Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh atau lengkapnya disebut dengan Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang berada di Pulau Sumatera khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam dengan ibukota kerajaan terletak di Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh sekarang). Sultan pertama yang memerintah kerajaan Aceh Darussalam ialah Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1514-1528 M.
Kerajaan Aceh Darussalam terbentuk menjelang runtuhnya kerajaan Samudera Pasai. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Samudera Pasai pada tahun 1360 M ditaklukkan oleh Majapahit. Setelah saat itu, kerajaan Samudera Pasai terus mengalami kemunduran. Jadi dapat dikatakan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari kerajaan Samudera Pasai yang didirikan dengan tujuan untuk meraih kembali kegemilangan kerajaan Islam di Nusantara.
Kerajaan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan yang terletak sangat strategis dalam jalur pelayaran. Hal ini membuat Kerajaan ini mempunyai andil yang sangat besar di mata dunia. Keberadaan kerajaan Aceh Darussalam yang pada saat itu merupakan kerajaan besar yang berkuasa mempengaruhi kehidupan-kehidupan Kerajaan Aceh, seperti kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Artikel Penunjang : Sejarah Masuk dan Berkembangan Islam di Indonesia
A. KEHIDUPAN POLITIK
Menurut Kitab Bustanus Salatin karangan Nuruddin Ar-Raniry, kerajaan Aceh berdiri setelah berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Pedir. Berikut raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam yaitu :
- Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)
Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Aceh dapat memperluas area kekuasaan bahkan sampai ke Pattani, Thailand. Kerajaan-kerajaan lain seperti Kerajaan Peurelak (Aceh Timur), Kerajaan Pedir (Pidie), Kerajaan Daya (Aceh Barat Daya), dan Kerajaan Aru (Sumatera Utara) berhasil ditaklukkan dari kekuasaan Portugis.
Sultan Ali Mughayat Syah dikenal sangat anti dengan Portugis. Hal ini diketahui dengan berhasilnya gempuran demi gempuran yang dilakukan oleh pasukan Kerajaan Aceh dalam memukul mundur Portugis sampai ke India. Di akhir masa jabatannya, Kerajaan Aceh Darussalam sudah memperoleh kekuasaan mencakup hampir separuh wilayah Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya, hingga ke Pattani, Thailand Selatan.
Beliau juga menerapkan dasar-dasar politik luar negeri Kerajaan Aceh Darussalam yang meliputi :
Mencukup kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pada pihak luar
Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara
Bersikap waspada terhadap kolonial Barat
Menerima bantuan tenaga ahli dari luar, dan
Menjalankan dakwaj Islam ke seluruh Nusantara.
- Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
Sultan Salahuddin selama memerintah tidak dapat berbuat banyak untuk kemajuan Kerajaan Aceh Darussalam. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosotan yang tajam. Akibatnya, beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama Alaudin Riayat Syah Al-Kahar.
- Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar (1537-1568 M)
Pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, Kerajaan Aceh Darussalam melakukan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bidang. Beliau juga berusaha untuk melakukan perluasaan kekuasaan ke Kerajaan Malak, akan tetapi usaha tersebut mengalami kegagalan. Di akhir masa jabatannya, pemerintahan Kerajaan Aceh mengalami masa suram, dimana banyak terjadi pemberontakan dan perebutan kekuasaan.
- Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)
Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Darussalam mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh menjadi kerajaan yang besar dan berkuasa atas perdagangan Islam di dunia. Untuk mencapai masa kejayaan ini, Sultan Iskandar Muda menaklukkan kerajaan Johor dan Portugis di Semenanjung Malaya. Dengan dikuasainya daerah ini, maka daerah-daerah perdagangan semakin luas dan juga daerah-daerah penghasil lada dapat dikuasai.
Permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli rempah-rempah dari Kerajaan Aceh Darussalam ditolak oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa kekuasannya, terdapat dua ahli tasawuf di Aceh, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah As-Sumaterani dan Syech Ibrahim Asy-Syamsi. Setelah Sultan Iskandar muda meninggal, maka kekuasaannya beralih ke menantunya, Iskandar Tsani.
