Dilepas, Perjuangan Tukik Dimulai
Sore itu, sambil duduk jongkok tiga puluh anak-anak sekolah dasar, masing-masing memegang satu bayi penyu (tukik) di bibir pantai Lambaro, Pulau Breuh, Aceh Besar. Di belakang mereka, berkumpul para orang tua dan tokoh masyarakat gampong. Anak-anak lain yang tidak kebagian kesempatan memegang Tukik, hanya dapat menonton ritual konservasi itu dari luar batas area pelepasan.
Aba-aba diteriakkan, anak-anak menjauhkan tangan dari karapas, tukik-tukik berjalan pelan ke arah pantai, suara gemuruh gelombang seperti memanggil bayi penyu yang baru beberapa hari menetas. Di pagar barisan, warga berteriak bersahutan, layaknya suasana perlombaan adu cepat. Ada tukik yang terus berjalan, ada yang tampak bingung dan ragu-ragu. Matahari senja menyaksikan nun jauh disana.
Beberapa menit berjalan, pergulatan pertama tukik-tukik selesai, jilatan gelombang berhasil menarik-narik penyu jenis Lekang itu untuk kemudian bergabung dengan satwa-satwa laut lainnya. Disinilah perjuangan sebenarnya dimulai. Jika tidak beruntung bayi penyu dapat berakhir di perut pemangsa, jika bernasib mujur mereka akan hidup puluhan tahun melanglang buana ke seluruh samudera, jika sudah waktunya, mereka akan kembali di tempat semula dilepas untuk menitip telur, lalu ke laut lepas lagi.
Pengembalian tukik berjumlah 35 ekor ke habitatnya itu, berasal dari penetasan telur yang dibuat penangkaran oleh Lembaga Ekowisata Pulo Aceh (LEPA). Melibatkan anak-anak, bukan tanpa alasan, ketua LEPA Muslem, berpendapat, umur anak-anak yang masih panjang, kelak akan menjaga keselamatan hidup Penyu dari kepunahan. Program ini juga menjadi edukasi untuk anak-anak dan masyarakat sekitarnya.








Bereh that zulham @zeds,
thenks bro!
Sama-sama bro, pat jinoe hana deuh2
Na di matang nyo bak king cofffee, jak kuno hai.