Kajian Sharim Al-battar | Dalil Hadist Mengenai Keberadaan Sihir | bag 1

in aceh •  3 months ago


Dalil Hadist


1.Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha ia berkata :

سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي، لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ: يَا عَائِشَةُ، أُشْعِرْتُ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؛ أَتَانِي رَجُلانِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ فَقَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ، فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُؤوسَ نَخْلِهَا رُؤوسُ الشَّيَاطِينِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلا اسْتَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: قَدْ عَافَانِي اللَّهُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا، فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ.

"Telah disihir Rasulullah ﷺ oleh seorang lelaki dari Bani Zuraiq, dikatakan bahwa namanya adalah Labib Ibnul A’sham, sampai Rasulullah ﷺ mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya, sampai-sampai beliau pada suatu hari atau pada suatu malam dan beliau di sisiku, akan tetapi beliau berdoa dan berdoa, kemudian beliau berkata: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu merasakan bahwasanya Allah telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepada-Nya, telah datang kepadaku dua orang lelaki, lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku, dan yang lain di sisi kakiku, lalu berkata salah seorang dari keduanya kepada kawannya: Apa yang membaringkan orang ini?

Yang satunya menjawab: “Disihir”.

Yang satunya lagi bertanya: “Siapa yang menyihirnya?”.

Yang satunya menjawab: “Labib Ibnul A’sham”.

Yang satunya bertanya lagi: “Pada sesuatu apa (dia disihir)?”.

Yang satunya menjawab: “Pada sisir dan apa yang menyertainya dan pada sisik dari pelepak korma”.

Yang satunya bertanya: “Dimana dia?”.

Yang satu lagi menjawab: “Di sumur Dzarwan”.

Maka Rasulullah ﷺ bersama beberapa sahabatnya mendatanginya, lalu beliau berkata: “Seakan-akan airnya seperti air bekas yang berwarna kekuning-kuningan, atau seakan-anak punuk-punuk pelepak kormanya seperti kepala-kepalanya syaitan”. Aku bertanya: “Apakah engkau mengeluarkannya?”, beliau menjawab: “Sungguh Allah telah menyembuhkanku, dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada kejelekannya”. Maka beliau memerintahkan dengannya lalu ditimbunlah."[1]

Makna Hadist

Orang yahudi (semoga Allah melaknat mereka) bersekongkol dengan Labid Ibnul A'sham,dia ini merupakan ahli sihir para yahudi,agar melakukan sihir kepada Rasulullah ﷺ dan mereka membayarnya 3 dinar.

Bangsat itu melakukan aksi sihirnya pada rambut Rasulullah ﷺ yang konon katanya di dapatkan dari seorang anak perempuan yang pernah datang kerumah Rasulullah ﷺ . Lalu di ikatkan pada rambut itu akan sihir terhadap Rasulullah ﷺ dan kemudian sihir tersebut diletakkan didalam sumur Dzarwan.

Dari semua jalur hadist ini,secara dhahirnya bahwa sihir ini merupakan jenis sihir yang dipasang antara suami dan istrinya.Sehingga Rasulullah ﷺ mengangankan bahwa dia sanggup untuk berkumpul dengan salah satu istrinya,ternyata ketika ia mendatangi istrinya dia tidak sanggup untuk itu.

Sihir ini tidak mempengaruhi akalnya,tingkahnya dan tidak pula prilakunya hanya sedikit saja seperti yang telah disebutkan tadi.

Para ulama berselisih pendapat tentang masa sihir ini,ada yang mengatakan 40 hari ada juga yang mengatakan bukan 40 hari,Allah lah yang lebih mengetahui.

Kemudian Nabi ﷺ berdo'a kepada Tuhannya dan sangat memohon dalam do'anya,lalu Allah mengabulkan do'anya dan menurunkan dua orang malaikat,salah satu duduk di kepada Nabi ﷺ dan yang satunya lagi duduk di dua kakinya.

Salah satunya bertanya : "apa yang terjadi dengannya?"

yang satunya lagi menjawab : "dia terkena sihir."

Salah satunya bertanya : "Siapa yang mensihirnya?"

Yang satunya lagi menjawab : "Labid Ibnul A'sham orang yahudi."

Kemudian Malaikat itu menjelaskan bahwa Labid mensihir Rasulullah ﷺ pada sebuah sisir dan apa yang tersangkut padanya berupa rambut Nabi ﷺ dan ia meletakkan pada sisik pelepak kurma seperti yang telah disebutkan,agar pengaruhnya lebih kuat dan lebih hebat.Kemudian Labit menimbunnya di bawah batu di dalam sumur Dzarwan.

Ketika dua Malaikat tersebut telah mendiagnosa keadaan Nabi ﷺ ,maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengeluarkan sihir tersebut dan menguburnya,dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ memerintahkan untuk membakarnya.

Dari semua jalur hadist ini jelaslah bahwa orang yahudi membuat sihir jenis yang paling hebat kepada Nabi ﷺ karna mereka bermaksud untuk membunuh Nabi ﷺ dan sihir yang mereka buat merupakan jenis sihir yang dapat mematikan sebagaimana yang telah ma'lum,tetapi Allah melindungi Nabi ﷺ lalu meringankan sihir tersebut kepada sihir yang paling ringan yaitu Ar-rabt (impotensi gangguan jin).