Berikut berturut-turut raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu :
- Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)
- Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
- Sultan Salahuddin Riayat Syah Al-Kahar (1537-1568 M)
- Sultan Sri Alam (1575-1576 M).
- Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
- Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
- Sultan Buyong (1589-1596)
- Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
- Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
- Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
- Iskandar Thani (1636-1641).
- Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
- Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
- Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
- Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
- Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
- Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
- Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
- Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
- Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
- Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
- Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
- Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
- Sultan Badr al-Din (1781-1785)
- Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
- Alauddin Muhammad Daud Syah.
- Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
- Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
- Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
- Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
- Sultan Mansur Syah (1857-1870)
- Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
- Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
B. KEHIDUPAN EKONOMI
Perputaran roda ekonomi masyarakat Aceh pada masa Kerajaan Aceh Darussalam terletak di bidang pelayaran dan perdagangan. Perkembangan pesat yang diperoleh oleh Kerajaan Aceh dalam bidang ekonomi tidak terlepas dari pengaruh perluasan kekuasaan yang dilakukan oleh raja-raja Aceh ke daerah-daerah yang banyak menghasilkan lada dan menjadi jalur pelayaran dunia. Akibat perluasan kekuasaan ini, Aceh pada masa itu menjadi tempat transit sebelum para pedagang dunia melanjutkan perjalanan ke bagian Barat.
Lada dan emas menjadi komoditas utama bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Daerah di sekitar Semenanjung Malaka yang banyak menghasilkan lada dan timah membawa keuntungan yang amat besar bagi Kerajaan Aceh. Dengan berkembangnya roda ekonomi Kerajaan Aceh, maka mereka dapat membangun armada-armada perang yang hebat. Berikut merupakan beberapa factor yang menguntungkan bagi Aceh dalam membangun perekonomiannya, yaitu :
letak Ibukota Kerajaan Aceh yang sangat strategis, yang berada di pintu gerbang pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan ke Malaka, China, atau Jawa.
Daerah Aceh yang menjadi lumbung lada. Lada dapat tumbuh subur di Aceh. oleh Karen aitu, lada merupakan komoditi ekspor utama bagi Kerajaan Aceh Darussalam
Pelabuhan Aceh memiliki persyaratan yang baik bagi pelabuhan internasional. Pelabuhan Aceh memiliki pelindung seperti Pulau Weh, Pulau Nasi, dan Pulau Breuh dari ancaman gelombang besar.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menjadi keuntungan tersendiri bagi Kerajaan Aceh. Pedagang-pedagang Islam tidak mengakui keberadaan Portugis, akibatnya mereka banyak melakukan perdagangan ke Aceh.
C. KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA
Kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang memiliki sistem pemerintahan seperti layaknya pemerintahan modern. Hal ini tentu dipengaruhi oleh letaknya yang strategis berada di wilayah perdagangan dunia. Kehidupan sosial budaya masyarakat Kerajaan Aceh sangat kental dengan nuansa Islamis. Terdapat satu buah hukum adat yang melandasi kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh pada saat itu, yaitu Qanun Meukuta Alam Al-Asyi.
Menurut Qanun Meukuta Alam Al-Asyi, pengangkatan sultan haruslah semufakat dengan hukum adat. Oleh karena itu, pada saat pengangkatan atau pelantikan sultan, sultan harus berdiri di atas tabal, sedangkan ulama yang memegang Al-Quran berdiri di sebelah kanan, dan perdana menteri yang memegang pedang berdiri di sebelah kiri. Beberapa kewenangan yang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al-Asyi ialah :
Mengangkat panglima sagi dan ulebalang, pada saat pengangkatan mereka mendapat kehormatan bunyi dentuman meriam sebanyak 21 kali;
Mengadili perkara yang berhubungan dengan pemerintahan;
Menerima kunjungan kehormatan termasuk pedagang-pedagang asing;
Mengangkat ahli hukum (ulama);
Mengangkat orang cerdik pandai untuk mengurus kerajaan;
Melindungi rakyat dari kesewenang-wenangan para pejabat kerajaan.
Dalam bidang sosial, terdapat istilah Teuku yang berarti golongan kaum bangsawan yang memegang pemerintahan dan kekuasaan sipil. Sedangkan Teungku adalah golongan ulama yang memegang peranan sebagai pemuka dan pengambil keputusan penting yang berkaitan dengan kehidupan beragama.
