Seni Membakar Kopi
Pernah anda membawa mobil?. Saat membawa mobil, kita sudah paham semua spesipikasi mobil yang kita tunggangi. Dan penumpang merasa nyaman dan tenang. Kita sedang menyetir dengan seni. Tarikan gas, operan gigi dan menikung dengan satu kesatuan yang padu. Selaras.
Berbeda tentunya dengan supir angkutan yang mengejar target demi mendapatkan trip banyak dan tentu saja hasil akhirnya, uang yang banyak.
Tarikan gas dan operan gigi yang dipaksakan. Menikung membuat penumpang tak nyaman. Ada dua keadaan berbeda dari cara membawa mobil.
Begitu halnya dengan membakar kopi. Roasting. Membakar kopi tidaklah cukup memasukkan kopi dalam drum yang dibawahnya ada api menyala yang bisa distel.
Tentukan waktu yang diinginkan, kemudian santai menunggu kopi matang dan dinginkan.
Meroasting adalah seni. Disana, kita meletakkan akal dan hati. Mesin roasting bisa dikendalikan semua bagiannya. Kita memahami bahasa mesin roasting.
Demikian juga kopi yang kita roasting. Kita melihat warna, kekerasan dan jenis kopi. Kemudian kita satukan dengan spesipikasi mesin yang kita pakai.
Menaik dan turunkan suhu, mengatur air flow. Melihat perubahan warna dan mencium aroma yang keluar. Roaster adalah sutradara dari kopi.
Semua perubahan dibaca dengan skala waktu. Besarnya api dan kapasitas kopi serta putaran mesin (drum) permenit. Ilmiah dan sangat matematis.
Hasil akhirnya adalah rasa. Disana juga aroma dan body dari kopi yang kita roasting. Kompleksitas hingga kesan rasa kopi setelah kopi diteguk habis.
Kopi Arabika Gayo hampir memiliki semua koleksi rasa kopi dunia. Punya rasa dan aroma khas. Rasa aroma yang tentu saja sangat disukai. Rasa dan aroma ini, secara global. Muncul dari cara olah kopi gayo yang juga spesipik. Disebut Semi Washed.
Menurut Prof. Abu Bakar Karim, peneliti kopi gayo, semi washed hasilkan rasa dan aroma yang disukai peminum kopi. Cara olah ini berbeda dengan daerah lain dimana kopi dihasilkan.
Tanoh Gayo, menurut Fauzan Azima, memiliki lebih dari 153 varitas. Tersebar di tiga kabupaten pegunungan Aceh. Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues.
Ada tiga kriteria akhir dari meroasting kopi. Light, medium dan dark roast. Masing- masing negara di dunia punya style sendiri.
Pecandu kopi di Jepang, suka kopi dengan light roast. Di fase ini, kopi hasilkan semua potensi rasanya. Asam, manis, pahit, lemak dll.
Light roast, kimia pada kopi belum terbakar. Tapi kopi sedikit asam atau bahkan asam. Reaksi kopi pada tubuh juga jos. Cepat. Terasa adrenalin terpacu dan semangat yang lebih. Seperti doping. Tapi alami dan halalan thaiban.
Tingkat roasting kedua adalah medium. Fase ini paling banyak dipakai di gayo. Peminum kopi gayo tidak suka ada rasa asam pada kopinya. Medium, medium to dark, tingkatan kopi paling laris. Kopi gayo yang berat dan padat memerlukan pembakaran atau gongseng lebih lama. Sementara derajat roasting kopi terakhir adalah dark roast. Level ini disukai peminum kopi di Italy. Dark roast hasilkan rasa kopi yang flat atau biasa saja. Karena hampir semua kimia pada kopi sudah hangus terbakar. Di level mana seleramu minum kopi?...........
Posted using Partiko Android
