memanggil Tuhan. Begitulah. Malam itu, Setnov menghabiskan malam panjangnya dengan mondar-mandir di seisi ruangan rumah, menggosok-gosokkan pantat pada tempat-tempat yang dianggapnya pantas, sambil mengumpat sekaligus memanggil Tuhan. Ajaib. Rasa gatal itu sekonyong-konyong hilang tepat pukul 06.22, dan sepersekian detik setelahnya ia jatuh tertidur dengan sendirinya. Malam besoknya, begitu pun di malam lusa, Setnov mengalami neraka gatal yang berulang, yang datang dan berakhir sebagaimana jadwal malam pertama ini.

Bagaimana dengan malam keempatnya? Kita perlu menunggu berita terbaru turun dua malam lagi. Sabarlah menanti.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Ngeri baca judulnya. Hehehe.

·

Baca juga isinya, @dsatria. Hehehe

Bereutoh bg....

Kami sudah upvote..

Meledak Mamak keren bg @bookrak

·

Terima kasih @fahmitapakba

Saya suka banget gaya penulisanmu!

·

Hehehehe... Coba-coba belajar bereksplorasi, mbak. Apa kabar Bandung?

·
·

Baik... hujan terus... kapan2 mau ah mampir ke komunitasmu...

·
·
·

Asiikk... Kami tunggu kedatangannya, mbak.

Waw,cool bang @bookrak

·

Thank you banyak banyak @mazidoank