Sultan Iskandar Muda berhasil menanamkan jiwa berdasarkan Islam di dalam kehidupan masyarakat Aceh. selain itu, masyarakat Aceh juga memiliki jiwa merdeka, membangun rasa kesatuan dan persatuan, serta anti penjajahan yang tinggi. Dengan jiwa dan semangat ke-Islaman inilah, bangsa-bangsa Barat tidak mampu menguasai Aceh secara menyeluruh, termasuk Belanda yang berperang puluhan tahun dan merupakan peperangan terlama Belanda dalam sejarah.
Artikel Penunjang : Sejarah Kerajaan Samudra Pasai
D. RUNTUHNYA KERAJAAN ACEH DARUSSALAM
Setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda, maka penggantinya yaitu Sultan Iskandar Tsani masih dapat mempertahankan kejayaan kerajaan. Akan tetapi, sepeninggal Sultan Iskandar Tsani, Kerajaan Aceh Darussalam mulai dilanda konflik internal, dengan penyebabnya yaitu penolakan ulama-ulama terhadap naik tahtanya Sultanah Safiatuddin.
Pada paruh abad ke 18, Aceh sudah memulai ketegangan dengan Inggris dan Belanda yang memuncak pada abad ke 19. Pada akhir abad ke 18, wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh di wilayah Semenanjung Malaya yaitu Kedah dan Pulau Pinang berhasil direbut oleh Inggris. Puncaknya, pada 26 Maret 1873 M, Belanda menyatakan maklumat perang terhadap kerajaan Aceh. berturut-turut pada tahun 1883, 1892, dan 1893 Belanda menyerang Aceh, akan tetapi usaha ini masih membuahkan kegagalan. Belanda belum mampu untuk menguasai Aceh. Akan tetapi, kondisi ini berubah setelah seorang sarjana dari Universitas Leiden bernama Snouck Hurgronye mengusulkan perubahan taktik perang kepada pemerintahan Belanda. Dia mengatakan bahwa basis kekuatan Kerajaan Aceh bukanlah terletak pada kekuasaan sultan, akan tetapi terletak di tangan para ulama. Oleh karena itu, jika ingin menyerang Aceh, maka hancurkanlah dahulu ulama-ulama Aceh yang ada.
Taktik ini akhirnya membuahkan hasil yang menyenangkan bagi pihak Belanda. Pada tahun 1903, diangkatlah Jenderal J.B Van Heutz sebagai gubernur. Seiring dengan ini, Sultan M.Daud telah menyerah kepada Belanda, dan pada tahun 1904, hampir seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh telah diambil alih oleh Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya, kerajaan Aceh tidak [ernah menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada pihak Belanda. Masih terdapat perlawanan-perlawanan kecil di berbagai daerah Aceh untuk mengusir Belanda.
Sebagai catatan, perang Belanda dengan Kerajaan Aceh merupakan perang terlama yang dilalui oleh Belanda sepanjang sejarah. Banyak sekali militer Belanda yang menuai ajal dengan senjata tentara-tentara Aceh. bahkan, empat jenderal Belanda tewas di tanah Aceh, yaitu Mayor Jenderal J.H.R. Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni, dan Jenderal J.J.K de Moulin.
E. PENINGGALAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM
- Mesjid Raya Baiturrahman
Mesjid kebanggan rakyat Aceh ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda memerinbtah kerajaan Aceh. Sultan membangun masjid ini sekitar tahun 1612 Masehi yang terletak di Banda Aceh. masjid ini sempat dibakar oleh Belanda pada saat Agresi Militer Belanda II, namun Belanda membangunnya kembali untuk meredam kemarahan rakyat Aceh - Benteng Indra Patra
Sebenarnya, benteng ini telah dibangun sejak masa Kerajaan Lamuri berkuasa. Kerajaan Lamuri ialah kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Benteng ini memiliki peranan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan-serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. Sekarang, benteng ini terletak di desa Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kab.Aceh Besar.
