Membunuh Tokoh Fiksi Dalam Kepala

in fiction •  12 days ago


SUATU KALI aku terjebak dengan pikiranku sendiri. Dalam satu masalah pelik, yang sampai berhari-hari lamanya aku tersuruk kedalamnya tanpa tahu cara menyelesaikannya. Semuanya bermula ketika aku hendak mencoba menulis satu cerita pendek. Fiksi. Dengan setting cerita zaman konflik dulu.

Lazimnya cerita yang baik, tentunya harus digerakkan oleh tokoh di dalamnya. Maka aku pun mencoba mereka-reka tokoh untuk ceritaku itu, yang karena mengusung tema zaman konflik, aku memilih figur tentara sebagai tokoh utamanya. Lalu di sinilah letak masalah pelik muncul pada mulanya. Hingga membuatku berkesimpulan, bahwa jangankan di alam nyata, dalam alam khayali pun berurusan dengan tentara bisa menimbulkan malapetaka.

Ketika tengah kureka-reka tokoh utama yang tentara itu, sekonyong-konyong pikiranku seperti sedang kena hantam popor senjata. Kepalaku berdenging. Alam pikiranku mendadak cekam, suasana berubah senyap seketika. Persis seperti suasana Jungka Gajah di kawasan Nisam, Aceh Utara pada tahun-tahun pemberlakuan Darurat Militer masa konflik. Jelas adanya, belum selesai kureka tentang keberadaannya, si tentara langsung menguasai kepalaku. Mengata-ngataiku dengan bentakan-bentakan khas yang bagi sebagian orang, khususnya di Aceh, akan memunculkan kembali trauma.

Sejatinya pengarang cerita adalah orang yang mencipta dan menguasai watak dan karakter tokoh dalam ceritanya. Pengarang pula yang menggerakkan tokoh hingga cerita tampak hidup, masuk akal, atau bahkan bisa dipersandingkan dengan fakta-fakta yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Tapi untukku kali ini, alih-alih bisa bertindak seperti itu, aku malah terteror oleh tokohku sendiri. Hingga aku sama sekali tak bisa menulis satu pun kalimat pembuka.

Pengarang yang diteror tokoh fiksinya sendiri sebelum menulis satu pun kalimat adalah sesial-sialnya pengarang. Keamatiran si pengarang tampak tak bisa diganggu gugat lagi, setidaknya itulah yang kualami pada hari-hari ketika tentara dalam kepalaku melancarkan terornya sedemikian rupa. "Kau pikir konflik dulu itu kami yang bikin, apa?" Bentaknya dengan mata mendelik, tajam hingga membuatku hanya bisa berpejam.

"Kau harus tahu tak ada perang tanpa mengucurkan darah. Orang-orang terbunuh, itu sudah mutlak. Dan orang-orang kampungmu memilih itu. Kami tentara. Kami dilatih untuk menjaga kedaulatan negara!" Lanjutnya lagi.

"Menjaga kedaulatan negara meski dengan cara membunuh orang-orang tak bersalah?" Aku tergerak melayaninya.

"Iya. Negara harus tetap utuh. Meski untuk memastikan keutuhannya adalah dengan cara membunuh. Tapi yang telah terbunuh pun semuanya bersalah."

"Semuanya bersalah?" Tanyaku lagi sekadar meyakinkan pernyataannya yang dengan sigap diiyakan sendiri oleh dengan satu anggukan kepala. "Lalu apa yang bisa kau katakan jika aku beberkan bahwa orang-orang yang kalian bunuh di Simpang KKA, di Idi Cut, Jambo Keupok, Rancong, Rumoh Geudong, Beutoh Ateuh dan lain sebagainya bukanlah orang-orang bersalah seperti yang kau kira."

"Kau jangan macam-macam ya. Jangan beretorika sesuka hatimu. Kami bertaruh nyawa dulu, kau seenak udelmu menuding kami bersalah. Awas kalau kau macam-macam denganku," kata tentara dalam kepalaku seraya balik badan pergi entah kemana.


Aku terpaku sendiri. Percakapan dengan tokoh cerita yang belum kutulis ini membuatku tertegun dan entah bagaimana pikiranku lumpuh, beku. Belum lagi kutulis apa-apa, si tentara dalam kepalaku sudah mulai melakukan pembelaannya. Tak hanya itu ia malah melancarkan ancaman jika aku menulis cerita yang bukan-bukan.

Tak ingin terlalu pusing sendiri, aku memutuskan untuk tak jadi menulis cerita tentang masa konflik. Aku mencoba mengenyahkan si tentara dari kepalaku dan aku terbebas dari terornya, aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Jika pun ide cerita yang telah terpikirkan sebelumnya buyar begitu saja, biarlah aku mencari-cari ide lain nantinya. Keselamatan pikiranku lebih penting dari segalanya.

Tapi celakanya. Ini tak berakhir begitu saja. Si tentara calon tokoh cerita yang hendak kuenyahkan itu malah memilih berkutat di kepalaku. Ia hadir lagi sehari setelahnya. Pertama untuk memastikan apakah aku jadi menulis cerita tentang konflik atau tidak. Setelah ia dapati aku mengurungkan niatku, ia tertawa sinis. Penuh kemenangan. Dan entah setan apa yang merasukinya, ia malah tak mau pergi lagi. Puncak masalahnya jadi klimaks sampai di tahap ini.

Membiarkan kepala dirasuki pikiran orang lain adalah kedunguan yang kadarnya berkali-kali lipat dari kedunguan seekor keledai.

Seorang pengarang yang pikirannya dikuasai oleh tokoh fiksinya sendiri, tokoh fiksi yang tak jadi dituliskannya, malah mendudukkan si pengarang itu berada jauh di bawah keledai. Jika pun mau disejajarkan dengan sesuatu, barangkali ia hanya berada di posisi yang sama dengan biawak. Dan mana mungkin aku mau disamakan dengan seekor keledai alih-alih lagi dengan biawak.

Karenanya aku berusaha sekuat tenaga melawan tentara yang telah menjadikan kepalaku sebagai baraknya. Hal yang kemudian membuatku benar-benar jadi mengarang satu cerita. Cerita yang tak lagi mengambil setting masa konflik tapi si tentara yang bersarang di kepala tetapi kujadikan sebagai tokoh utama. Mau tahu ceritanya bagaimana? Sila baca sendiri cerita berjudul ini. Matinya Praka Petroes Pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan.

 

Image sources: pexels, pexels.


Posted from my blog with SteemPress : http://bookrak.kanotbu.com/membunuh-tokoh-fiksi-dalam-kepala-2/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Amboi...! Kujadi penasaran! Meluncur dulu ke cerita itu. Ah, tak jadi kerja deh aku ini, dek! Haha

·

Jangan sampe keganggu kerjaannya, kak. 😁😁😁

mengigit kali njoe... hahaha

·

Berhadapan dengan tentara soalnya, bang. Daripada keduluan digigit. Haha

dalam alam khayali pun berurusan dengan tentara bisa menimbulkan malapetaka

Bahahahahhahahaha


Postingan ini telah dibagikan pada kanal #Bahasa-Indonesia di Curation Collective Discord community, sebuah komunitas untuk kurator, dan akan di-upvote dan di-resteem oleh akun komunitas @C-Squared setelah direview secara manual.
This post was shared in the #Bahasa-Indonesia channel in the Curation Collective Discord community for curators, and upvoted and resteemed by the @c-squared community account after manual review.