"Ranup"
Sirih dalam bahasa aceh disebut “ranup” tebuat dari bahan pinang, gambir, cengkeh, dan dibalut dengan daut sirih merupakan makanan khas Aceh sejak dulu.
Sirih dalam kehidupan masyarakat Aceh juga sudah menjadi sebagai simbol untuk memuliakan tamu saat datang ke rumah.
“Sirih merupakan makanan khas masyarakat Aceh sejak dulu, biasanya setiap tamu yang datang ke rumah selalu dihidangkan ranup lam bate (ranup dalam wadah khusus) sebagai makanan untuk memuliakan tamu,”
sirih juga salah satu media untuk mengundang keluarga dan orang lain saat ada hajatan acara tertentu di rumahnya, seperti acara kenduri sunat, perkawinan dan sebagainya.
Dalam adat perkawinan di Aceh sirih menjadi salah satu mendia yang sangat penting, mulai dari saat acara lamaran seorang gadis, hingga berlanjut pada acara antar pengantin baik lintobaro maupun dara baro.
Seorang gadis di Aceh dianggap telah sah menjadi calon isteri seorang lelaki ditandai setelah diantar ranup ke rumahnya oleh keluarga pihak laki-laki.
“Di dalam bungkusan sirih yang diantar juga ada emas dan kain sebagi lamaran. Jadi kalau sudah ada acara antar sirih artinya si gadis telah ada yang punya.
Sirih yang diantar ke rumah calon pengantin wanita, baik pada saat acara pertunganan maupun acara antar pengantin laki-laki dan wanita itu nantinya akan dibagi-bagikan kepada seluruh keluarga dan kerabat yang mengikuti acara.
Semua daerah di Aceh memiliki adat bawa ranup baik pada saat acara lamaran maupun antar pengantin.
Photo by @ziakhalia