- Gunongan
Gunongan merupakan sebuah bangunan yang dibangun oleh Sultan Aceh untuk permaisurinya dari negeri Pahang. Pada saat itu, negeri Pahang telah takluk oleh kerajaan Aceh, dan seorang putri yang cantik dari kerajaan Pahang ditawan oleh Aceh. Sultan pada saat itu tertarik dan ingin mempersunting putri tersebut. Hingga akhirnya putri itu meminta dibuatkan sebuah taman yang sama persis dengan istana kerajaan nya dahulu untuk mengobati kerinduannya akan kerajaan Pahang.
The Sultanate of Aceh or the complete is called the Sultanate of Aceh Darussalam is an Islamic kingdom located on the island of Sumatra, especially in Nanggroe Aceh Darussalam with the capital of the kingdom is located in Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh now). The first Sultan who ruled the kingdom of Aceh Darussalam was Sultan Ali Mughayat Shah in 1514-1528 AD
The kingdom of Aceh Darussalam was formed before the collapse of the Pasai Ocean kingdom. As recorded in history, Samudera Pasai in 1360 AD was conquered by Majapahit. After that time, the kingdom of Pasai Ocean continues to decline. So it can be said that the Kingdom of Aceh Darussalam is a continuation of the kingdom of Pasai Ocean established with the aim to regain the glory of the Islamic kingdom in the archipelago.
The kingdom of Aceh Darussalam is a very strategically located kingdom in the cruise line. This makes the Kingdom has a huge stake in the eyes of the world. The existence of the kingdom of Aceh Darussalam which at that time is a powerful kingdom affect the life of the kingdom of Aceh, such as political life, economic, social and cultural.
Supporting Articles: History of Entry and Development of Islam in Indonesia
A. POLITICAL LIFE
According to the Book of Bustanus Salatin by Nur al-Din Ar-Raniry, the Acehnese kingdom stood up after successfully escaping from the Kingdom of Pedir. Here are the kings who once ruled in the Kingdom of Aceh Darussalam namely:
- Sultan Ali Mughayat Shah (1514-1528 AD)
Sultan Ali Mughayat Shah was the first sultan to rule the Kingdom of Aceh Darussalam. Under his rule, the Kingdom of Aceh could expand the territory even to Pattani, Thailand. Other kingdoms such as the Peurelak Kingdom (East Aceh), Pedir Kingdom (Pidie), Daya Daya (Aceh Barat Daya), and the Kingdom of Aru (North Sumatra) were successfully conquered by Portuguese rule.
Sultan Ali Mughayat Shah is known to be very anti with the Portuguese. This is known by the successful assault for the onslaught of the forces of the Kingdom of Aceh in repelling the Portuguese to India. At the end of his term, the Kingdom of Aceh Darussalam has gained control of nearly half of Sumatra, parts of the Malay Peninsula, to Pattani, Southern Thailand
He also applies the basics of foreign policy of the Kingdom of Aceh Darussalam which includes:
Self-sufficient needs, so do not depend on outsiders
Make closer friendship with the Islamic kingdoms in the archipelago
Be wary of Western colonialism
Accepting the help of outside experts, and
Running Islamic dakwaj throughout the archipelago.
- Sultan Salahuddin (1528-1537 AD)
Sultan Salahuddin during his reign can not do much for the progress of the Kingdom of Aceh Darussalam. The state of the empire began to waver and experienced a sharp decline. As a result, he was replaced by his brother named Alaudin Riayat Shah Al-Kahar.
- Sultan Alaudin Riayat Shah Al-Kahar (1537-1568 AD)
During the reign of Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, the Kingdom of Aceh Darussalam made various forms of change and improvement in all fields. He also sought to extend power to the Kingdom of Malak, but the business failed. At the end of his term, the government of the Kingdom of Aceh experienced a bleak period, in which there were many rebellions and power struggles.
- Sultan Iskandar Muda (1607-1636 AD)
Under the reign of Sultan Iskandar Muda, the Kingdom of Aceh Darussalam experienced its glory. The kingdom of Aceh became a large and powerful kingdom over the world's Islamic trade. To achieve this heyday, Sultan Iskandar Muda conquered the kingdom of Johor and Portugal in the Malay Peninsula. With the control of this area, the broader trade areas as well as the pepper-producing regions can be mastered
British and Dutch requests to buy spices from the Kingdom of Aceh Darussalam were rejected by Sultan Iskandar Muda. During his reign, there were two Sufis in Aceh, Syech Syamsuddin bin Abdullah As-Sumaterani and Syech Ibrahim Asy-Syamsi. After the young Sultan Iskandar died, his powers turned to his son-in-law, Iskandar Tsani.
