Ketika Hati dan Otak Mengutarakan Resolusi

in fiction •  20 days ago

Ternyata waktu tak bisa berhenti sejenak bahkan terus berjalan tanpa mau melihat ke belakang, tanpa mau peduli terhadap apa yang telah tertinggal, pun dengan apa yang akan terjadi di depan nanti. Itulah waktu, dia hanya mengikuti ritmenya, tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat, dia berjalan pasti. Meninggalkan berjuta rasa sakit, kecewa, amarah, senang, bahagia. Namun, dibalik itu semua dia berjalan maju menggapai sejuta asa yang masih menggantung dan harus segera diwujudkan, oleh siapapun pemilik asa tersebut.

Begitulah tulisan seorang anak manusia dalam mengakhiri tahun yang sudah dilewatinya dengan berjuta rasa agar lebih siap melompati tahun yang entah seperti apa ke depannya. Tapi, siapa peduli, baginya memiliki berbagai memori yang bisa membuat hidup berwarna saja sudah merupakan suatu anugerah, lalu kenapa harus mengkhawatirkan apa yang belum terjadi? Bukankah semua harus berproses?

Selagi menuliskan semua memori yang masih lekat dalam ingatannya, anak manusia itupun hanyut dalam lamunan. Tapi lamunan itu juga yang tanpa sadar membuat Hati dan Otak yang selama ini dianggapnya sudah menyatu, kembali lagi pada ring pertarungan sebagai rival.

Screenshot_20181231-204830.png

“Aku ingin mengajukan resolusi ku untuk tahun depan! Selagi Anak manusia ini melamun, aku akan membisikkan inginku padanya! Kali ini tak boleh gagal lagi.”

“Sabar dulu… semua ada waktunya, biarkan dia memilih apa yang diinginkan olehnya, kita tinggal membantu mewujudkan nanti” Ungkap Hati pada Otak.

“Ahh.. Enak saja, gara-gara kamu sering membisikkan kata-kata sabar akhirnya dia tak banyak melakukan apa yang diinginkannya pada tahun ini. Semua karena mu!”

“Tapi dia semakin matang kan? Hidupnya semakin tertata, walaupun tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi. Dendam yang dia simpan selama ini juga mulai memudar. Dendam itu yang membuatnya terpenjara oleh semua rasa sakit dan membuat hidupnya tak karuan.”

“Itu tak cukup, Hati…! Kau lihat lah dia sekarang, seperti zombie yang hanya mengulur-ngulur waktu untuk memangsa. Tak ada gairah, terlalu tenang, adrenalin yang selama ini mengisi kehidupannya pun sudah tak terlihat.”

“Ayolah.. Tak ada salahnya kan dia terlihat sangat tenang, menikmati dirinya sendiri sedikit lebih lama. Biarkan saja dulu.. Tak ada yang perlu dikejarnya. Tak perlu lagi dia membuktikan sesuatu agar dianggap ada, karena memang dia ada.” Seperti biasa, Hati selalu mengeluarkan kalimat-kalimat diplomatisnya, yang terkadang membuat Otak jengah, dan rasanya ingin menghantam Hati dengan lebih keras.

“Aaarrgghh… Percuma berdebat dengan mu. Terserah apa yang kau katakan, tapi yang jelas selama ini kau menjadi penyebab segala ambisinya terlupakan!”

Screenshot_20181231-205224.png

Level emosi Otak semakin tinggi, tapi kali ini Hati berjuang keras untuk menguasai permainan agar tak terpancing emosinya oleh Otak, walaupun sebenarnya Hati merasa geram. Namun dia mencoba memberi keseimbangan dengan menurunkan level egonya.

“Ambisi yang selama ini dimilikinya adalah hanya untuk membalaskan dendam terhadap orang-orang yang telah meremehkannya, memandangnya sebelah mata, mencibirnya. Dendam tak akan menyelesaikan apapun, yang ada malah dia semakin terpuruk oleh dendamnya sendiri. Itu yang kau mau, Otak?” Hati kembali menjelaskan. Level egonya semakin direndahkan. “Kau mau dia kembali diselubungi kesedihan? Sudah cukup rasa sakit yang selama ini dipendamnya, kau pikir dengan dia membangun benteng yang tinggi, dia akan baik-baik saja? Kau salah… yang ada malah dia akan semakin terkurung dengan dendam yang dimilikinya, dan itu akan lebih membuat dia hancur.”