Syubhat dan Jawabanya

Al-mazuriy semoga Allah merahmatinya,ia berkata : Para ahli bid'ah mengingkari hadist ini dari segi hadist ini menjatuhkan derajat kenabian dan bisa menimbulkan keraguan pada kenabian,dan dari segi memperbolehkannya terjadi pada Nabi ﷺ dapat mencegah kepercayaan pada syari'at.Mereka berkata semoga yang benar ketika itu Nabi ﷺ berangan-angan bahwa Jibril mendatanginya padahal disana tidak ada Jibril dan atau Jibril membawa wahyu kepadanya padahal tidak.

Al-mazuriy menjawab : Apa yang mereka katakan salah total,karena dalil kerasulan yaitu mu'jizat merupakan bukti benarnya Nabi ﷺ terhadap apa yang disampaikannya dari Allah ta'ala,dan karna terjaganya Nabi ﷺ terhadap apa yang disampaikannya.Memperbolehkan apa yang dalil mengatakan sebaliknya,itu merupakan kesalahan.[2]

Penjelasan Penerjemah : Ahli bid'ah beranggapan jika Nabi bisa sakit karena sihir maka akan menjatuhkan derajat kenabian,dan membuat ummat menjadi ragu atas kenabiannya dan syari'at yang dibawanya tidak dipercaya,sehingga mereka menafsirkan hadis diatas dengan maksud yang lain (Jibril datang padahal tidak).

Sementara sanggahan Al-mazuriy bahwa sakit tak dapat menjatuhkan derajat kenabian,cukuplah mu'jizat yang menjadi bukti bahwa apa yang disampaikannya benar dari Allah ta'ala,sehingga menafsirkan hadist diatas dengan maksud yang lain yang bertolak belakang dengan maksud hadist itu sendiri,itu merupakan kesalahan.

Berkata Abu Al-jukniy Al-yusufiy : Adapun Nabi ﷺ jatuh sakit karena sihir tidak dapat mengurangi derajat kenabian,karena sakit yang menimpa para Nabi tidak mengurangi derajat kenabian ketika di dunia,sementara di akhirat derajat mereka bertambah.

Karenanya ketika oleh sebab sihir Nabi ﷺ mengangan-angankan bahwa dia melakukan sesuatu dari perkara dunia padahal ia tidak melakukannya,lalu Allah menghilangkan seluruh penyakit itu dengan sebab Allah nampakkan kepadanya tempat sihir tersebut dan ia mengeluarkan dan menguburkannya maka bukanlah kekurangan yang dapat dikaitkan dengan kerasulan,karena sakit oleh sebab sihir sama seperti penyakit-penyakit yang lain.

Sihir itu tidak menguasai akalnya tetapi hanya dhahir jasadnya saja seperti penglihatannya sekira ia berangan-angan seakan telah menyentuh istrinya padahal tidak,kejadian ini disa'at sakit tidaklah mengapa.

Abu Al-jukniy Al-yusufiy juga berkata : yang mengherankan terhadap orang yang menyangka bahwa Nabi ﷺ jatuh sakit karena sihir merupakan keburukan terhadap kerasulannya disamping terdapat dalil yang jelas dalam Al-quran tentang kisah Nabi Musa 'alaihissalam bersama penyihir suruhan Fir'aun,sekira Nabi Musa berangan-angan karena sihir mereka bahwa perlawanan mereka membuatnya harus pergi,lalu Allah menenangkannya sebagaimana yang diterangkangkan dalam firman-Nya :

قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنتَ الْأَعْلَىٰ (68) وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ (69)فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ (70)

"Kami berkata: "janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).(68) Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".(69)Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa"(70)."[3]

Malah tidak seorang pun ahli ilmu dan ahli zaka' (orang cerdas) yang mengatakan bahwa apa yang di angan-angankan oleh Nabi Musa merupakan keburukan terhadap kerasulan Nabi Musa.

Bahkan kejadian seperti ini terhadap para Nabi 'alaihimusshalatu wassalam dapat menambah kekuatan iman mereka karena Allah ta'ala menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka,dan memberi mereka kejadian luar biasa dengan mu'jiziat yang mempesona dan menggagalkan para penyihir dan orang-orang kufur,dan menjadikannya sebagai akibat bagi orang-orang yang bertaqwa sebagaimana yang nyata didalam ayat-ayat kitab yang nyata.[4]


Foot Note:

  1. HR Al-bukhari dan Muslim
  2. Zaadul Muslim juz 4 hlm 221
  3. QS Thaha : 68-70
  4. Zaadul Muslim juz 4 hlm 221

Kurikulum :

  1. Muqaddimah Bag 1
  2. Muqaddimah Bag 2
  3. Defenisi Sihir
  4. Sekelumit Cara Penyihir Untuk Mendekatkan Diri Kepada Syaitan
  5. Dalil Al-quran Mengenai Keberadaan Jin dan Syaitan
  6. Dalil Hadist Mengenai Keberadaan Jin dan Syaitan
  7. Dalil Al-quran Mengenai Keberadaan Sihir

 


Posted from my blog with SteemPress : https://rhampagoe.000webhostapp.com/2018/08/kajian-sharim-al-battar-dalil-hadist-mengenai-keberadaan-sihir-bag-1

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!