Here are the rulers who once ruled the Kingdom of Aceh Darussalam, namely:
- Sultan Ali Mughayat Shah (1514-1528 AD)
- Sultan Salahuddin (1528-1537 AD)
- Sultan Salahuddin Riayat Shah Al-Kahar (1537-1568 AD)
- Sultan Sri Alam (1575-1576 AD).
- Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
- Sultan Ala 'al-Din Mansur Shah (1577-1589)
- Sultan Buyong (1589-1596)
- Sultan Ala 'al-Din Riayat Shah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
- Sultan Ali Riayat Shah (1604-1607)
- Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
- Iskandar Thani (1636-1641).
- Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
- Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
- Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Shah (1678-1688)
- Sri Ratu Kamalat Shah Zinat al-Din (1688-1699)
- Sultan Badr al-Alam Sharif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
- Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
- Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
- Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
- Sultan Shams al-Alam (1726-1727)
- Sultan Ala 'al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
- Sultan Ala 'al-Din Johan Shah (1735-1760)
- Sultan Mahmud Shah (1760-1781)
- Sultan Badr al-Din (1781-1785)
- Sultan Sulaiman Shah (1785- ...)
- Alauddin Muhammad Daud Shah.
- Sultan Ala 'al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) and (1818-1824)
- Sultan Sharif Saif al-Alam (1815-1818)
- Sultan Muhammad Shah (1824-1838)
- Sultan Sulaiman Shah (1838-1857)
- Sultan Mansur Shah (1857-1870)
- Sultan Mahmud Shah (1870-1874)
- Sultan Muhammad Daud Shah (1874-1903)
B. ECONOMIC LIFE
The rotation of the economic wheel of the Acehnese community during the Aceh Darussalam Kingdom lies in the field of shipping and trading. The rapid development gained by the Aceh Empire in the economic field is inseparable from the influence of the expansion of power by the Acehnese kings to areas that produce much of the pepper and become the world's shipping lanes. Due to this expansion of power, Aceh at that time became a place of transit before the world traders went to the West.
Pepper and gold became the main commodity for the Kingdom of Aceh Darussalam. The area around the Malacca Peninsula that produces pepper and tin brings enormous profits to the Kingdom of Aceh. With the development of the economic wheel of the Kingdom of Aceh, then they can build great fleets of war. Here are some of the factors favorable to Aceh in building its economy, namely:
The location of the capital of the Kingdom of Aceh is very strategic, which is at the gateway of the voyage from India and the Middle East that will be to Malacca, China, or Java.
Aceh area which became a pepper barn. Pepper can flourish in Aceh. by Karen aitu, pepper is a major export commodity for the Kingdom of Aceh Darussalam
The Port of Aceh has good requirements for international ports. The Port of Aceh has a protector such as Pulau Weh, Pulau Nasi, and Pulau Breuh from the threat of big waves.
The fall of Malacca into the hands of the Portuguese became a distinct advantage for the Kingdom of Aceh. Islamic traders do not recognize the existence of Portuguese, consequently they trade a lot to Aceh.
C. SOCIAL CULTURAL LIVES
The kingdom of Aceh is a kingdom that has a system of government like a modern government. This is certainly influenced by its strategic location in the world trade area. The socio-cultural life of the people of the Kingdom of Aceh is very thick with the nuances of Islamists. There is one customary law that underlies the socio-cultural life of the people of Aceh at that time, namely Qanun Meukuta Alam Al-Asyi.
According to Qanun Meukuta Alam Al-Asyi, the Sultan's appointment should be semi-legal with customary law. Therefore, at the time of appointment or inauguration of the sultan, the sultan must stand on the tabal, while the cleric holding the Koran stands on the right, and the prime minister holding the sword is standing on the left. Some of the authorities set forth in Qanun Meukuta Alam Al-Asyi are:
Lifting commander of sagi and ulebalang, at the time of appointment they have the honor of the sound of cannon boom 21 times;
Judging cases related to government;
Receiving honorary visits including foreign merchants;
Appoint a jurist (ulama);
Lifting clever people to take care of the kingdom;
Protect the people from the arbitrariness of the royal officials.