Screenshot_20181231-204918.png

Otak terdiam mendengar penjelasan Hati, pada dasarnya setuju, tapi sedikit terbesit ragu. Ragu karena ketika anak itu menggunakan hatinya dia lebih sering merasakan sakit. Namun, ada yang tak dipahami oleh Otak, hanya disadari oleh Hati, semakin sering anak itu merasakan sakit semakin kuat dirinya untuk menghadapi rasa sakit selanjutnya yang akan menghampiri. Dan semakin siap dia dengan segala kejutan yang tak disangka.

“Tapi kalau dia selalu mengandalkanmu dan melupakanku, akan bagaimana jadinya dia nanti?” Otak merendahkan suara dari pikirannya.

“Hahaha.. Pertanyaan macam apa itu? Dia akan selalu membutuhkan kita, karena kita akan selalu menjadi bagian dari dirinya”

“Ya.. aku kan Cuma khawatir kalau diabaikan saja. Apalagi kalau dia tidak lagi menggunakan ku, bisa hancur hidupnya,” Ucap Otak sewot.

“Bila kau terlalu memonopoli dirinya, dia pun akan hancur. Itu sebabnya kita harus bisa menyatu, agar semua jadi seimbang. Dia juga tak perlu selalu menjadi serius kan? Nanti kalau kau terlalu menguasai, bakal hilang hobinya yang suka makan ice cream itu.” Hati memulai candanya.

Screenshot_20181231-205046.png

“Aku lagi serius ini…!” Otak merajuk.

“Tuh kan.. baru diingati jangan terlalu serius, masih juga serius”

“Ya sudah.. jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Otak tak sabaran.

“Kita… bukan hanya kamu, tapi kita akan membantu mewujudkan resolusi apapun yang dia inginkan.”

“Iya.. tapi apa???”

“Sabarrr…”

“Sabar lagi… sabar lagi.. begitu saja terus!” Otak kembali menaikkan nadanya.

Seorang anak manusia yang tadi melamun segera tersadar dan menuliskan beberapa resolusi dalam hidupnya di tahun mendatang. Hal tersebut disaksikan oleh Otak dan Hati. Anak ini ingin mewujudkan mimpinya membantu orang lain yang ingin memulai usaha mereka, menikmati setiap prosesnya. Lebih banyak belajar dan memahami apapun, daripada harus dipahami.

Dia telah melewati banyak hal pada tahun ini. Menikmati segala kebaikan yang telah diperbuat, walaupun sering membuatnya menjadi ceroboh karena kehilangan filter dalam mendeteksi bahaya ketika terlalu sering menggunakan Hati. Begitupun halnya ketika dia melakukan kesalahan, dia semakin belajar menjadi seseorang yang lebih peka, lebih banyak mendengarkan untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Itu terjadi ketika Hati dan Otak dibuat bersatu olehnya. Ya.. walaupun terkadang dia merasa puas dengan “kejahatan” yang telah diperbuat. Pastinya itu andil dari Otak ketika mendominasi dirinya.

Screenshot_20181231-205144.png

“Kau benar Hati, kita bisa membantu mewujudkan resolusi yang diinginkan olehnya.” Otak memecah kesunyian malam di bawah gemerlap bintang. “Tapi kita pernah membuatnya gagal ketika bersatu,” protes Otak.

“Dia akan lebih gagal ketika kita berjalan sendiri-sendiri. Kalau hanya masalah kegagalan yang kau khawatirkan, kita bisa mencobanya lagi kan?” Hati memberikan kode untuk mengakhiri perdebatan.

Begitulah Hati dan Otak, adakalanya pertarungan memang mereka butuhkan, adakalanya perdebatan memberikan suasana romantis, hanya untuk saling menghangatkan agar tak ada yang membeku dan tak dipenuhi sikap sinis.

Screenshot_20181231-205906.png

All Photos are taken from instagram

Salam,
@fararizky

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!