Sepiring Sate Matang yang Bukan di Matang

in culiner •  2 months ago

Makan Sate Matang adalah hal yang mesti dicoba kalau anda hidup di luar Aceh dan ada kesempatan berkunjung ke Aceh. Dari namanya saja dapat kita tahu kalau kuliner berbahan daging kambing itu memang awal sekali dirintis oleh warga Matang Gelumpang Dua, Bireuen. Wikipedia bilang, itu sate mulai dikenal sekira tahun 90-an. Di kota asalnya saja, sekarang ada banyak warung yang menjualnya.

Selain di tempat asal, Sate Matang juga mudah dijumpai di Banda Aceh, terutama di kawasan Rex Peunayong. Selain di Rex, ini sate juga ada di sejumlah lokasi lain, baik di warung kopi atau pusat keramaian. Untuk mengenalinya gampang saja, cukup melihat tulisan 'Sate Matang' di gerobak. Anda mendekat dan segera akan dilayani dengan ramah.

Seperti pengalaman saya semalam saat berkunjung ke Rex Peunayong. Saya malam itu diajak teman keliling Kota Banda Aceh yang berujung pada duduk manis di meja warung yang menjual Sate Matang. Sebelum dan saat 'atribut' sate diangkat, beberapa gambar pun kuabadikan untuk Steemian dan untuk tulisan ini.

Ada ramai orang di meja warung tempat kami duduk. Pekerja warung juga kulihat sangat sibuk melayani pelanggan. Semua mereka kompak berbaju hijau. Beberapa dari pekerja juga menyelipkan handuk kecil di saku celana atau leher untuk menyeka keringat. Maklum saja, mereka seperti tidak pernah berhenti bergerak melayani tamu.

Semenit aku di sana, satu rombongan asal Malaysia pun turun dari bus pariwisata. Ramai-ramai mereka menyusuri trotoar dan memilih warung sate untuk wisata kulinernya.

Semua keadaan di sekeliling seperti kuabaikan begitu saja kala pekerja warung mulai menyuguhkan nasi putih dah kuah sate di atas meja. Sayangnya sate belum datang, sejenak lagi kami harus bersabar untuk menikmati Sate Matang. Menunggu sate datang, es teh di meja pun kujadikan pelampiasan mengusir haus yang tiba-tiba saja datang.

Sepuluh menit berselang, sate dan bumbu kacang pun datang barengan dibawa pelayan. Ini saatnya menikmati sate yang sedari tadi sudah kurindukan. Persis seperti dua pasangan manusia yang sedang melepas rindu sambil bercengkrama tentang cinta. Satu dari perempuan muda itu sempat melirik ke arahku begitu ia tahu aku memperhatikan tingkah polahnya. Segera tatapan kupindah ke tusuk sate.

Satu persatu dengan teliti daging kucabut dari tusuk sate, semuanya ada sepuluh tusuk, tiap tusuk ada tiga daging. Semua daging kucampur dengan bumbu kacang. Sebelumnya, nasi juga sudah kucampur dengan kuah khas Sate Matang. Kini tinggal melahapnya saja. “Ini waktunya makan malam,” pikirku.

Perut sudah kenyang, kini tinggal membayar saja. Untuk tiga porsi sate plus satu gelas teh hangat dan es teh, total 83 ribu rupiah. Jumlah itu dibayar tunai oleh kawanku. Terimakasih kawan!.[]

@pieasant

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Sate itu pasti setengah matang, karena sate matang bukan di matang

·

Hahahaha...betul bg...