In the social field, there is the term Teuku which means the class of nobles who hold government and civil power. While Teungku is a group of scholars who play the role as leaders and important decision makers related to religious life.
Sultan Iskandar Muda succeeded in instilling a soul based on Islam in the life of the people of Aceh. In addition, the people of Aceh also have an independent spirit, building a sense of unity and unity, and anti-colonialism is high. With this spirit and spirit of Islamanism, the Western nations are incapable of fully controlling Aceh, including the Dutch who fought for decades and was the longest-running Dutch war in history.
Supporting Articles: History of Pasai Ocean Kingdom
D. THE ROW OF THE KINGDOM OF ACEH DARUSSALAM
After the death of Sultan Iskandar Muda, his successor Sultan Iskandar Tsani was able to maintain the kingdom's glory. However, after the death of Sultan Iskandar Tsani, the kingdom of Aceh Darussalam began to be plagued by internal conflicts, with the cause of the rejection of the scholars against the ascendancy of Sultanah Safiatuddin.
In the half of the 18th century, Aceh began tensions with Britain and the Netherlands that culminated in the 19th century. At the end of the 18th century, the territory of the Kingdom of Aceh in the Malay Peninsula region of Kedah and Pulau Pinang was captured by Britain. The peak, on March 26, 1873 AD, the Netherlands declared war on the kingdom of Aceh. respectively in 1883, 1892, and 1893 the Netherlands attacked Aceh, but this effort still led to failure. The Dutch have not been able to gain control of Aceh. However, this condition changed after a scholar from Leiden University named Snouck Hurgronye proposed a change of war tactics to the Dutch government. He said that the power base of the Kingdom of Atjeh is not the sultan's power, but lies in the hands of the scholars. Therefore, if you want to attack Aceh, then destroy the existing ulemas of Aceh.
This tactic finally produced a pleasant result for the Dutch side. In 1903, General J.B Van Heutz was appointed governor. Along with this, Sultan M.Daud had surrendered to the Dutch, and in 1904, almost the entire territory of the Kingdom of Aceh had been taken over by the Dutch. Nevertheless, in fact, the Acehnese kingdom did not give full sovereignty to the Dutch. There are still small resistance in various parts of Aceh to expel the Netherlands.
For the record, the Dutch war with the Kingdom of Aceh is the longest war traveled by the Dutch throughout history. Lots of Dutch military are dying with weapons of Aceh soldiers. in fact, four Dutch generals were killed in Aceh land, Major General J.H.R. Kohler, Major General J.L.J.H. Pel, Demmeni, and General J.J.K de Moulin.
E. RECOVERY OF THE KINGDOM OF ACEH DARUSSALAM
- Baiturrahman Great Mosque
Mosque pride of the people of Aceh was built during the reign of Sultan Iskandar Muda meninbtah kingdom of Aceh. Sultan built this mosque around the year 1612 AD located in Banda Aceh. this mosque was burned by the Dutch at the time of Dutch Military Aggression II, but the Dutch rebuild it to dampen the anger of the people of Aceh - Fortress Indra Patra
Actually, this fort has been built since the time of the Lamuri Kingdom in power. The kingdom of Lamuri is the oldest Hindu kingdom in Aceh, precisely since the 7th century AD. This fortress has an important role in protecting the people of Aceh from the cannon attacks launched by Portuguese warships. Now, this fortress is located in Ladong village, Mesjid Raya Subdistrict, Great Aceh District. - Gunongan
Gunongan is a building built by the Sultan of Aceh for his queen from the land of Pahang. At that time, the land of Pahang was subdued by the kingdom of Aceh, and a beautiful daughter from the Pahang kingdom was captured by Aceh. Sultan at that time interested and want to marry the princess. Until finally the princess asked to be made a garden that is exactly the same as his royal palace before to treat his longing for the kingdom of Pahang.
Congratulations @aam1994! You have completed some achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :
Click on any badge to view your own Board of Honor on SteemitBoard.
For more information about SteemitBoard, click here
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word
STOP